tirto.id - Situasi Perang Iran-Israel memanas kembali di tengah tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Washington. Pasalnya, Israel melakukan serangan ke Lebanon yang membuat Iran kembali menutup Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran memiliki kapal selam mini untuk menjaga jalur pelayaran penting itu.
Iran dilaporkan kembali menutup selat tersebut imbas serangan Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026).
Media Iran, PressTV, melaporkan situasi di Selat Hormuz kembali tak menentu. Sebuah kapal tanker bernama AURORA disebut melakukan putaran 180 derajat secara mendadak ketika berlayar keluar selat tersebut.
Hal ini menyusul serangan besar-besaran Israel ke Lebanon pada Rabu. Serangan itu dilakukan dengan 100 target dan dilakukan dalam waktu 10 menit.
Serangan Israel tersebut ikut menargetkan lokasi padat penduduk. Serangan 10 menit itu membunuh setidaknya 254 orang dan membuat kekacauan, tak hanya bagi korban terdampak tetapi juga upaya diplomasi yang sedang berjalan.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan kepada Israel dan AS bahwa mereka akan membalas serangan Israel jika Lebanon terus dibom. Sementara itu, Pakistan yang jadi mediator bagi Washington dan Teheran mendesak semua pihak untuk menahan serangan dan "menghormati gencatan senjata".
Hal ini membuat pelayaran melalui Selat Hormuz kembali tak menentu. Kapal-kapal tanker kembali terancam oleh kapal selam mini milik Iran.
Meskipun tergolong kecil dengan panjang hanya 29 meter, namun kapal selam kelas Ghadir milik Iran merupakan ancaman yang tak bisa dipandang remeh. Spesifikasi kapal selam ini memberinya keunggulan untuk memberikan ancaman bagi kapal-kapal di Hormuz.
Keunggulan Kapal Selam Mini Ghadir Iran
Kapal selam kelas Ghadir milik Iran merupakan ancaman bagi pelayaran di Selat Hormuz. Ketika pecah peperangan pada 28 Februari, kapal selam ini merupakan salah satu alasan mengapa Teheran dapat secara efektif menutup jalur sempit perdagangan dunia itu.
Seturut Times of India, kapal selam mini kelas Ghadir milik Iran adalah armada yang jauh lebih kecil dari kapal selam konvensional. Panjangnya hanya 29 meter dengan berat sekitar 120 ton.
Sebagai perbandingan, kapal selam kelas nuklir Ohio milik AS dibuat dengan panjang 170 meter dan berat sekitar 18.750 ton.
Dimensi yang tergolong kecil dari kapal selam Ghadir membuatnya mampu menyelam hingga kedalaman 30 meter. Kedalaman ini mampu menghindarkannya dari radar dan cukup dangkal untuk melakukan serangan.
Kemampuan untuk menyelam hingga dasar Hormuz itu membuat Ghadir sulit dideteksi. Terlebih, Selat Hormuz merupakan jalur yang ramai dan bising oleh aktivitas kapal dan aktivitas lepas pantai. Hal itu membuat Ghadir sulit dideteksi radar.
Sebagai armada perang, Ghadir juga dilengkapi peluncur torpedo dengan ukuran tabung 533 mm. Peluncur ini dikaitkan dengan torpedo kelas berat Iran macam Valfajr dan konsep torpedo superkavitasi Hoot.
Akan tetapi, yang lebih penting, Ghadir juga dilengkapi kemampuan untuk memasang ranjau laut. Ranjau laut merupakan ancaman utama di Selat Hormuz karena sejumlah kecil ranjau sudah cukup untuk mengganggu jalur pelayaran dalam jangka waktu yang lama.
Sistem pertahanan Ghadir telah diperkuat oleh Iran. Pada 2019 lalu, Iran mengumumkan keberhasilan uji coba peluncuran rudal jelajah anti-kapal Jask dari kapal selam mini tersebut.
Kemampuan untuk meluncurkan rudal jelajah ini kemudian memberikan Ghadir lebih banyak alternatif pertahanan, termasuk dengan menyerang kapal musuh dengan rudal jelajah.
Seturut Army Recognition, Ghadir diperkirakan merupakan armada hasil modifikasi kapal selam kelas Yono milik Korea Utara. Iran sebelumnya mendapatkan Yono pada 2004 silam.
Modifikasi ini juga jadi keunggulan Ghadir. Iran diperkirakan telah mengubah desain dan karakteristik kapal selam ini agar sesuai dengan situasi di Selat Hormuz.
Ghadir diperkirakan telah dilengkapi dengan desain yang mampu beradaptasi dengan salinitas, arus, dan lapisan suhu di Teluk Persia. Situasi di dalam kedalaman perairan Teluk itu diperkirakan dapat dimanfaatkan oleh Ghadir untuk mengganggu perambatan suara dan mengurangi keandalan sonar aktif maupun pasif.
Berapa banyak Iran memiliki Ghadir masih simpang siur dan kemungkinan sengaja dibuat tertutup informasinya. Namun, diperkirakan Iran memiliki sekitar 20 hingga 23 kapal selam Ghadir yang bisa dioperasikan.
Akan tetapi, berapa banyak Iran memiliki kapal selam mini kelas Ghadir bukan ancaman sesungguhnya bagi musuhnya, seperti AS kini. Keberadaan Ghadir di Selat Hormuz dipandang sudah cukup untuk membuat operasi militer di selat tersebut jadi terlalu mahal, ambigu, dan lambat.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































