Menuju konten utama

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.509 Triliun per Februari 2026

Utang Luar Negeri Indonesia per Februari 2026 naik 2,5 persen menjadi 437,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.509 Triliun per Februari 2026
Sejumlah pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Bank Indonesia (BI) optimistis pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tertuang dalam asumsi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 bisa dicapai dengan sinergi kebijakan pemerintah dan bank sentral. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mencapai 437,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp7.509,54 triliun (kurs Rp17.149 per dolar AS). Posisi tersebut lebih tinggi ketimbang utang luar negeri Indonesia pada bulan sebelumnya yang masih sebesar 434,9 miliar dolar AS.

“Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5 persen (secara tahunan/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7 persen (yoy),” ungkap Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (15/4/2026).

Peningkatan posisi utang luar negeri tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.

Dari ULN publik, posisi utang luar negeri pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar 215,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 5,5 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 5,6 persen (yoy).

“Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang,” tambah Anton.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan utang luar negeri pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, yakni mencapai 22,0 persen dari total ULN pemerintah; Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan porsi sebesar 20,3 persen dari total ULN; Jasa Pendidikan sekitar 16,2 persen dari total ULN; Konstruksi mencapai 11,6 persen dari total ULN; serta Transportasi dan Pergudangan mencapai 8,5 persen dari total ULN.

“Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah. Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia,” jelasnya.

Kata Anton, peningkatan ULN Bank Indonesia sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dilakukan bank sentral saat mata uang Garuda melemah imbas peningkatan ketidakpastian global.

Di sisi lain, posisi utang luar negeri swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar 193,7 miliar dolar AS, secara tahunan turun 0,7 persen (yoy).

Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy). Berdasarkan sektor ekonomi, utang luar negeri swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta.

“ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta,” kata Anton.

Meski mengalami peningkatan, Anton mematikan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8 persen, serta dominasi utang luar negeri jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen dari total ULN.

“Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN,” ucap dia.

Peran utang luar negeri juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. “Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian,” tutup Anton.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana