tirto.id - Pidato Sumpah Pemuda bisa menjadi bentuk refleksi atas semangat perjuangan para pemuda yang pernah menyalakan api persatuan. Lewat pidato ini, generasi muda diajak untuk memahami bahwa nilai-nilai Sumpah Pemuda yang masih sangat relevan hingga kini.
Hari Sumpah Pemuda diperingati masyarakat Indonesia setiap tanggal 28 Oktober untuk mengenang peristiwa bersejarah ikrar persatuan pemuda dari berbagai daerah pada tahun 1928 silam.
Sumpah Pemuda adalah sebuah ikrar yang lahir dari Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Ikrar ini pun lahir dari semangat dan pemikiran para pemuda yang saat itu ingin bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Sumpah Pemuda berisi tiga pernyataan penting yang memiliki makna mendalam dan berbunyi:
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
- Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Contoh Pidato Sumpah Pemuda untuk Gen Z yang Menarik & Bermakna

Pidato Sumpah Pemuda dapat dibacakan di berbagai kesempatan dalam acara peringatan hari bersejarah ini, mulai dari upacara, lomba pidato, atau kegiatan lain yang relevan. Pidato ini dirancang dengan tema-tema yang menarik sehingga bisa mendapat perhatian dari para generasi muda atau Gen Z.
Gen Z hidup di masa ketika perjuangan tidak lagi di medan perang, tapi di dunia digital yang penuh tantangan. Karena itu, pidato Sumpah Pemuda untuk Gen Z perlu dikemas dengan cara yang relevan, yaitu menggabungkan semangat nasionalisme dengan gaya komunikasi yang segar dan inspiratif.
Melalui pidato ini, Gen Z diajak untuk memahami makna Sumpah Pemuda bukan hanya sebagai sejarah, tapi juga sebagai energi untuk terus berinovasi, menjaga persatuan, dan menunjukkan kontribusi nyata bagi bangsa. Berikut beberapa contoh teks pidato yang bisa dijadikan referensi:
1. Pidato Sumpah Pemuda: “Ancaman Baru: Hoaks & Hate Speech”
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Salam sejahtera untuk kita semua.
Para generasi muda Indonesia, terutama Gen Z yang tumbuh di era digital serba cepat, hari ini kita mengenang semangat Sumpah Pemuda.
Dulu, para pemuda bersatu dengan keberanian melawan penjajahan. Kini, perjuangan kita belum usai, hanya saja medan perangnya telah berpindah, dari medan fisik menjadi medan digital, dari penjajahan senjata menjadi penjajahan informasi.
Saudara-saudaraku semua,
Dulu, musuh kita jelas, yaitu kolonialisme, bentuknya kekuasaan asing yang menindas. Namun hari ini, musuh itu tak lagi berwujud manusia, melainkan algoritma, disinformasi, dan ujaran kebencian yang meracuni pikiran kita.
Musuh kita bersembunyi di balik layar ponsel, menjelma dalam bentuk hoaks dan narasi yang memecah belah. Ia menyerang tanpa suara, tapi dampaknya bisa memecah bangsa. Di sinilah generasi kita diuji, apakah kita akan menjadi korban informasi palsu atau penjaga kebenaran digital.
Di era ini, satu klik bisa lebih berbahaya dari satu peluru. Sekali jempol menekan tombol share, sebuah kebohongan dapat menjelma menjadi kebenaran semu yang menyebar lebih cepat daripada logika.
Banyak orang terjebak dalam arus informasi yang deras tanpa sempat menyaring isinya. Kita pun sering lupa bahwa setiap unggahan memiliki dampak, setiap kata punya pengaruh. Maka berhati-hatilah, karena di dunia digital, tanggung jawab moral kita dimulai dari ujung jari.
Generasi Z atau Gen Z dikenal sebagai generasi yang melek teknologi, cepat beradaptasi, dan kreatif dalam dunia maya. Namun, kadang justru karena terlalu cepat bereaksi, kita mudah terprovokasi oleh konten yang menggugah emosi.
Kita sering terjebak dalam perdebatan panas yang tak berujung, lupa bahwa di balik layar, ada manusia yang juga punya perasaan. Di sinilah pentingnya kesadaran digital, agar kita tak hanya pintar mengakses informasi, tapi juga bijak memaknai dan menyebarkannya.
Sumpah Pemuda mengajarkan tentang persatuan dan semangat kebangsaan. Tapi kini, persatuan itu bisa runtuh hanya karena perbedaan pandangan di media sosial. Ironisnya, yang memecah kita bukan penjajah, melainkan ego dan emosi kita sendiri.
Padahal, perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk saling menjatuhkan. Jika dulu pemuda bersatu dengan semangat nasionalisme, maka hari ini kita harus bersatu dengan semangat literasi digital dan empati sosial.
Oleh karena itu, sudah saatnya Gen Z menjadi rajin memeriksa fakta. Jangan mudah percaya pada headline yang provokatif atau video yang belum jelas sumbernya. Jadilah generasi yang skeptis dalam arti positif, yang berani bertanya, mencari data, dan menelusuri kebenaran sebelum membagikan sesuatu.
Sebelum menekan tombol share, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini fakta? Apakah informasi ini benar? atau hanya clickbait yang menyesatkan?” Dengan begitu, kita tak hanya melindungi diri sendiri, tapi juga melindungi bangsa dari racun kebohongan.
Di setiap lini masa, kita bisa menjadi benteng kecil NKRI. Benteng yang menjaga agar nilai persatuan dan kebenaran tidak terkikis oleh kebencian digital. Cinta tanah air di era ini tak lagi hanya ditunjukkan lewat bendera dan lagu perjuangan, tapi lewat sikap tanggung jawab di dunia maya.
Ketika kita menolak menyebar hoaks, kita sedang menjaga kehormatan bangsa. Ketika kita menegur dengan sopan, kita sedang memperkuat karakter Indonesia yang beradab.
Mari ubah cara kita menggunakan media sosial. Dari sekadar tempat curhat dan adu argumen menjadi ruang berbagi ide, inspirasi, dan solusi. Jadikan setiap unggahan sebagai kontribusi positif untuk bangsa, bukan sumber perpecahan.
Jangan biarkan kolom komentar menjadi medan perang, tapi ubah menjadi ruang belajar dan menghargai perbedaan. Karena sejatinya, media sosial bisa menjadi alat pemersatu jika digunakan dengan niat yang benar.
Bayangkan jika seluruh Gen Z di Indonesia menjadi duta kebenaran digital. Setiap postingan mengedukasi, setiap komentar membangun, dan setiap diskusi memperkaya wawasan. Dunia kita akan jauh lebih damai, cerdas, dan produktif.
Dengan kekuatan literasi digital, kita bisa menunjukkan bahwa nasionalisme tak lekang oleh waktu, hanya berganti bentuk dan medium. Dan kini, wujud nasionalisme itu adalah menjaga integritas informasi di tengah derasnya arus data.
Kita adalah penerus Sumpah Pemuda. Dulu mereka bersumpah satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, kini kita menambah satu janji lagi, yaitu berpikir sebelum membagikan informasi.
Dengan demikian, kita menjaga warisan semangat persatuan agar tetap hidup di dunia digital. Karena menjaga kebenaran hari ini sama mulianya dengan memperjuangkan kemerdekaan di masa lalu. Dan dari generasi kita, Gen Z, masa depan Indonesia yang cerdas, santun, dan bersatu akan lahir.
Mari terus kobarkan semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk yang relevan dengan zaman kita. Jadilah generasi yang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek nurani.
Karena masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita mengetik, tapi seberapa dalam kita berpikir sebelum membagikan. Semoga kita semua menjadi penjaga kebenaran dan persatuan Indonesia, di dunia nyata maupun dunia maya.
Demikian pidato dari saya, mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam ucapan. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

2. Pidato Sumpah Pemuda: “Pahlawan Digital: Melawan Insecurity dan Toxic Positivity”
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Salam sejahtera untuk semua.
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga pada pagi yang penuh makna ini kita dapat berkumpul dalam keadaan sehat wal afiat dalam rangka memperingati hari bersejarah bangsa kita, yaitu Sumpah Pemuda.
Hadirin sekalian,
Media sosial membuat hidup tampak seperti ajang pamer kebahagiaan. Setiap hari, kita disuguhi foto liburan, pencapaian, wajah ceria, dan hidup yang terlihat sempurna.
Tetapi, di balik layar, banyak di antara kita yang diam-diam merasa tidak cukup, tidak secantik mereka, tidak sekaya mereka, tidak sehebat mereka. Inilah bentuk penjajahan baru, insecurity yang menggerogoti rasa percaya diri generasi muda.
Sumpah Pemuda dulu menyatukan bangsa dari perbedaan daerah dan bahasa. Hari ini, kita perlu bersatu melawan perbedaan rasa percaya diri yang tercipta dari ilusi digital.
Musuh kita sekarang bukan lagi kolonialisme, melainkan pikiran kita sendiri yang terus membandingkan hidup dengan orang lain. Padahal setiap orang punya waktunya, setiap jalan punya ritmenya. Tidak perlu membandingkan bab pertama kita dengan bab dua puluh orang lain.
Tak hanya itu, saat ini kita juga hidup di zaman toxic positivity, semua orang dituntut untuk selalu bahagia, selalu kuat, selalu produktif. Padahal, tidak apa-apa untuk merasa lelah. Tidak apa-apa jika kadang kita ingin berhenti sejenak.
Tidak ada yang salah dengan menangis atau merasa sedih. Justru dari kejujuran itulah kita belajar menjadi manusia yang lebih tangguh dan apa adanya.
Banyak yang mengira pahlawan itu harus kuat tanpa cela. Tapi sesungguhnya, pahlawan sejati hari ini adalah yang berani mengakui kelemahannya dan mengajak temannya untuk bangkit bersama.
Mereka bukan yang menutupi luka dengan senyum palsu, tapi yang mengubah luka itu menjadi pelajaran. Karena keberanian sejati bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan selalu berusaha bangkit dengan hati yang utuh.
Sebagai generasi muda, kita tumbuh di dunia yang serba cepat dan penuh tekanan. Kadang kita lupa bahwa validasi bukan datang dari jumlah likes atau komentar, tapi dari penerimaan diri.
Kita tidak harus terlihat bahagia untuk benar-benar bahagia. Yang penting adalah tetap jujur pada diri sendiri, tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita perjuangkan, dan siapa diri kita sebenarnya.
Jadi, mari kita ubah cara kita menggunakan media sosial. Gunakan bukan untuk membandingkan, tapi untuk menginspirasi. Gunakan bukan untuk menutupi kesedihan, tapi untuk saling menguatkan.
Bayangkan jika setiap unggahan kita bisa membuat orang lain merasa diterima, bukan tersisih. Di situlah nilai Sumpah Pemuda hidup kembali, persatuan yang lahir dari empati dan saling dukung, bukan dari kesempurnaan semu.
Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Saat temanmu berkata dia sedang lelah, jangan langsung menjawab “kamu harus semangat!”, karena kadang yang ia butuhkan hanya didengarkan.
Tidak semua luka butuh motivasi, sebagian hanya butuh pemahaman. Ketulusan seperti ini sederhana, tapi bisa menyelamatkan banyak hati yang sedang berperang dalam diam.
Maka, mari kita berjanji pada diri sendiri, untuk menjadi pahlawan bagi hati kita dan hati orang lain. Untuk berhenti berpura-pura bahagia, dan mulai hidup dengan jujur.
Untuk berani mengulurkan tangan ketika ada yang jatuh, bukan hanya memberi nasihat kosong. Karena di tengah dunia yang penuh pencitraan, kejujuran dan empati adalah bentuk keberanian yang paling nyata.
Hadirin sekalian,
Sumpah Pemuda mengajarkan kita arti persatuan. Kini, persatuan itu kita wujudkan dengan saling memahami, bukan saling menuntut kesempurnaan. Jadilah generasi yang berani tampil apa adanya, yang tidak malu mengakui kelemahan, dan yang selalu menguatkan satu sama lain.
Di era digital ini, pahlawan sejati bukan mereka yang terlihat sempurna di layar, tapi yang mampu menyembuhkan luka, baik miliknya sendiri maupun milik orang lain.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, selamat mengobarkan semangat persatuan, dan mari wujudkan Indonesia yang lebih maju dan bermartabat! Jayalah pemuda, jayalah Indonesia!
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
3. Pidato Sumpah Pemuda: “Memperbarui Janji Pemuda di Era Digital”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi WabarakatuhSelamat Pagi dan Salam Sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati, para tamu undangan, Bapak/Ibu Guru, dan seluruh rekan-rekan pelajar/pemuda/i yang hadir hari ini.
Dengan rasa syukur yang mendalam, marilah kita bersama-sama menengadahkan puji ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas izin-Nya, kita dapat memperingati Hari Sumpah Pemuda, hari yang sangat bersejarah bagi Indonesia.
Sumpah Pemuda menjadi momen ketika sejarah mencatat keberanian generasi muda yang menolak tunduk pada perpecahan. Tetapi bagi kita, generasi masa kini, Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang masa lalu.
Hari ini adalah kesempatan untuk rebranding, untuk memperbarui janji kita sebagai pemuda Indonesia di zaman digital yang serba mudah, tapi penuh tantangan baru.
Mari kita bayangkan sejenak bagaimana para pemuda di tahun 1928 berkumpul. Mereka harus bergerak diam-diam, bertemu dengan penuh risiko, dan berbicara dalam kehati-hatian agar tidak ditangkap penjajah.
Namun, di balik ketakutan itu, mereka punya satu hal yang sama dengan kita, yaitu keberanian untuk bermimpi tentang Indonesia yang bersatu. Itulah pertemuan yang melahirkan sejarah, bukan karena fasilitasnya, tapi karena semangatnya.
Sekarang bandingkan dengan kita hari ini. Kita bisa meeting kapan pun, lewat Zoom, Google Meet, atau bahkan siaran langsung di media sosial seperti TikTok.
Kita tak perlu lagi sembunyi-sembunyi, tak perlu takut dibubarkan atau ditangkap. Kita bebas berdiskusi, berkolaborasi, bahkan membangun bisnis lintas kota hanya lewat layar ponsel.
Kemudahan ini bukan kebetulan, ini adalah hadiah dan warisan dari perjuangan panjang para pendahulu yang menginginkan generasi kita hidup merdeka.
Maka dari itu, Sumpah Pemuda sejatinya bisa kita sebut sebagai Hari Rebranding Nasional. Hari ketika kita memperbarui identitas, bukan dengan logo atau slogan baru, tapi dengan semangat dan aksi nyata.
Sama seperti perusahaan besar yang memperbarui citra agar tetap relevan, generasi muda juga perlu memperbarui janjinya agar semangat 1928 tetap hidup di tahun ini dan seterusnya.
Generasi 1928 membuktikan bahwa kesatuan bisa mengalahkan penjajahan. Maka generasi kita harus membuktikan bahwa kolaborasi bisa mengalahkan penjajahan modern, kebodohan, kemiskinan, bahkan kompetisi yang tidak sehat.
Kita tidak lagi berjuang dengan bambu runcing, tapi dengan ide, karya, dan jejaring sosial yang bisa menggerakkan ribuan orang hanya dengan satu pesan. Dunia digital telah membuka pintu yang lebar dan memberikan banyak peluang, semuanya tergantung kita, mau melangkah atau hanya menonton.
Di era ini, semangat kebangsaan tak lagi cukup diucapkan lewat pidato, tapi harus diwujudkan lewat tindakan nyata. Kita bisa menunjukkan cinta tanah air dengan mendukung produk lokal, membuat konten edukatif, atau membangun komunitas positif di media sosial.
Setiap langkah kecil yang membawa manfaat bagi orang lain adalah bentuk modern dari “berjuang untuk Indonesia.” Karena semangat 1928 tak mati, ia hanya berganti medium.
Mari kita belajar dari para pemuda 1928 yang berani berpikir melampaui zamannya. Mereka tidak punya internet, tapi punya visi yang jauh ke depan. Kita punya semua fasilitas, tapi apakah kita sudah punya visi yang sama besarnya?
Inilah saatnya kita melakukan rebranding terhadap makna “pemuda”. Bukan lagi sekadar umur muda, tapi mentalitas yang mau berkembang, belajar, dan berkontribusi.
Jadi, ketika kita memperingati Sumpah Pemuda hari ini, jangan hanya berhenti pada nostalgia. Jadikan hari ini sebagai momentum untuk memperbarui janji kita, bahwa kita, pemuda Indonesia, siap menjadi penerus yang adaptif, kreatif, dan kolaboratif.
Kita bukan generasi yang hanya menikmati kemudahan, tapi generasi yang menggunakan kemudahan itu untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang relevan dengan zaman.
Hadirin sekalian,
Sumpah Pemuda bukan sekadar sejarah, tapi undangan untuk terus berevolusi. Dulu mereka bersatu dengan semangat pertemuan rahasia, kini kita bersatu lewat koneksi digital.
Maka mari kita jadikan setiap meeting online bukan sekadar rapat, tapi ladang untuk menanam ide dan cita-cita baru bagi Indonesia.
Inilah rebranding semangat pemuda, tetap bersatu, tetap berjuang, tapi dengan cara yang cerdas dan bermakna di era digital.
Demikian pidato saya, terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga semangat Sumpah Pemuda senantiasa membakar semangat kita untuk berkarya dan berbakti bagi Ibu Pertiwi. Selamat Hari Sumpah Pemuda.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
4. Pidato Sumpah Pemuda: “Ikrar di Era Digital: Semangat Totalitas”
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Salam sejahtera untuk kita semua.
Teman-teman, hari ini kita memperingati Sumpah Pemuda, sebuah momen yang dulu mengguncang sejarah bangsa. Tapi sekarang, perjuangan itu tidak lagi soal perang dan penjajahan.
Di tahun ini, perjuangan kita udah naik level. Kita tidak butuh pedang, tapi butuh laptop, kuota, dan hati yang anti-pecah. Karena medan juangnya bukan lagi di lapangan, tapi di layar digital tempat semua ide dan aksi kita dimulai.
Saudara-saudaraku semua,
Sumpah Pemuda tahun 1928 itu janji heroik yang luar biasa. Mereka bersatu demi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Sumpah Pemuda tahun ini bisa jadi versi upgrade-nya, yaitu janji digital.
Janji bahwa generasi kita bakal berjuang lewat karya, lewat kolaborasi, dan lewat kreativitas tanpa batas. Kita tidak cuma bangga jadi pemuda Indonesia, tapi juga siap membuktikan lewat aksi nyata di dunia maya maupun dunia nyata.
Dahulu, pahlawan memegang bambu runcing, sekarang kita memegang laptop dan smartphone. Dulu mereka rebut kemerdekaan, sekarang kita jaga kebermanfaatan.
Bedanya, kalau dulu mereka melawan penjajah, sekarang kita melawan hal-hal yang membuat kita stuck, seperti rasa malas, insecure, dan mental kerupuk. Kita tidak perlu perang fisik, tapi butuh perjuangan mental yang sama kerasnya.
Sekarang semua bidang bisa jadi ladang perjuangan. Jika kamu gamer, jadilah gamer yang bisa berprestasi dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.
Jika kamu seorang fashion enthusiast, bantu kenalkan brand lokal agar semakin dikenal dunia. Jika kamu seorang content creator, pakai pengaruhmu buat menyebarkan inspirasi, bukan sekadar sensasi. Karena di era ini, totalitas itu adalah bentuk baru dari nasionalisme.
Kita sering mengatakan “bangga jadi anak muda Indonesia”, tapi bangga saja tidak cukup. Harus ada bukti. Dunia digital sudah memberikan kita panggung yang besar, tapi cuma mereka yang total yang benar-benar akan bersinar.
Jadi, jika kita memiliki passion—apapun itu—mari tekuni sepenuh hati. Karena sekarang, satu ide kecil bisa jadi gerakan besar asalkan kita mau konsisten.
Hadirin semua,
Bayangkan jika seluruh anak muda Indonesia bergerak bersama, dengan semangat totalitas di bidangnya masing-masing. Akan ada gamer yang membawa pulang piala dunia, desainer lokal yang menembus pasar global, atau developer yang berhasil membuat aplikasi karya anak bangsa.
Semua itu sangat mungkin terjadi asal kita punya satu mindset, yaitu “aku mau jadi bagian dari perubahan, bukan cuma penonton di layar”. Jangan hanya jadi NPC, jangan mau hanya jadi figuran, jadilah tokoh utamanya.
Akan tetapi, totalitas itu tidak berarti harus selalu sukses. Kadang gagal, kadang jatuh, dan itu sangat wajar. Dunia digital juga keras, penuh tekanan dan komentar. Tapi di situlah pentingnya punya hati yang anti-pecah.
Pahlawan zaman sekarang bukan yang selalu viral, tapi yang tetap semangat walau tidak mendapat like ribuan. Karena semangat sejati itu tidak butuh validasi.
Kita hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya. Dua-duanya butuh tanggung jawab. Di dunia digital, unggahanmu bisa jadi inspirasi, tapi juga bisa jadi pisau kalau tidak hati-hati.
Jadi, mari tunjukkan kalau Gen Z Indonesia bukan cuma kreatif dan cepat, tapi juga bijak dan beretika. Karena bangsa besar bukan cuma yang teknologinya berkembang, tapi yang manusianya juga memiliki karakter kuat.
Jika dahulu Sumpah Pemuda diucapkan dengan lantang di tengah ancaman penjajahan, sekarang, kita bisa mengucapkannya lewat karya, konten, dan kontribusi nyata.
Kita bisa berjanji bukan di ruang rapat, tapi di ruang digital, dengan postingan yang membangun, dan project yang berdampak. Jangan biarkan dunia maya jadi tempat kita saling menjatuhkan. Jadikan tempat itu arena untuk saling support, saling tumbuh, dan saling menguatkan.
Sumpah Pemuda tahun ini bukan cuma pengulangan sejarah, tapi pembaruan semangat. Kita adalah generasi yang punya akses, koneksi, dan peluang. Laptop kita adalah senjata, kuota kita adalah amunisi.
Rasa cinta Indonesia di era sekarang bisa ditunjukkan lewat coding, lewat desain, lewat game, lewat karya apapun yang kamu tekuni sepenuh hati. Itu baru namanya totalitas!
Mari gunakan teknologi untuk menciptakan hal positif, bukan sekadar mengikuti tren. Gunakan bakatmu untuk membangun, bukan menjatuhkan. Dan gunakan waktumu buat menciptakan sesuatu yang bisa membuat Indonesia bangga. Perjuangan kita hari ini tidak butuh darah, cukup semangat dan totalitas.
Selamat Hari Sumpah Pemuda, saatnya kita bukan cuma bangga jadi pemuda Indonesia, tapi juga membuat negara ini bangga karena memiliki kita.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Itulah beberapa contoh pidato Sumpah Pemuda yang bisa dijadikan referensi dan cocok untuk Gen Z. Melalui pidato ini, kita diingatkan bahwa perjuangan belum usai. Pidato ini juga mengajarkan bahwa semangat 1928 tidak pernah usang dan hanya berganti bentuk sesuai zaman.
Tertarik mempelajari sejarah Sumpah Pemuda lebih jauh atau butuh informasi menarik lain tentang peringatannya di Indonesia? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































