tirto.id - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo nampaknya harus ekstra sabar melihat kinerja penyaluran kredit perbankan. Sebab, penurunan suku bunga bank sentral sebanyak tiga kali sejak awal tahun belum mempan mengatrol pertumbuhan pinjaman.
Padahal, langkah-langkah Bank Indonesia sudah tergolong agresif untuk menjaga kecukupan modal perbankan. Selain menurunkan suku bunga acuan 75 bps menjadi 5,25 persen, BI juga melonggarkan kebijakan makroprudensial dan menyuntikkan insentif likuiditas tambahan Rp376 triliun bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
Tebalnya modal perbankan terlihat dari posisi Capital Adequacy Ratio/CAR pada Mei 2025 yang tetap tinggi sebesar 25,48 persen, sedangkan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,05 persen pada Juni 2025.
"Dari Bank Indonesia sudah all out untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk juga mendorong kredit pembiayaan," ujarnya dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (16/7/2025). "Pertanyaannya," kata Perry dalam kesempatan sama, "mengapa suku bunga (perbankan) belum turun? Kenapa kredit pertumbuhannya bulan lalu (Juni) juga turun?"
Pernyataan Perry tentu dapat dipahami. Sebab, efektivitas kebijakan moneter BI memang sangat bergantung pada kecepatan perbankan dalam mentransmisikannya (pass through) ke besaran suku bunga kredit maupun deposito. Gap antara penurunan suku bunga bank sentral dan perbankan itu lah yang kerap membuat ekspansi moneter tak bisa segera membuat aktivitas konsumsi dan investasi bergairah.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi kecepatan transmisi kebijakan moneter ke sektor keuangan dan perbankan. Salah satunya, tingkat persaingan antar-bank di Indonesia. Ini membuat penyesuaian suku bunga kredit menjadi rigid dan ditentukan oleh pricing strategy internal setiap bank.
Karena itu lah, butuh waktu sekitar tiga hingga enam bulan hingga keputusan Bank Indonesia benar-benar direspons perbankan dalam bentuk penurunan suku bunga kredit. Dalam periode itu, bank biasanya berhitung untuk tetap menjaga margin keuntungan.
"Misalnya BI menurunkan 25 basis poin, bank mungkin baru menurunkan di bawah itu, dan baru terjadi setelah tiga bulan," ujar Tauhid sembari menambahkan bahwa prospek perekonomian yang tidak jelas, iklim bisnis yang tidak kondusif, atau daya dukung infrastruktur yang rendah juga bisa menjadi faktor yang membuat transmisi suku bunga berjalan lambat. "Mereka (bank) tetap mempertahankan net interest margin-nya."
Di sisi lain, kecepatan penyesuaian suku bunga juga berbeda antara kredit dan simpanan. Suku bunga deposito, misalnya, bisa lebih cepat menyesuaikan ketika BI menurunkan bunga acuan. Tauhid menjelaskan, hal ini terjadi karena sifat deposito yang jangka pendek dan cepat berputar, sehingga bank lebih mudah mengatur likuiditas dari sisi dana masuk. Berbeda halnya dengan penyaluran kredit yang prosesnya lebih panjang dan menyangkut risiko kelayakan debitur.
Ada pula faktor di luar perbankan seperti kecenderungan masyarakat yang lebih cepat bereaksi ketika bunga naik (untuk menabung), dibanding saat bunga turun (untuk mengambil pinjaman). "Misalnya deposito 3–4 bulan, ketika BI turunkan bunga, bank bisa langsung sesuaikan. Karena mereka perlu tarik dana dari masyarakat dengan cepat," ucapnya.
Tauhid juga menyoroti insentif penyaluran kredit masih yang kalah menarik dibanding menempatkan dana di instrumen berisiko rendah seperti Surat Berharga Negara (SBN). Ini mengakibatkan fenomena crowding out, di mana minat bank untuk menyalurkan kredit ke sektor riil tergeser oleh minat terhadap SBN yang menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko minimal.
Kondisi ini tak lepas dari faktor eksternal di mana sejak perang Rusia-Ukraina meletus pada 2022, suku bunga global yang naik signifikan membuat negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terpaksa menaikkan suku bunga untuk mempertahankan daya tarik portofolio dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Instrumen seperti SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), misalnya, justru kian mengundang dana asing, yang pada gilirannya memperkuat nilai tukar, namun tidak berkontribusi langsung terhadap pembiayaan sektor riil. "Jadi, mereka (bank) tunggu momentum. Ketika ada lag, mereka manfaatkan. Jadi memang bisa terjadi efek crowding out, karena SBN yang lebih menarik," ucap Tauhid.
Karena itu lah, menurut Tauhid, pendekatan moneter yang dilakukan BI tak akan ampuh jika tidak diimbangi dengan peran aktif dari sisi fiskal. "Ketika BI menurunkan suku bunga, fiskalnya juga harus bergerak untuk mendorong demand ekonomi," katanya.
Ia mencontohkan, pemerintah bisa menggencarkan proyek-proyek infrastruktur, meningkatkan belanja sosial, atau memberikan insentif fiskal—baik dalam bentuk pemotongan pajak maupun dukungan pembiayaan—agar permintaan di sektor konsumsi dan produksi benar-benar pulih. Sebab tanpa stimulus tambahan dari pemerintah, sektor swasta maupun rumah tangga tetap akan bersikap hati-hati dan enggan berutang.
"Kalau tidak ada aktivitas ekonomi atau proyek pemerintah yang mendorong konsumsi dan produksi, transmisi tidak akan berjalan efektif," tegasnya.
Adapun dampak lambatnya transmisi suku bunga ini, jelas Tauhid, terutama akan menyasarsektor konsumsi dan infrastruktur, di mana bisnis seperti properti, konstruksi, pengadaan air, hingga penyediaan listrik dan gas, akan cenderung lambat menyerap kredit karena sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan kejelasan belanja negara.
Sebaliknya, kredit investasi justru lebih tangguh. Sektor ini kerap tetap tumbuh walaupun suku bunga tinggi karena ada kebutuhan modal kerja yang tidak bisa ditunda. "Kalau PMA atau PMDN masuk, mereka tetap akan ambil kredit walaupun bunganya tinggi—asal ada kepastian bisa menambah modal kerja," ujarnya.
Dari sisi perbankan, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengakui bahwa tidak semua nasabah akan langsung merasakan dampak dari perubahan suku bunga acuan. Selain persoalan transmisi suku bunga, hal itu juga bergantung pada perjanjian awal antara nasabah dan bank. Bagi debitur dengan skema pinjaman mengambang (floating rate) berbasis benchmark seperti JIBOR atau IndONIA, penyesuaian akan mengikuti perubahan suku bunga pasar uang.
"Nah tentu kalau kita lihat di BCA, di beberapa tahun sebelumnya pada saat BI menaikkan suku bunga, kebanyakan nasabah kita tidak naikkan semuanya. Tapi tentu ada nasabah-nasabah kita yang memang perjanjiannya adalah sesuai dengan market rate. Nah ini akan mengikuti penurunan dari benchmark," ujar Hendra dalam Press Conference Paparan Kinerja Semester I 2025, Rabu (30/7/2025).
Meski demikian, dari sisi suku bunga simpanan, BCA telah mulai melakukan penyesuaian. Dalam dua pekan terakhir, suku bunga deposito bank swasta terbesar ini diturunkan sebesar 25 basis poin untuk tenor pendek. Namun, untuk tenor jangka panjang, BCA justru menaikkan sedikit suku bunganya guna memberikan insentif bagi nasabah yang ingin menaruh dananya lebih lama. "Di mana rate-nya juga masih cukup menarik," tambah Hendra.
Hal serupa juga disampaikan Wakil Direktur Utama Danamon, Honggo Widjojo Kangmasto. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan mengikuti arah kebijakan Bank Indonesia, meski pelaksanaannya tidak serta-merta. "Semua kenaikan atau penurunan suku bunga seperti layaknya selama ini ada time lag, kira-kira 3 bulan lah biasanya," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dalam periode tersebut, bank akan melakukan penyesuaian secara bertahap.
Honggo juga menilai bahwa kondisi likuiditas perbankan saat ini masih relatif terjaga. Menurutnya, Bank Indonesia cukup berhasil dalam memastikan kecukupan dana di pasar. Namun, persaingan untuk menarik dana masyarakat tetap berlangsung ketat, yang kemudian memengaruhi struktur bunga simpanan antarbank.
Menurutnya, hingga paruh pertama 2025, belum terlihat ada tekanan yang berarti di industri perbankan. Meski demikian, ruang untuk menurunkan bunga kredit kemungkinan masih akan sangat bergantung pada kecepatan transmisi dan dinamika dana pihak ketiga dalam beberapa bulan ke depan
"Dengan adanya persaingan itu, maka suku bunga deposito itu juga lumayan relatif bersaing antarbank. Sehingga tentunya kita menggunakan beberapa strategi selain pricing juga dengan strategi-strategi promosi yang lain supaya nasabah loyal dengan Danamon tetap bertahan dan kita mendapatkan porsi yang baru dari likuiditas ini," pungkasnya.
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































