Menuju konten utama

Apakah Peci, Kopiah, dan Songkok Sama? Yuk, Intip Sejarahnya

Ketahui perbedaan antara peci, kopiah, dan songkok di Indonesia, serta jenis penutup kepala seperti apa yang cocok digunakan para muslim untuk beribadah.

Apakah Peci, Kopiah, dan Songkok Sama? Yuk, Intip Sejarahnya
Ilustrasi pria memakai kopiah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Peci, kopiah, dan songkok merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut penutup kepala bagi laki-laki dan identik dengan atribut keagamaan. Lalu, apa perbedaan peci dan kopiah dengan songkok di Indonesia?

Peci, kopiah, dan songkok pada dasarnya adalah penutup kepala yang identik digunakan oleh pria muslim, khususnya saat menunaikan ibadah shalat. Konon, penutup kepala ini memang dibawa dan diperkenalkan oleh para pedagang dari Arab saat menyebarkan Islam di Tanah Air.

Namun, seiring perkembangan zaman, ketiganya juga dipakai dalam berbagai acara formal, seperti pernikahan, perayaan tertentu, atau upacara kenegaraan sehingga fungsinya tidak lagi terbatas pada konteks ibadah.

Peci, kopiah, dan songkok sering dianggap sama oleh masyarakat Indonesia. Namun, ketiga jenis penutup kepala ini memiliki sejarah dan asal-usul nama yang berbeda satu sama lain.

Perbedaan Peci, Kopiah, dan Songkok

Shalat Idul Adha di Tambun

Ilustrasi pria muslim yang memakai berbagai jenis penutup kepala. ANTARA FOTo/ Fakhri Hermansyah/rwa.

Pada dasarnya, tidak ada yang tahu pasti mengenai sejarah atau bagaimana awal mula peci, kopiah, dan songkok ini diperkenalkan dan mulai menyebar di Tanah Air. Tentu ada perbedaan pendapat mengenai asal-usulnya.

Sebagian berpendapat bahwa peci, kopiah, dan songkok sebenarnya merujuk pada satu jenis penutup kepala yang sama, hanya beda penyebutan nama.

Mengutip dari skripsi berjudul Sejarah Penutup Kepala di Indonesia: Studi Kasus Pergeseran Makna Tanda Peci Hitam (1908-1949), sebenarnya tidak ada perbedaan makna di antara peci, kopiah, dan songkok.

Jadi, ketiganya dianggap sama, yang membedakan hanyalah dari sejarah tentang bagaimana istilah-istilah tersebut diadopsi menjadi nama penutup kepala di Indonesia.

Namun, ada pula sebagian orang yang berpendapat bahwa ketiganya adalah jenis penutup kepala yang berbeda, tapi memang sangat mirip dari segi bentuk fisiknya. Guna memahami lebih jauh, berikut penjelasan tentang perbedaan peci dan kopiah, serta songkok di Indonesia:

Peci

Shalat di Rumah
Ilustrasi shalat dengan peci. (FOTO/iStockphoto)

Untuk memahami perbedaan peci dan kopiah, kita perlu mengetahui definisi, sejarah, dan bentuk fisiknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peci diartikan sebagai penutup kepala yang terbuat dari kain atau bahan lainnya, bentuknya pun meruncing di kedua ujungnya.

Peci diperkirakan mulai diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab pada abad ke-8 dan menjadi sangat populer di masyarakat Melayu, termasuk di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Namun, penyebutan peci sendiri dipercaya lahir ketika masa kolonial Belanda. Nama ini berasal dari kata petje yang terdiri dari pet (topi) dan tje yang bermakna kecil. Secara harfiah, petje berarti topi kecil.

Lambat laun, penyebutan tje mengalami penyesuaian bunyi menjadi ci sehingga petje pun disebut sebagai peci oleh masyarakat Indonesia.

Ada pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa istilah peci sebenarnya berasal dari istilah fezzi, merujuk pada kata fez yang tak lain adalah topi khas orang Turki.

Dari segi fisik, peci umumnya memiliki bagian atas yang agak datar dengan bentuk membulat dan sedikit meruncing di bagian ujung. Sementara bagian sisi sampingnya melingkar atau mengelilingi kepala, dan sudut pertemuan bagian atas dengan sisinya cenderung melengkung.

Dari segi bahan, peci sering terbuat dari kain yang agak tipis sehingga cukup fleksibel dan bisa dilipat, tapi ada juga yang dibuat dari bahan yang lebih kaku.

Warna peci bisa bermacam-macam, mulai dari putih, hitam, atau warna lain. Peci di Indonesia juga sering dikreasikan dengan berbagai macam motif atau hiasan bordir sehingga terlihat lebih variatif dan menarik.

Kopiah

Ilustrasi Salat
Ilustrasi Salat dengan Kopiah. foto/istockphto

Menurut KBBI, kopiah adalah peci yang biasa digunakan para muslim saat shalat. Perbedaan peci dan kopiah bisa dilihat dari segi bentuknya yang memang agak mirip, tapi memiliki ciri khasnya masing-masing.

Kopiah berbentuk lebih lonjong dan pipih di kedua ujung. Dibandingkan peci, kopiah memiliki sisi samping yang lebih kaku. Bagian atasnya datar, sedangkan sudut pertemuan antara bagian atas dan sisi sampingnya cenderung lebih tegas.

Kopiah umumnya berwarna hitam dan bagian luarnya terbuat dari bahan beludru yang lembut. Namun, seiring berjalannya waktu, kopiah modern mulai dikreasikan dengan tambahan hiasan di bagian sisi sampingnya sehingga tidak terlihat monoton.

Nama kopiah sendiri dipercaya berasal dari kata Arab seperti keffiyeh, kaffiyeh, atau kufiya yang berarti tutup kepala. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa ada perbedaan besar dari segi bentuk antara kufiya dari Arab dan kopiah yang kita kenal sekarang.

Kufiya merujuk pada penutup kepala dari kain berbentuk persegi yang ditangkupkan sedemikian rupa di atas kepala. Penutup kepala ini pun menjadi ciri khas budaya Arab dan Timur Tengah.

Pada akhirnya, kufiya digunakan untuk menyebut penutup kepala yang ada di Indonesia. Kata Arab ini pun diserap ke bahasa Melayu sehingga pengucapan huruf “f” pada kufiya berubah menjadi “p”, dan muncullah nama kopiah.

Sementara menurut jurnal Kopiah/Peci sebagai Salah Satu Atribut Identitas Bangsa Indonesia, kopiah dan peci sebenarnya mengacu pada satu jenis penutup kepala yang sama. Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan peci dan kopiah dari segi bentuk, melainkan hanya beda penyebutan.

Dalam jurnal tersebut diungkap bahwa kopiah bukan asli dari Indonesia. Bentuk asli kopiah yang kita kenal sekarang adalah hasil karya orang Bandung bernama Pak Tayubi.

Di sekitar tahun 1907-1908, Pak Tayubi menciptakan kopiah berwarna hitam polos dengan memadukan desain penutup kepala dari Turki dan India. Kopiah Pak Tayubi ini pun kemudian dipasarkan mulai 1912 oleh saudara iparnya yang juga pemilik toko M. Iming di Bandung.

Songkok

Ilustrasi Shalat Malam
Ilustrasi pria memakai songkok rajut. foto/IStockphoto. foto/IStockphoto

Setelah mengetahui perbedaan peci dan kopiah, kita juga perlu tahu tentang songkok. Nama songkok diyakini berasal dari istilah bahasa Inggris, yaitu skull cap yang dapat diartikan sebagai topi penutup bagian atas kepala (batok kepala atau ubun-ubun).

Seperti peci dan kopiah, istilah skull cap yang dikenal pada masa penjajahan Inggris ini pun mengalami perubahan pelafalan, mulai dari yang awalnya disebut song kep hingga akhirnya berubah menjadi songkok.

Mengutip tulisan bertajuk The Origin of the Songkok or 'Kopiah' karya Rozan Yunos yang dipublikasikan di The Brunei Times, songkok adalah sejenis topi berbentuk oval tanpa pinggiran yang menyerupai “skull hat”.

Berdasarkan definisi tersebut, maka songkok dapat digambarkan sebagai penutup kepala berbentuk setengah lingkaran, dan seperti sejarah penyebutan namanya, bentuknya mirip skull cap atau “songkok haji” di Indonesia.

Songkok diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang saat itu menyebarkan agama Islam. Di negara-negara lain juga ada penutup kepala yang mirip dengan songkok, salah satunya fez dari Turki.

Menurut tulisan Rozan Yunos, fez dulunya berbentuk lebih bulat, tapi kemudian dibuat menjadi lebih keras dan lebih panjang. Beberapa ahli pun meyakini bahwa penutup kepala ini adalah pendahulu dari songkok yang menyebar di Asia Tenggara.

Namun, para pengrajin Melayu zaman dulu kemungkinan telah memodifikasi songkok asli yang bentuknya cenderung bulat, lalu menghasilkan songkok dengan bentuk sedikit lonjong dengan bagian atas yang datar.

Songkok pun dibuat dari kain felt atau beludru yang dipadukan dengan bahan lain yang lebih kaku untuk membuatnya sisi sampingnya tetap tegak. Pada akhirnya, songkok pun berubah menjadi lebih mirip kopiah.

Bahkan, KBBI pun mendefinisikan songkok sebagai tudung kepala pria yang biasanya terbuat dari beludru, dan songkok adalah nama lain dari peci atau kopiah.

Songkok pun tak lagi merujuk pada skull cap yang menjadi “nenek moyangnya”, tapi lebih mengacu pada peci atau kopiah. Di Indonesia sendiri, peci songkok sempat populer di masa Presiden Soekarno hingga akhirnya menjadi salah satu atribut identitas nasional sampai saat ini.

Mana yang Paling Cocok untuk Beribadah? Peci, Kopiah, atau Songkok?

Shalat di Rumah

Ilustrasi Ibadah. (FOTO/iStockphoto)

Mengutip dari laman NU Online, penutup kepala seperti peci, kopiah, atau songkok bukanlah kewajiban dalam hal beribadah, termasuk shalat. Namun, memakai penutup kepala saat ibadah memang dianjurkan karena hal ini merupakan kebiasaan Rasulullah SAW.

Shalat tanpa penutup kepala pun dihukumi makruh. Ibadah seperti shalat dianjurkan untuk mengenakan pakaian baik dan bagus karena berhadapan langsung dengan Allah SWT, dan mengenakan penutup kepala adalah bagian dari etika dan estetika saat beribadah.

Lalu, di antara peci, kopiah, dan songkok, mana yang paling cocok untuk digunakan saat ibadah? Pada dasarnya, tidak ada perintah atau larangan terkait ketiga jenis penutup kepala ini. Jadi, baik peci, kopiah, atau songkok, semuanya sama-sama cocok digunakan beribadah.

Agar penutup kepala benar-benar menunjang prosesi ibadah, akan lebih baik jika peci, kopiah, atau songkok yang dipilih memiliki ukuran yang pas dengan kepala agar tidak mudah geser dan jatuh.

Selain ukuran, akan lebih baik jika penutup kepala yang digunakan memiliki desain yang sederhana, tidak mencolok, dan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat.

Artinya, jika masyarakat sekitar terbiasa mengenakan kopiah, maka kita tidak perlu menyelisihi dengan mengenakan penutup kepala dengan bentuk yang jauh berbeda karena dikhawatirkan menjadi syuhrah.

Yang terpenting, jenis penutup kepala apapun sebaiknya digunakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT, bukan untuk pamer, bukan agar dianggap lebih alim/religius, dan bukan dipakai sebagai penanda status sosial.

Demikian penjelasan terkait peci, kopiah, dan songkok. Terlepas dari sejarahnya, ketiga penutup kepala ini memang identik sebagai perlengkapan ibadah atau atribut keagamaan.

Namun, seiring berjalannya waktu, penggunaannya tidak hanya terbatas pada kegiatan ibadah, tapi juga menjadi bagian dari identitas budaya, simbol sosial, dan busana formal dalam berbagai acara resmi maupun tradisi masyarakat Melayu, termasuk di Indonesia.

Butuh rekomendasi peci, kopiah, songkok, atau produk lainnya? Temukan berbagai barang pilihan untuk melengkapi kebutuhan harianmu di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Produk Pilihan

Baca juga artikel terkait PECI atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani