Bahasa Indonesia

Contoh Konjungsi: Jenis-jenis Kata Hubung dan Pengertiannya

Penulis: Alexander Haryanto, tirto.id - 31 Agu 2022 10:30 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kata konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat. Berikut contoh-contohnya.
tirto.id - Kata hubung yang dikenal sebagai konjungsi adalah kata atau ungkapan yang berfungsi sebagai penghubung antarkata, antarklausa, atau antarkalimat. Penggunaan kata hubung dalam sebuah kalimat atau paragraf berfungsi agar susunan kata atau kalimat memiliki koherensi (keterkaitan).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa, dan antarkalimat. Ernawati Waridah dalam buku EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan (2008) menuliskan, sesuai fungisnya, kata hubung terbagi menjadi lima kelompok. Antara lain: kata hubung koordinatif, subordnatif, korelatif, antarkalimat, dan antarparagraf.

Yohanni Johns dalam buku Bahasa Indonesia 1 menuliskan, konjungsi antarkalimat berfungsi untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Oleh sebab itu, konjungsi antarkalimat selalu memulai suatu kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.

Seperti tertuang dalam buku tersebut, lima kelompok kata hubung itu adalah pemekaran dari tiga kelompok fungsi konjungsi, yaitu konjungsi intra-kalimat, antar-kalimat, dan antar-paragraf. Konjungsi intra-kalimat, kemudian dipecah kembali menurut fungsinya menjadi konjungsi koordinatif, subordinatif, dan korelatif.

Berikut adalah contoh kata hubung sebagaimana dikutip dari berbagai sumber:


Contoh Kata Hubung (Konjungsi) Koordinatif

Konjungsi koordinatif adalah kata hubung yang dipakai untuk menggabungkan dua klausa yang berkedudukan setara. Dalam penerapannya, konjungsi koordinatif menghasilkan kalimat majemuk setara. Konjungsi yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: dan, dari, serta, melainkan, padahal, sedangkan, atau, tetapi.

Contoh: Ibu membaca buku (kalimat pertama) dan ayah membersihkan kebun (kalimat kedua)

Dalam contoh di atas, antara kalimat pertama Ibu membaca buku dan kalimat kedua ayah membersihkan kebun dihubungkan dengan konjungsi koordinatif dan.


Contoh Kata Hubung (Konjungsi) Subordinatif

Konjungsi subordinatif adalah kata penghubung untuk menggabungkan dua klausa atau lebih yang memiliki hubungan bertingkat. Dalam penggunaannya, konjungsi subordinatif menghasilkan kalimat majemuk bertingkat.

Konjungsi subordinatif terbagi menjadi beberapa kelompok, berikut contohnya:

1. Konjungsi subordinatif waktu: sejak, semenjak, sedari, sewaktu.
2. Konjungsi subordinatif syarat: jika, jikalau, bila, kalau.
3. Konjungsi subordinatif pengandaian: seandainya, seumpama.
4. Konjungsi subordinatif konsesif: biarpun, sekalipun.
5. Konjungsi subordinatif pembandingan: seakan-akan, seperti.
6. Konjungsi subordinatif sebab: sebab, karena, oleh sebab.
7. Konjungsi subordinatif hasil: sehingga, sampai.
8. Konjungsi subordinatif alat: dengan, tanpa.
9. Konjungsi subordinatif cara: dengan, tanpa.
10. Konjungsi subordinatif komplementasi: bahwa.
11. Konjungsi subordinatif atribut: yang.
12. Konjungsi subordinatif perbandingan: sama ... dengan, lebih ... dari.


Contoh Kata Hubung (Konjungsi) Korelatif

Konjungsi korelatif adalah kata penghubung yang menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa, di mana kedua unsur tersebut memiliki fungsi sintaksis yang sama (sama-sama subjek, misalnya). Konjungsi yang masuk dalam kelompok ini antara lain:

  • Tidak hanya... tetapi juga...,
  • Tidak hanya..., bahkan...,
  • Bukannya... melainkan...,
  • Makin..., makin, ...,
  • Jangankan... pun...,
  • Baik... maupun...
  • Bukan... hanya...
  • Demikian... sehingga...


Contoh:

  • Si jago merah tidak hanya melahap rumah penduduk, tetapi juga sebuah sekolah di dekatnya.
  • Baik Pak Hasan maupun istrinya suka makanan yang pedas.
  • Entah diterima entah tidak, yang penting kita sudah memberi saran dengan baik.
  • Jangankan orang lain, nasihat orang tuanya pun tidak pernah didengarnya.
  • Tidak hanya mereka yang pergi, tetapi juga kita juga harus pergi.
  • Kijang itu larinya demikian cepat sehingga harimau itu tidak berhasil memangsanya.


Contoh Kata Hubung (Konjungsi) Antarkalimat

Konjungsi antarkalimat berfungsi untuk menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Oleh sebab itu, konjungsi antarkalimat selalu memulai suatu kalimat yang baru dan tentu saja huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital. Berikut contohnya:

1. Menyatakan kesediaan melakukan sesuatu yang berbeda atau bertentangan dengan yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya, seperti: biarpun demikian/begitu, sekalipun demikian/begitu, sungguhpun demikian/begitu, walaupun, demikian/begitu.

Contoh: Kami tidak pernah sepakat dengan pendapatnya. Biarpun begitu, kami tidak akan menghalanginya untuk terus maju.

2. Menyatakan kelanjutan dari peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya, seperti: meskipun demikian/begitu, kemudian, sesudah itu, selanjutnya.

Contoh: Mereka berbelanja ke pasar. Sesudah itu, mereka akan pergi ke kebun binatang.

3. Menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di luar dari yang telah dinyatakan sebelumnya, seperti: tambahan pula, lagi pula, selain itu.

Contoh: Pak Broto terkena penyakit asma. Selain itu, dia juga mengalami penyakit gula darah.

4. Mengacu ke kebalikan dari yang dinyatakan sebelumnya, seperti: sebaliknya.
Contoh: Perampok itu tidak peduli walaupun polisi memberikan tembakan peringatan. Sebaliknya, dia malah melawan polisi dengan pisau.

5. Menyatakan keadaan sebenarnya, seperti: sesungguhnya, bahwasanya.

Contoh: Masalah yang dihadapinya memang gawat. Sesungguhnya, masalah itu sudah diramalkannya sebelumnya.

6. Menguatkan keadaan yang dinyatakan sebelumnya, seperti: malahan dan bahkan.

Contoh: Rumah-rumah di kampung itu banyak didirikan di dekat sungai. Bahkan, ada kampung yang berada di tengah laut dangkal.

7. Menyatakan pertentangan dari keadaan sebelumnya, seperti: namun dan akan tetapi.

Contoh: Keadaannya memang sudah aman. Akan tetapi, kita tetap harus waspada.

8. Menyatakan konsekuensi, seperti dengan demikian.

Contoh: Kamu sudah melakukan semua ini. Dengan demikian, sudah seharusnya kamu menanggung semua risikonya.

9. Menyatakan akibat, seperti: oleh karena itu dan oleh sebab itu.

Contoh: Kami sudah melarang dia untuk tidak melalukan itu lagi, tetapi dia tetap nekat. Oleh karena itu, sekarang dia merasakan sendiri akibatnya.

10. Menyatakan kejadian yang mendahului hal yang dinyatakan sebelumnya, seperti: sebelum itu.

Contoh: Polisi menangkap dua perampok rumah. Sebelum itu, mereka menangkap lima orang pencuri motor.


Contoh Kata Hubung (Konjungsi) Antarparagraf

Kata penghubung atau konjungsi antarparagraf terbagi menjadi beberapa jenis sebagai berikut ini:

1. Konjungsi yang menyatakan tambahan pada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya. Contoh: di samping itu, demikian juga, tambahan lagi.

2. Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya.
Contoh: bagaimanapun juga, sebaliknya, namun.

3. Konjungsi yang menyatakan perbandingan.
Contoh: sebagaimana, sama halnya.

4. Konjungsi yang menyatakan akibat atau hasil.
Contoh: oleh karena itu, jadi, akibatnya.

5. Konjungsi yang menyatakan tujuan.
Contoh: untuk itulah, untuk maksud itu.

6. Konjungsi yang menyatakan intensifikasi.
Contoh: ringkasnya, pada intinya.

7. Konjungsi yang menyatakan tempat.
Contoh: di sinilah, berdampingan dengan.



Konjungsi Temporal: Pengertian, Ciri dan Contohnya


Konjungsi temporal adalah sesuatu yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Konjungsi temporal merupakan salah satu jenis kata hubung.

Sebagai salah satu jenis kata hubung, konjungsi temporal menjelaskan hubungan yang tidak sederajat. Konjungsi sebelumnya dan sesudahnya menghubungkan dua bagian kalimat yang sederajat. Contoh dalam kalimat adalah: "Kami sampai di rumah sebelum matahari tenggelam."

Contoh Konjungsi Temporal
  • apabila
  • bila
  • bilamana
  • demi
  • hingga
  • ketika
  • sambil
  • sebelum
  • sampai
  • sedari
  • sejak
  • selama
  • semenjak
  • sementara
  • seraya
  • waktu
  • setelah
  • sesudah
  • tatkala.



Seperti dikutip dari Jurnal Dwija Utama, konjungsi temporal biasanya masuk ke dalam kategori teks prosedur yang berisi langkah-langkah atau tahap-tahap untuk melakukan sesuatu hal, baik melakukan suatu kegiatan tertentu, maupun membuat sesuatu yang disajikan secara berurutan.

Dalam konteks itu, konjungsi temporal bisa juga diartikan sebagai kata hubung yang mengacu pada urutan waktu dan sekaligus menjadi kohesi teks seperti urutan pertama, kedua, ketiga dan lain-lain.

Sementara itu, Ida Widaningsih dalam Strategi dan Inovasi Pembelajaran Bahasa Indonesia menuliskan hal yang kurang lebih sama. Konjungsi temporal adalah kata penghubung yang menjadi lanjutan urutan langkah demi langkah.

Konjungsi temporal juga biasa dipakai dalam kaidah teks prosedural, seperti cara menghidupkan gawai, cara membersihkan karpet, cara menyalakan sepeda motor, menghidupkan laptop, memandikan kucing dan lain-lain.

Selain itu, Minarni Try Astuti dalam buku Yuk, Ungkap Idemu Melalui Teks Persuasi Hingga Teks Tanggapan menuliskan, penggunaan konjungsi temporal (misalnya sejak, kemudian, awalnya, akhirnya) juga masuk dalam ciri khas dalam aspek kebahasaan teks berita. Fungsi keterangan waktu, kalimat langsung dan bahasa Indonesia yang baku harus dipakai agar berita yang disampaikan tidak bermakna ambigu dan bermakna ganda.

Kemudian, narasi sejarah atau cerita sejarah juga sering menggunakan konjungsi temporal. Sebab, konjungsi temporal memberikan keterangan tentang hubungan dari dua hal peristiwa yang berbeda. Secara sederhana, identifikasi temporal terhadap teks sejarah merupakan upaya mempreteli teks sejarah berdasarkan waktu yang ada di dalam teks tersebut.

Kronologis suatu peristiwa akan mudah diketahui dengan cara menentukan batasan waktu dari cerita sejarah tersebut. Apabila berhasil dalam menentukan batasan waktu tersebut, maka kronologis suatu peristiwa sejarah akan mudah dipahami, demikian seperti ditulis Ofianto dan Tri Zahra Ningsih dalam Assesmen Ketrampilan Berpikir Historis (Historical Thinking).


Baca juga artikel terkait KATA HUBUNG atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight