Menuju konten utama

BI: Ruang Penurunan Suku Bunga Makin Tertutup Imbas Perang Iran

Perang di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dan kenaikan tajam yield obligasi pemerintah AS.

BI: Ruang Penurunan Suku Bunga Makin Tertutup Imbas Perang Iran
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (kiri) dan Deputi Gubernur BI Juda Agung (kanan) menyampaikan paparan pada Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan ruang penurunan suku bunga ke depan makin tertutup. Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian global yang dipantik oleh Amerika Serikat, mulai dari tarif resiprokal hingga serangan ke Iran.

Perry menjelaskan perang di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dan kenaikan tajam yield obligasi pemerintah AS. Akibatnya, BI terpaksa merekalibrasi kebijakan moneter untuk menahan gejolak.

"Meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan makin lama semakin tertutup," ujar Perry saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Ia memaparkan ketidakpastian global itu telah memicu lonjakan harga minyak hingga sempat menyentuh 122,95 dolar AS per barel dan mendorong harga emas stabil di level tertinggi.

Sementara itu, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun meningkat pesat akibat kenaikan defisit fiskal AS, termasuk untuk anggaran perang.

"Karena apa? Karena kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang," ujarnya.

Tingginya yield obligasi AS ini memicu arus keluar modal (outflow) besar-besaran dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, baik dalam bentuk obligasi maupun saham. Selain itu, dolar AS juga menguat.

“Portofolio inflow itu yang tahun lalu itu volatile. Tapi ada tren naik, tapi sejak tahun ini terjadi outflow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain,” ucapnya.

Untuk merespons situasi ini, BI melakukan sejumlah langkah rekalibrasi. Bank sentral mulai menaikkan instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) pada 2026 guna menarik arus modal masuk (inflow) dan menahan outflow.

Namun demikian, ia memastikan bahwa likuiditas perbankan tetap dijaga dengan mempertahankan uang beredar atau M2 di level dobel digit, mencapai 13,3 persen.

"Kami juga terus membeli SBN dari pasar sekunder. Tahun ini kami year to date sudah membeli Rp90,05 triliun," tutur Perry.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama