tirto.id -
Salah satu alasan Bahlil, misalnya, adalah perlunya mempertimbangkan bauran energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri yang masih minim hanya 14,1 persen hingga akhir 2024—dan jauh dari target 23 persen di tahun 2025.
"Kita kasih ke orang di saat negara kita belum cukup dan orang membangun industrinya setelah itu CO2-nya dikirim ke Indonesia, mau jadi apa bangsa kita?" ujarnya dalam Agenda Green Initiative Conference September silam.
Meski begitu, rencana ekspor listrik hingga 3,4 Gigawatt (GW) ke negeri jiran sebenarnya memiliki nilai strategis, terutama untuk membangun industri panel surya di dalam negeri.
Dengan mengekspor listrik berkapasitas jumbo ke Singapura, yang seluruhnya direncanakan berasal dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), kebutuhan solar panel untuk proyek tersebut diperkirakan mencapai 18,7 GWp dan menstimulasi investasi industri manufaktur solar panel hingga 1,7 miliar atau setara Rp27,6 triliun dan industri manufaktur baterainya (BESS) mencapai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp16,23 triliun.
"Dengan potensi pasar ini, kita bisa membangun industrinya. Saat ini kita kesulitan untuk membangun industri panel surya dan baterai karena tidak ada permintaan. Dengan permintaan besar ini, kita bisa mendorong TKDN dan industri," ujar Direktur Utama Medco Power Indonesia, Eka Satria, dalam acara Renewable Leadership Forum di Indonesia Pavilion COP 29, Baku, Azerbaijan (12/11/2024).
Bahlil sendiri akhirnya mengakui bahwa penjualan setrum bersih ke Singapura dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) berupa penciptaan ratusan ribu lapangan kerja baru serta mengungkit devisa nasional hingga 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp163 triliun.
Sebab, kebutuhan investasi "ladang" panel surya tersebut bisa mencapai 10-30 miliar dolar AS, sementara potensi penanaman modal pembangunan manufaktur PV hingga BESS mencapai sekitar 2,7 miliar dolar AS.“Kolaborasi ini strategis karena Singapura memiliki pasar dan Foreign Direct Investment (FDI) yang besar,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks ESDM, usai penandatangan MoU bersama Tan See Leng.
Terlebih, sebagian listrik bersih yang dihasilkan juga akan digunakan di dalam negeri, khususnya untuk mendukung kawasan industri hijau dan program hilirisasi. “Tidak semuanya diekspor. Sebagian akan digunakan untuk konsumsi domestik, khususnya industri yang beradaptasi dengan proses hilirisasi berbasis energi bersih,” imbuhnya.
Dalam hitungan Fabby, untuk dapat merealisasikan proyek ini, dibutuhkan lahan sekitar 150-200 km persegi. Ini terutama untuk memfasilitasi pembangunan PLTS berkapasitas 18,7 GWp—seratus kali lipat dari kapasitas PLTS terapung Cirata—serta sistem penyimpanan energi 35,7 GWh.
Dia menduga mayoritas proyek akan ditempatkan di Kepulauan Riau, seperti Pulau Batam dan sekitarnya, yang secara jarak memang lebih dekat dengan Singapura. Karena itu, Fabby mengingatkan pentingnya pendekatan yang inklusif agar proyek ini tidak memicu konflik seperti yang terjadi dalam kasus Rempang.
“Pengembang sudah harus memiliki atau menyewa lahan sebelum proyek dimulai. Ini penting untuk meminimalkan risiko sosial. Jangan sampai hak-hak masyarakat dikorbankan demi investasi,” ujarnya.
“Betul bahwa PLTS membutuhkan lahan luas, apalagi dengan kapasitas besar. Namun, dengan teknologi modern, kebutuhan lahan bisa direduksi. Perlu inovasi dan pendekatan sosial agar masalah lahan ini tidak menjadi masalah sosial,” ujarnya.
Kendati demikian, hingga kini lokasi pasti pembangunan kawasan industri energi hijau masih dibahas oleh pemerintah Indonesia dan Singapura.
“Tim kami sedang mematangkan titik koordinatnya. Setelah Presiden berkunjung ke Singapura dalam beberapa hari ke depan, baru akan diumumkan secara resmi,” kata Bahlil.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































