Menuju konten utama
Mozaik

Bintang Radio, Gelaran Pembibit para Bintang Tarik Suara

Meski bukan tolok ukur utama kesuksesan, ajang ini paling prestisius pada masanya, bahkan bagi mereka yang sudah lebih dulu meniti karier menyanyinya.

Bintang Radio, Gelaran Pembibit para Bintang Tarik Suara
Titik Puspa dan Bing Slamet. Wikimedia/Jack de Nijs
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tempo itu Sumarti masih gadis sekolahan di Semarang. Usianya baru 17 tahun, tetapi bakat tarik suaranya sudah diperhitungkan. Dia adalah jagoan menyanyi sekolahnya. Beragam kejuaraan antarsekolah telah dimenangkan, salah satunya Pekan Olahraga dan Kesenian Lanjutan Atas (PORKSLA).

Sayang, bakat menyanyinya bertepuk sebelah tangan kala itu. Ayahnya, Tugeno Puspowidjojo tak merestui anak bungsunya menjadi penyanyi. Maklum, di masa itu penyanyi lekat dengan cap “penghibur” dan buruk di anggapan moral umum.

Ketika ajang pencarian bakat Bintang Radio tingkat daerah digelar di Semarang, temannya yang bernama Yayuk menyarankan Sumarti mengikuti gelaran itu. Yayuk juga mengusulkan Sumarti menyamarkan identitas agar keikutsertaannya tak diketahui sang ayah. Akhirnya keduanya menyepakati nama “Titiek Puspa”, diambil dari kombinasi sapaan sehari-hari Sumarti dan nama belakang ayahnya.

“Lomba Pemilihan Bintang Radio Semarang 1954 digelar. Sejak sore saya sudah menyiapkan diri dengan mental yang lebih baik dibandingkan saat ikut PORKSLA,” kenang Titiek Puspa dalam biografinya, Titiek Puspa: A Legendary Diva (2008: 81), yang ditulis Alberthiene Endah.

Kendati hanya finis sebagai juara kedua, mimpi Titiek Puspa manggung di Jakarta keturutan. “MC menginformasikan di panggung bahwa juara kedua akan dikirim [mewakili Semarang] ke Jakarta karena mendapatkan nilai yang cukup tinggi!” katanya semringah.

Sejak itu, nama Titiek Puspa tersohor hingga jadi salah satu diva di Indonesia. Namun, kisah Bintang Radio bukan hanya milik dia. Selama tiga dekade lebih bergulir, ajang pencarian bakat tersebut telah melahirkan nama-nama penyanyi yang sampai hari ini lagunya masih sering menggema.

Kemunculan Para Bintang

Antusiasme konsumen radio cukup tinggi pada masa-masa pasca-kemerdekaan, ditandai dengan menjamurnya radio amatir di Indonesia. Salah satu peruntukannya adalah untuk musik. Orang-orang mulai bernyanyi di jalan, kantor, sampai dari balik kamar mandi. Mereka menyanyikan lagu yang tiap hari berdengung lewat radio.

Itu membuat Radio Republik Indonesia (RRI), stasiun radio pelat merah, terpantik untuk menggelar kompetisi menyanyi, Bintang Radio.

Pada momen ulang tahun Hari Radio Nasional yang keenam, 11 September 1951, Bintang Radio edisi pertama digelar. Ajang itu begitu menyedot perhatian publik.

Penilaiannya sederhana tetapi keras. Teknik vokal “golden voice” menjadi nilai utama dan mutlak. Tidak ada gimik panggung, drama reality show, atau sistem penilaian voting dari penggemar. Pemenangnya adalah para biduan yang paling kuat aspek menyanyinya.

Pemenang pertama yang langsung mencuri perhatian adalah laki-laki kelahiran Bandung dengan suara bariton, Sam Saimun. Bukan hanya satu, tetapi tiga kali. Sam Saimun memenangkan juara pertama pada 1951, 1952, dan 1955 untuk kategori keroncong. Bahkan, pada 1952 dia juga menyabet kategori seriosa sekaligus.

Surat kabar Berita Harian edisi 9 Juli 1963 mengejawantahkan, “Suara Sam yang hangat kedalaman perasaan dan teknik frasering Sam yang ulung, ditambah pula dengan keindahan lagu serta syair yang pernah disumbangkan oleh pencipta-pencipta Indonesia lama ini, merupakan unsur-unsur yang tidak memerlukan ulasan lagi dari acara ‘Merdu Merayu’....”

Memang, usai terkenal lewat Bintang Radio, Sam Saimun sering jadi langganan mengisi siaran RRI. Salah satunya adalah program “Merdu Merayu” yang mengudara saban pukul 19.30 WIB kala itu.

Bing Slamet

Bing Slamet. foto/kemendikdasmen.go.id

Selanjutnya Bing Slamet. Ia baru menjadi juara pada 1955 untuk kategori hiburan. Padahal, bakat menyanyinya sudah terkenal hampir seantero negeri. Pada 1952, lelaki kelahiran Cilegon tersebut sudah jadi anggota tetap RRI Jakarta untuk siaran hiburan, termasuk menyanyi. Sebelumnya pun ia telah malang melintang menghibur pendengar lewat siaran di berbagai kota, dari Malang, Surakarta, hingga Yogyakarta.

Bahkan tak cuma di dunia tarik suara, penyanyi yang memopulerkan lagu "Gendjer-Gendjer" itu juga piawai di seni peran. Sampai medio 1950-an, ia sudah memerankan beberapa film. Di antaranya yakni Solo di Waktu Malam (1952), Di Simpang Jalan (1955), dan Raja Karet dari Singapura (1956).

Selang satu dekade, nama lain yang perlu diperhitungkan adalah Waldjinah. Pada tahun-tahun itu, biduanita kelahiran 1945 itu sudah terkenal dengan julukan "Ratu Keroncong Indonesia".

Kemampuan bernyani wanita Solo tersebut tak pernah diragukan. Ia bahkan berhasil menjuarai kontes menyanyi RRI Solo bertajuk "Ratu Kembang Katjang" pada usia 12 tahun.

Bakat Waldjinah akhirnya "sah" sebagai jagoan keroncong setelah ia memenangi Bintang Radio pada 1965 untuk kategori keroncong. Dia membawakan tembang “Putri Solo” dan “Keroncong Telomojo”.

Revolusi Bintang Radio

Memasuki dekade 1970-an, pasar media penyiaran berkembang. Televisi mulai masuk ke rumah-rumah. Di masa itu, TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi yang tayang di Indonesia. RRI membaca celah kesempatan, dan mulai memasuki industri penyiaran audiovisual.

Oleh karena itu, TVRI dan RRI bersinergi. Pada 1974, siaran Bintang Radio tidak hanya menggema lewat telinga, tetapi juga mata. Pagelaran pun mengikuti, dan berubah menjadi Bintang Radio Televisi (BRTV).

Itu adalah kali pertama peserta tidak hanya didengar suaranya. Penampilan mereka di atas panggung juga dilihat dan dinilai. Berita baiknya, revolusi itu mendapat sambutan hangat dari penonton. Peminatnya makin membeludak dan menjadi ajang lomba menyanyi paling populer di masanya.

Kesuksesan itu membuat BRTV makin memekarkan ajang mereka. Pada 1976, mereka berinovasi lagi lewat kompetisi BRTV Remaja. Ajang itu dikhususkan untuk para pelajar dan remaja berbakat dari setiap daerah.

Pemenang perdana Bintang Radio Televisi Remaja adalah Harvey Malaiholo, anak seorang pelaut dan cucu musisi keluarga Titaley, Ambon. Akan tetapi, dia tidak mengangkat piala sendirian. Di sampingnya berdiri Rafika Duri, pemenang Bintang Radio Televisi Remaja untuk kategori penyanyi putri.

Tak lama setelah itu, keduanya mendapat kontrak prestisius dari Musica Studio, label rekaman yang cukup mentereng di masanya. Album pertama duet keduanya, Rafika Duri Harvey Malaiholo: Volume 1 (1977) digarap oleh komposer kawakan A. Riyanto. Mereka terkenal dengan hit “Bisikan Mesra” yang begitu top di masanya.

Belantika Musik yang Tak Lagi Sama

Setelah format BRTV berakhir pada 1997, ajang pencarian bakat Bintang Radio tak lagi secerlang masa-masa awal. Ada dugaan format BRTV berakhir setelah tajuk perlombaannya diubah “seperti” format awal.

Di buku Mardiyanto, Himpunan Sambutan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Tengah: Volume 1 (1999), hanya tertulis "Final Pemilihan Bintang Radio Tingkat I Jawa Tengah Tahun 1998". Itu mengindikasikan Bintang Radio tidak lagi tayang di televisi pada tahun itu. Sebab, itu berbeda dari Rio Febrian atau Lucky Octavian yang dikenal luas sebagai finalis Bintang Radio Televisi 1997.

Selain itu, Bintang Radio tidak lagi menjadi satu-satunya perlombaan yang menguasai panggung pencarian bakat tarik suara. Kompas membeberkan, munculnya ajang serupa di stasiun TV swasta menggeser pesona belantika musik TVRI dan RRI.

“Acara kompetisi menyanyi itu [stasiun TV swasta] berkonsep keterlibatan penonton dalam acaranya melalui pemilihan via SMS. Selain itu, acara dibumbui drama reality show sehingga mampu menyedot perhatian publik,” demikian Kompas mewartakan.

Karena tak jadi sumber tunggal hiburan masyarakat, standardisasi karya lagu, suara penyanyi, dan penggarapan musik, yang “dijaga” TVRI dan RRI, lambat laun ditinggalkan. Orang bisa menikmati lagu apa saja sesuka selera. Jika pendengar tidak menyukai suguhan musik Bintang Radio, mereka tinggal mengalihkan frekuensi ke stasiun radio lainnya.

Tjang Abbas, angkasawan kenamaan RRI, dalam buku RRI 55 Tahun (2000), menulis, BRTV telah kehilangan resonansinya. Diibaratkan olehnya, "Bintang Radio ke atas tidak berpucuk, ke bawah tidak berakar.”

Akan tetapi, Bintang Radio tetaplah pionir ajang pencarian bakat menyanyi di Indonesia, yang juga menjadi titian karier industri rekaman. Misalnya Lokananta, produsen piringan hitam yang dikelola pemerintah mulai 1950-an di Surakarta.

Rata-rata alumnus Bintang Radio tak lagi hanya fokus pada siaran di radio dan televisi, melainkan mengepakkan sayap di perusahaan rekaman macam Lokananta.

“Lokananta juga menjadi bagian konstelasi industri musik pop saat itu dengan merilis berbagi album dari pemusik seperti Didi Pattirane, Bing Slamet, Sam Saimun, Waldjinah, Titiek Puspa, Gesang, Christine, Kabama, Bob Tutupoly, A. Kadir, A. Rafiq, dan masih banyak lagi termasuk rekaman Gending Karawitan gubahan dalang ternama Ki Narto Sabdo serta Karawitan Jawa Surakarta dan Yoagyakarta,” catat Denny Sakrie, dalam 100 Tahun Musik Indonesia (2015: 24).

Baca juga artikel terkait PENYANYI LEGENDARIS atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin