Menuju konten utama

BCA Alirkan Kredit Rp959 T di Semester I, Terbanyak ke Korporasi

Likuiditas kian memadai, BCA akan revisi target penyaluran kredit di semester II 2025.

BCA Alirkan Kredit Rp959 T di Semester I, Terbanyak ke Korporasi
Seorang petugas melayani nasabah yang akan membuka rekening baru di Bank Central Asia (BCA) Dumai di Dumai, Riau, Rabu (14/10/2020). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/foc.

tirto.id - PT Bank Central Asia Tbk dan entitas anak membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp959 triliun sampai akhir Juni 2025. Pertumbuhan tersebut didukung penyaluran kredit di berbagai segmen, khususnya kredit korporasi yang pada semester I 2025 tumbuh 16,1 persen (yoy) mencapai Rp451,8 triliun.

“Pertumbuhan kredit BCA positif di berbagai segmen, mulai dari korporasi, UMKM, serta konsumer,” ujar Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja Bank BCA Semester I 2025 secara daring, Rabu (30/7/2025).

Selanjutnya, kredit Perseroan yang paling banyak disalurkan adalah kredit komersial yang mengalami kenaikan 12,6 persen (yoy) menjadi Rp143,6 triliun dan kredit UKM meningkat 11,1 persen (yoy) menjadi Rp127 triliun. Di sisi lain, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh hingga 8,4 persen (yoy) menjadi Rp137,6 triliun, dan kredit kendaraan bermotor (KKB) naik 5,2 persen (yoy) mencapai Rp65,4 triliun.

“Total pertumbuhan kredit konsumer mencapai 7,6 persen (yoy) hingga Rp226,4 triliun,” lanjut Hendra.

Sementara itu, outstanding pinjaman konsumer lainnya yang sebagian besar berasal dari transaksi kartu kredit tumbuh 9,4 persen (yoy) mencapai Rp23,4 triliun. Pada saat yang sama, penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan naik 21,1 persen (yoy) menyentuh Rp239,7 triliun per Juni 2025, setara 24,9 persen dari total portofolio pembiayaan.

Menurut Hendra, kendati penyaluran kredit Perseroan dari seluruh segmen mengalami peningkatan, kualitas pinjaman BCA terjaga solid, tercermin dari rasio loan at risk (LAR) 5,7 persen pada semester I 2025. Posisi itu lebih baik dari LAR BBCA di periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 6,4 persen.

“Rasio non-performing loan (NPL) terkelola di level 2,2 persen. Pencadangan NPL dan LAR memadai, masing-masing 167,2 persen dan 68,7 persen,” imbuhnya.

Sementara itu, seiring dengan likuiditas yang semakin memadai, Hendra mengatakan tak akan merevisi target penyaluran kredit Perseroan di semester II 2025 ini. Kendati, diakuinya kondisi perekonomian global tengah mengalami gejolak, utamanya karena dunia tengah menunggu kepastian akan tarif resiprokal yang ditetapkan Amerika Serikat.

Kemudian, langkah Bank Indonesia (BI) yang juga telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen, semakin membuat likuiditas bank semakin lebar. Pun, pada paruh kedua biasanya pemerintah juga menggenjot belanja untuk mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jadi, ini mudah-mudahan ini bisa menambah, menstimulus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi di second half. Nah, dengan itu mudah-mudahan pertumbuhan kredit tentu saja dan dana pihak ketiga ini bisa lebih baik lagi,” tutup Hendra.

Baca juga artikel terkait KREDIT atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana