tirto.id - Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Danana (Persero), Yosep Nugraha Rubani mengatakan bahwa eskalasi konflik global, termasuk konflik Iran-Israel berdampak pada meningkatnya permintaan alat utama sistem senjata, termasuk bahan peledak.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi BUMN yang bergerak di bidang bahan berenergi tinggi dan penyedia layanan bahan peledak terpadu tersebut untuk melakukan eskpor.
“Kalau peluang selalu saja ada di negara-negara yang sedang berkonflik, pasti mereka butuh,” ujar Yosep kepada wartawan dalam kegiatan Eksplorasi Industri Pertahanan di PT Dahana, Subang, Jawa Barat pada Selasa (24/6/2025).
Meski demikian, Yosep menyebut bahwa prioritas utama mereka saat ini adalah memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk untuk TNI dan Polri. Selain itu, menurutnya, salah satu pertimbangan utama untuk menunda ekspor adalah karena produk-produk Dahana sebagian masih dalam proses sertifikasi.
“Pasti suatu pesanan [produk] runut. Seperti contoh bom, suatu produk biasanya akan ditanyakan sertifikatnya, kemudian di mana dia sudah dipakai. Kalau untuk produk, memang kalau soal peluang dimanfaatkan. [Bahkan] setiap kita melakukan Indo Defend, setiap kita ikut beberapa pameran di luar negeri melihat produk mereka nanya, 'ini sudah massal belum [diproduksinya]', 'ini sudah diproduksi blm' dan ‘berapa harganya',” terang Yosep.
Saat ini, kata dia, Dahana telah menjadi pengembang roket R HAN-122B untuk kebutuhan TNI, dengan jangkauan mencapai 25 kilometer. Untuk versi terbaru, Dahana menargetkan jangkauan hingga 100 kilometer.
“Kemudian yang litbang [proses penelitian dan pengembangan], yang sudah terpublikasi itu kita terakhir bisa mencapai 84 km. Kita mengarah ke bertahap dan kita ingin mencapai at least 100 km. Itu untuk jangkauan roket ya,” ucapnya.
Lebih jauh, Yosep menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mengembangkan roket tipe 450 untuk mengarah ke pengembangan rudal. Roket ini disebutnya memiliki diameter 45 sentimeter dan panjang sekitar enam meter, tetapi masih bersifat balistik, belum memiliki sistem kendali seperti halnya rudal.
“Nah kenapa dilakukan litbang ini, sebenarnya itu, cikal, atau cikal bakal atau grand strategy kita untuk mencapai rudal. Rudal dengan berbagai ukuran tentunya,” katanya. “Kita juga bekerja sama dengn berbagai pihak membuat rudal merapi, untuk ground to air, untuk mengejar pesawat. Tapi belum tersertifikasi, masih proses litbang. Tapi itu lah salah satu usaha kita untuk menguasai teknologi roket dan rudal,” sambung Yosep.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Biro Informasi Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang juga mengatakan bahwa penguatan industri pertahanan nasional merupakan komitmen jangka panjang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Terlebih, di tengah kondisi geopolitik yang semakin tak menentu.
“Salah satunya adalah propelan apalagi kalau kita melihat sekarang dengan kondisi yang ada saat ini geopolitik dan rivalitas antar negara tentunya mau tidak mau kita harus membangun postur pertahanan negara dan melakukan modernisasi,” katanya.
Lebih jauh, Frega menambahkan, penguatan pertahanan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan semua pihak. Ia berharap, pada 2045 visi besar Presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat dapat benar-benar terwujud.
“Kita yakin dengan komitmen yang ada dari pemerintah pusat, kementerian pertahanan terutama Bapak Presiden dan juga di level BUMN sampai dengan di PT. Dahana dan beberapa BUMN strategis lainnya untuk bisa mengimplementasikan dan tentunya ini menjadi perhatian kita semua karena bicara pertahanan itu adalah hak dan kewajiban semuanya,” terangnya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































