tirto.id - Iran mengumumkan rute alternatif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz untuk menghindari ranjau laut yang di jalur utama perairan tersebut. Pengumuman ini dikeluarkan setelah Iran mencapai kesepakatan dengan AS untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu.
Islamic Revolutionary Guard Corps Navy (IRGC Navy) menekankan adanya kemungkinan penyebaran berbagai jenis ranjau laut anti-kapal di jalur utama pelayaran (main traffic zone), yang berpotensi membahayakan keselamatan kapal-kapal yang melintas.
Untuk mengurangi risiko tersebut, seluruh kapal yang hendak transit diimbau agar mengikuti rute alternatif yang telah ditentukan dan berkoordinasi dengan pihak IRGC Navy selama pelayaran.
Jalur masuk (inbound) diarahkan dari Teluk Oman menuju ke arah utara mendekati Pulau Larak, kemudian dilanjutkan masuk ke kawasan Teluk Persia. Sementara itu, jalur keluar (outbound) ditetapkan dari Teluk Persia dengan melewati sisi selatan Pulau Larak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Teluk Oman.
Pengaturan ini bersifat sementara hingga pemberitahuan lebih lanjut. Tujuan utama pengumuman ini adalah untuk menjaga keselamatan navigasi serta meminimalkan risiko tabrakan dengan ranjau laut di tengah ketegangan militer yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Selat Hormuz Belum Dibuka
Kesepakatan gencatan senjata dicapai AS-Iran pada tanggal 7 April malam, hanya kurang dari satu jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil tindakan militer besar-besaran jika Iran tidak menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sejak awal Maret, Iran telah membatasi bahkan menutup sama sekali Selat Hormuz. Apa yang dilakukan Iran ini tentu mengganggu stok energi dunia karena perairan ini adalah jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Ditutupnya Selat Hormuz menyebabkan lonjakan tajam harga energi global, termasuk harga minyak dan gas dunia.
Dengan adanya pembukaan selama periode gencatan senjata ini, diharapkan arus perdagangan energi dapat kembali stabil, meskipun risiko keamanan tetap tinggi sehingga diperlukan pengalihan rute pelayaran sebagai langkah pencegahan.
Setelah serangan membabi buta Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) kemarin, Iran belum membuka Hormuz secara penuh.
Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu tidak sepakat dengan Iran dan Pakistan. Dalam kesempatan terpisah, keduanya menyatakan jika kesepakatan gencatan senjata tidak berlaku untuk Lebanon.
Israel bahkan berniat untuk terus melakukan serangan ke Lebanon dengan klaim untuk menghancurkan kelompok bersenjata Hizbullah yang berbasis di negara tersebut. Meski dalam serangannya kemarin, mayoritas korban tewas adalah warga sipil.
Isi Pengumuman Angkatan Laut Iran tentang Rute Alternatif Selat Hormuz
Berikut isi pengumuman Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) dikutip dari laman resmi Nour News, Rabu(9/4/2026):
"Dengan Nama Allah, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang
Mengingat situasi perang di Teluk Persia dan Selat Hormuz dari tanggal 27 Februari 2026 hingga 8 April 2026 (1404/12/09 hingga 1405/01/19 dalam kalender Iran), dan kemungkinan adanya berbagai jenis ranjau anti-kapal di zona lalu lintas utama Selat Hormuz (seperti yang ditunjukkan pada peta), semua kapal yang bermaksud melintasi Selat Hormuz dengan ini diberitahukan bahwa, untuk mematuhi prinsip-prinsip keselamatan maritim dan menghindari potensi tabrakan dengan ranjau laut, dan dalam koordinasi dengan Angkatan Laut IRGC di Selat Hormuz, mereka harus, sampai pemberitahuan lebih lanjut, menggunakan rute transit alternatif berikut sesuai dengan peta terlampir:
Rute masuk: Dari Teluk Oman menuju utara ke arah Pulau Larak, kemudian melanjutkan ke arah Teluk Persia (seperti yang ditunjukkan pada peta).
Rute keberangkatan: Dari Teluk Persia, melewati selatan Pulau Larak, dan kemudian melanjutkan menuju Teluk Oman (seperti yang ditunjukkan pada peta).”
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id






























