Menuju konten utama

BEI Sebut Free Float 267 Emiten Masih di Bawah 15 Persen

Peningkatan free float dari 7,5 persen ke 15 persen rencananya akan diterapkan pada Maret 2026.

BEI Sebut Free Float 267 Emiten Masih di Bawah 15 Persen
Pekerja berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). IHSG perdagangan sesi I ditutup melemah 442,44 poin atau 5,31 persen ke posisi 7.887,16, dengan kelompok 45 saham unggulan indeks LQ45 turun 33,16 poin atau 3,98 persen ke posisi 800,37. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/rwa.

tirto.id - Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan saham beredar di publik (free float) 267 emiten telah memenuhi batas di atas 7,5 persen, namun masih di bawah 15 persen.

"Berdasarkan pemantauan Bursa terhadap Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham per 31 Desember 2025 yang disampaikan oleh Perusahaan Tercatat, terdapat 267 Perusahaan Tercatat yang saat ini sudah memenuhi free float 7,5 persen. Namun, masih kurang dari 15 persen," ucap Yetna kepada awak media, Kamis (19/2/2026).

Menurut Yetna, dibutuhkan dana hingga Rp187 triliun yang diserap pasar untuk memenuhi free float 15 persen.

"Potensi tambahan market cap dari ke-267 Perusahaan Tercatat tersebut yang harus diserap oleh pasar untuk memenuhi free float 15 persem sekitar Rp187 triliun," tutur dia.

Sebagai informasi, peningkatan free float dari 7,5 persen ke 15 persen rencananya akan diterapkan pada Maret 2026. Langkah itu merupakan solusi untuk memenuhi seluruh catatan dan kekhawatiran penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, mengatakan bahwa isu yang menjadi perhatian MSCI sangat sejalan dengan program rencana aksi OJK, khususnya klaster transparansi.

“Dari 8 rencana aksi, khususnya terkait dengan klaster transparansi, yang terkait dengan pengungkapan ultimate beneficial ownership dan juga terkait dengan likuiditas untuk mendorong peningkatan free float,” ujarnya.

Secara rinci, proposal solusi yang diajukan mencakup tiga komitmen utama. Pertama, peningkatan disklosur kepemilikan saham hingga ke level di bawah 5 persen.

“Terkait dengan disclosure atas kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5 persen yang kita komitkan untuk dapat dilakukan untuk kepemilikan saham di atas bahkan 1 persen,” ujarnya.

Kedua, penghalusan data klasifikasi investor yang dikelola KSEI. Saat ini hanya ada 9 tipe investor utama, namun akan dirinci menjadi 27 sub-tipe. Langkah ini, menurut Hasan, akan meningkatkan kredibilitas pengungkapan kepemilikan manfaat (beneficial ownership).

Ketiga, rencana kenaikan free float minimum saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

“Yang tentu pelaksananya akan dilakukan secara bertahap dan dilakukan bersama seluruh pelaku,” jelasnya.

Hasan juga menyebut diskusi berlangsung sangat baik dan telah disepakati pertemuan lanjutan di tingkat teknis. “Bahkan dari pihak MSCI menyediakan diri untuk memberikan guidance pada saat menjelaskan bagaimana metodologi dan cara perhitungan yang akan mereka lakukan,” paparnya.

SRO pun berkomitmen untuk memberikan pembaruan berkala kepada publik mengenai progres pemenuhan komitmen ini. Regulator berharap upaya transparansi ini pada akhirnya akan berujung pada konfirmasi positif dari MSCI dalam evaluasi mendatang.

Baca juga artikel terkait PASAR SAHAM atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi