Menuju konten utama

BI Pangkas SRBI Rp169,4 T demi Dorong Likuiditas di Perbankan

Penurunan porsi lelang ini dilakukan agar dana yang sebelumnya ditempatkan investor di SRBI beralih ke perbankan.

BI Pangkas SRBI Rp169,4 T demi Dorong Likuiditas di Perbankan
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kanan) saat menyampaikan konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (17/2/2025). Pemerintah menetapkan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) dalam sistem keuangan Indonesia akan ditingkatkan menjadi 100 persen dengan jangka waktu 12 bulan sejak penempatan dalam rekening khusus DHE SDA dalam bank-bank nasional yang berlaku untuk sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, telah mengurangi porsi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Rp169,4 triliun per 23 Juli 2025. Menurutnya, penurunan porsi lelang ini dilakukan agar dana yang sebelumnya ditempatkan investor di SRBI beralih ke perbankan, sehingga dapat melonggarkan likuiditas di pasar uang.

“SRBI awal Januari Rp923,5 triliun, sekarang (posisi 23 Juli 2025) Rp754,1 triliun. Artinya sudah kurang berapa? Rp169,4 triliun. SRBI sudah turun Rp169,4 triliun, itu berarti kan likuiditas bank bertambah,” papar Perry, dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kantor LPS, Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025).

Selain menurunkan penerbitan SRBI, Bank Indonesia juga telah menurunkan suku bunga surat utang Bank Indonesia itu hingga 117 basis poin (bps). Berdasarkan catatan Bank Indonesia, per 31 Januari 2025, suku bunga SRBI dengan tenor 12 bulan adalah 6,74 persen, sedangkan untuk saat ini suku bunga SRBI dengan tenor yang sama hanya sebesar 5,57 persen.

“Jadi, sudah turun 117 poin. Dan ini juga menurunkan suku bunga SPN (Surat Perbendaharaan Negara). Itu yang kemudian bisa mendorong daya beli (masyarakat) pertumbuhan (ekonomi nasional),” lanjut Perry.

Meski begitu, untuk mengerek ekonomi domestik agar tumbuh lebih tinggi, Bank Indonesia juga telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp147,6 triliun hingga 25 Juli 2025. Jumlah tersebut bertambah Rp2,7 triliun dari posisi 15 Juli 2025, di mana sampai saat itu pemerintah sudah membeli surat utang pemerintah hingga Rp144,9 triliun.

Di sisi lain, untuk menghadapi perlambatan ekonomi dan tekanan global, Bank Sentral juga telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps, menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2025. Penurunan ini menjadi yang kedua kalinya, setelah pada Mei 2025 Bank Indonesia juga memangkas 25 bps suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

“Nomor empat adalah stabilisasi nilai tukar rupiah. Kalau nilai tukar stabil, kan harga-harga juga stabil, daya belinya juga terdorong,” lanjut Perry.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Anggun P Situmorang