Menuju konten utama

Capaian Kinerja dan Upaya Pemprov Jateng Menggenjot Investasi

Gubernur Luthfi sebut pihaknya terus meningkatkan pembangunan infrastruktur agar semakin ramah investasi.

Capaian Kinerja dan Upaya Pemprov Jateng Menggenjot Investasi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. foto/Pemprov Jateng
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kondisi investasi di Provinsi Jawa Tengah secara umum menunjukkan tren positif. Pemerintah terus berupaya menarik minat investor domestik maupun asing. Realisasi investasi pun terus bertumbuh.

Kementerian Investasi menargetkan, provinsi yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi ini dalam setahun mampu menggaet investasi Rp78,33 triliun pada akhir 2025. Jika kondisinya stabil, maka Jawa Tengah mudah mencapai target itu, bahkan bisa melebihi.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah mencatat, pada kurun waktu Januari--Maret 2025, capaian investasi di wilayah ini berhasil mencapai angka 21,85 triliun atau 27,89 persen dari target.

Realisasi investasi kuartal pertama itu mengalami peningkatan Rp4,29 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang hanya menyentuh Rp17,56 triliun.

Menilik data tersebut, investasi Rp21,85 triliun di Jawa Tengah disumbang penanaman modal asing mencapai Rp14,08 triliun, sementara penanaman modal dalam negerinya Rp7,77 triliun.

Penanaman modal asing mendominasi investasi, khususnya pada sektor industri barang dari kulit dan alas kaki; industri tekstil; industri karet dan plastik; hingga industri mesin dan elektronik.

Negara yang paling banyak berinvestasi di Jawa Tengah adalah Cina (Rp3,47 triliun), Korea Selatan (Rp2,56 triliun), Hongkong (Rp2,41 triliun), Singapura (Rp2,08 triliun), dan Belanda (Rp0,78 triliun).

 5 Besar Negara Realisasi Investasi PMA Triwulan I 2025

5 Besar Negara Realisasi Investasi PMA Triwulan I 2025. foto/Pemprov Jateng

Sementara penanaman modal dalam negeri lebih banyak berinvestasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran; industri makanan; hingga industri transportasi dan telekomunikasi.

Secara umum, baik penanaman modal asing maupun modal dalam negeri, sektor investasi yang paling merajai di Jawa Tengah adalah industri tekstil yang mencapai angka Rp2,66 triliun.

Di sisi lain, jumlah proyek di kuartal I 2025 juga naik dibandingkan kuartal IV 2024, yakni 17.005 proyek menjadi 20.431 proyek. Kenaikan ini tentu berdampak pada realisasi tenaga kerja yang juga naik sebesar 4,72 persen, yaitu dari 92.270 tenaga kerja di kuartal IV 2024 menjadi 96.630.

Kepala DPMPTSP, Sakina Rosellasari, mengatakan, untuk capaian investasi kuartal dua 2025 sebentar lagi akan dirilis. “Nanti akan dirilis pertengahan Juli,” kata dia saat dikonfirmasi Tirto, Selasa (1/7/2025).

Perbandingan Jumlah Proyek dan Tenaga Kerja

Perbandingan Jumlah Proyek dan Tenaga Kerja. foto/Pemprov Jateng

Upaya Genjot Investasi

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan pihaknya terus berupaya menggenjot investasi dengan berbagai cara. Ia berambisi menjadikan pertumbuhan ekonomi wilayahnya mengungguli rata-rata nasional.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Jawa Tengah 2025–2029, investasi menjadi fokus utama. Sebab, investasi dinilai sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan.

RPJMD dirancang untuk pro investasi, pro lapangan kerja, dan pro pertumbuhan ekonomi hijau, demi mewujudkan pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh wilayah provinsi.

Untuk menjadikan Jawa Tengah sebagai rumah nyaman bagi investor, pemprov mengusung beberapa strategi. Di antaranya, memberi jaminan keamanan dan kondusifitas wilayah. Upah tenaga kerjanya kompetitif dibandingkan daerah lain.

Pemprov juga berupaya menyederhanakan regulasi. Pelayanan perizinan dibuat mudah dan cepat. Bahkan sudah lama menerapkan sistem pengelolaan perizinan terpadu secara elektronik atau online single submission (OSS) yang diinisiasi Kementerian Investasi.

Untuk memfasilitasi perizinan yang tidak terfasilitasi OSS, Jawa Tengah menyediakan layanan SIAP Jateng atau Sistem Informasi Aplikasi Perizinan di Provinsi Jawa Tengah. Sistem ini dikelola DPMPTSP.

Kemudian, Pemprov Jateng menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal yang sesuai dengan kebutuhan industri, melalui peningkatan kualitas lulusan pendidikan vokasi. Selain itu, menggalakkan program pelatihan di balai latihan kerja (BLK).

"Sumber daya manusianya bisa. Kita ada vokasi dan BLK. BLK isinya program-program dari provinsi maupun kementerian yang kita masukkan, sehingga mereka siap bekerja," jelas Luthfi dalam sebuah acara di Kawasan Industri Kendal (KIK), Kamis (19/6/2025).

Gubernur Luthfi menjelaskan, pihaknya terus meningkatkan pembangunan infrastruktur agar wilayahnya semakin ramah investasi. Pemprov Jawa Tengah menetapkan 2025 sebagai tahun infrastruktur.

Proyek-proyek jalan, kawasan industri, hingga fasilitas pendukung konektivitas, disiapkan. "Tahun ini kami fokus infrastruktur, supaya semua daerah siap jadi lokasi investasi, bukan cuma di kota besar,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin.

Jawa Tengah memiliki dua pelabuhan internasional dan beberapa pelabuhan kapal-kapal kecil atau nelayan di sepanjang jalur pantai utara. Kemudian, daerah ini memiliki dua bandara besar dan tiga bandara kecil.

Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sempat diturunkan statusnya, tetapi di bawah kepemimpinan Luthfi, pada 2025 berhasil kembali menjadi bandara internasional.

Sisi lain, pemerintah akan merevitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang guna menunjang kapasitas ekspor-impor yang lebih besar.

"Bandara kami sudah internasional, pelabuhan akan kami revitalisasi. Jadi ke depan tidak ada lagi investor yang tidak tertarik, rugi kalau nggak investasi di Jawa Tengah," kata Luthfi.

Proyek perbaikan jalan tak pernah berhenti. Pembangunan tol juga terus berlanjut, salah satunya proyek Tol dan Tanggul Laut Semarang-Demak yang membentang di jalur Pantura.

Keberadaan kawasan industri menjadi wujud tersedianya infrastruktur investasi. Jawa Tengah memiliki beberapa kawasan industri potensial untuk calon investor. Meliputi Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW), Kawasan Industri Candi Semarang.

Kemudian Kawasan Industri Kendal (KIK) yang juga merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), dan Jatengland Industrial Park Sayung di Demak, yang masih terbuka untuk dikembangkan.

Dukungan kemudahan investasi tidak terpaku pada kawasan industri saja. Pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota di Jawa Tengah ikut andil dengan mempermudah izin dan ketersediaan lahan di luar kawasan industri.

Sisi lain, Gubernur Luthfi memerintahkan kepada seluruh kepala OPD dan bupati-wali kota untuk menjadi sales dan marketing. Tujuannya untuk mempromosikan daerahnya agar lebih banyak investor datang.

Sementara yang lebih strategis, Jawa Tengah memiliki ajang promosi investasi bernama Central Java Investment Business Forum (CJIBF). CJIBF 2025 digelar di Semarang, Senin (5/5/2025). Dalam acara tersebut, Luthfi menjamin kemudahan investor menanamkan modal.

“Jawa Tengah dari segi penanaman, keamanan, ketertiban, perizinan semuanya ada. Dan semuanya jadi jaminan kita,” ujarnya.

Pada ajang tersebut ditawarkan 13 proyek investasi. Di antaranya, proyek panas bumi, pembangkit listrik minihidro, pengolahan sampah untuk refuse derived fuel, dan rumah sakit ramah lingkungan.

Jalin Kerja Sama

Guna meningkatkan investasi, Pemprov Jawa Tengah gencar menjalin kerja sama, baik dengan secara langsung dengan investor maupun dengan pemerintah. Yang diajak kerja sama tidak sebatas pemerintah dalam negeri, tetapi juga pemerintah luar negeri.

Pada Selasa (1/7/2025), Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah menerima kunjungan dari Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng.

Pertemuan itu membahas peluang investasi dari Singapura untuk mengembangkan ekonomi hijau di Jawa Tengah, khususnya di beberapa kawasan industri yang ada.

Luthfi mengungkapkan, Singapura merupakan negara dengan nilai investasi cukup besar di Jawa Tengah. Pada kuartal I 2025, nilai investasi mencapai Rp2,081 triliun, jumlah itu masih mungkin bertambah sampai akhir tahun nanti.

Bahkan, investasi dari Singapura meningkat dari tahun ke tahun, yakni pada 2021 sebesar Rp1,9 triliun, pada 2022 senilai Rp4,1 triliun, pada 2023 Rp4,6 triliun, dan 2024 Rp8,6 triliun.

"Hal ini perlu kita tingkatkan. Beliau sudah menyampaikan terutama terkait green industry atau ekonomi hijau akan kita kerjakan ke sana. Jadi mulai solar panel, bio migas, bio termal, dan sebagainya," kata Luthfi usai pertemuan.

Gubernur sedang menyiapkan tim untuk menindaklanjuti tawaran kerja sama dengan Pemerintah Singapura tersebut. Ia akan datang atau mengirim delegasi ke Singapura untuk mempromosikan peluang investasi.

"Kita berjanji akan datang ke Singapura dalam rangka eksplorasi investasi Singapura di Jawa Tengah," katanya.

Sebulan lalu, tepatnya pada Jumat (20/6/2025), Pemprov Jawa Tengah menerima kunjungan Gubernur Malaka, pimpinan negara bagian di Malaysia. Kedua belah pihak berkomitmen meningkatkan kerja sama di berbagai sektor.

Menurut Luthfi, pertemuan ini penting untuk ditindaklanjuti. Gubernur Jawa Tengah merencanakan akan melakukan balas kunjungan ke Malaka pada September mendatang.

"Kami sudah beberapa kali melakukan komunikasi nanti diantara dinas kita melakukan komunikasi kita akan melakukan kerja sama terkait dengan pendidikan, investasi, maupun tourism yang akan kita kembangkan termasuk dunia kesehatan,” ujarnya.

Jalinan kerja sama juga dilakukan antar wilayah dalam negeri. Pemprov Jawa Tengah telah menjalin kerja sama di berbagai bidang dengan tiga provinsi, yaitu Kepulauan Riau, Lampung, dan Maluku Utara.

Disebutkan, potensi kerja sama empat wilayah tersebut per tahun sekitar Rp600 miliar. Potensi kerja sama dapat berkembang dengan nilai mencapai Rp7 triliun per tahun.

Prospek Investasi

Jawa Tengah memiliki magnet tersendiri untuk menarik para investor untuk menanamkan modal di berbagai sektor. Prospek investasi di wilayah ini cukup bagus, meski ada tantangan yang berjalan beriringan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, melihat kondisi investasi di Indonesia di bawah pemerintahan baru, pertumbuhannya belum signifikan. Kondisi itu berpengaruh pada investasi di daerah seperti di Jawa Tengah.

"Investasi belum begitu bertumbuh seperti yang kita harapkan. Bisa jadi investor masih wait and see, lihat bagaimana keberpihakan pemerintah baru kepada investasi, kebijakannya macam apa," ujar Frans, Senin (30/6/2025).

Sisi lain, konflik antarnegara seperti Israel-Iran yang melibatkan sekutu, memengaruhi iklim investasi.

"Perang itu mengganggu investasi secara keseluruhan. Bagaimana negara Amerika Serikat sebagai superpower, kebijakan terhadap impor dan lain sebagainya," imbuh Frans.

Meski begitu, menurutnya, kesiapan pemerintah daerah, yakni Pemprov Jawa Tengah untuk menyambut investasi sudah terbilang memadai. Dia mencontohkan dengan infrastruktur yang ramah investasi.

"Infrastruktur kita bagus. Jalan-jalan tol sudah ada, transportasi oke. Kemudian lahan-lahan industri sudah disiapkan oleh pemerintah," beber Frans.

Apalagi, Pemprov Jawa Tengah memberi insentif-insentif khusus kepada investor baru. Seperti pembebasan biaya izin gangguan (HO) investasi, permudah izin bangunan, dan lain sebagainya.

Dari segi kesiapan tenaga kerja, Jawa Tengah tidak kurang orang. Pemerintah terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dengan pendidikan dan pelatihan sesuai kebutuhan industri. "Tenaga kerja kita oke. Semangat kerja juga tinggi," katanya.

Kemudian, keunggulan biaya tenaga kerja di Jawa Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Pada 2025, Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) berkisar antara Rp2.170.475 (Banjarnegara) hingga Rp3.454.827 (Kota Semarang).

Dia melihat, investasi di Jawa Tengah masih terpusat di utara yang notabene berada di Pantura yang memiliki infrastruktur lebih memadai. Namun, jika nantinya tol dibangun di jalur selatan Jawa Tengah, maka kemungkinan investasi akan lebih menyebar.

"Daerah selatan seperti Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, itu potensinya masih sangat besar. Harga tanah murah, tenaga kerja juga cukup banyak. Kemudian pemerintah berencana bangun jalan tol," urainya.

Dengan kesiapan fasilitas hingga SDM di Jawa Tengah, Frans melihat prospek investasi kian menjanjikan. "Kami pengusaha optimis ke depan banyak investasi akan berdatangan ke Jawa Tengah," tegasnya.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Baihaqi Annizar

tirto.id - News Plus
Kontributor: Baihaqi Annizar
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Abdul Aziz