tirto.id - Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mirza Adityaswara, mengatakan pengenaan tarif resiprokal sebesar 19 persen untuk produk impor Indonesia masih belum final. Untuk itu pemerintah terus melakukan negosiasi hingga kesepakatan yang terbaik dicapai.
Menurutnya, tarif yang dikenakan untuk Indonesia masih mungkin turun ke 15 persen, jika melihat situasi dan kondisi makroekonomi Amerika Serikat (AS) dan pernyataan Presiden Donald Trump sendiri.
Pasalnya, Trump menyebut bahwa negara-negara yang tidak melakukan kesepakatan dagang dengan AS akan dikenakan tarif rata-rata 15-20 persen. Sedangkan Indonesia sendiri sudah melakukan negosiasi dan kesepakatan dagang dengan AS.
“Jadi kita berharap bahwa ini belum final sebenarnya. Mudah-mudahan bisa turun ke 15 persen,” katanya dalam media gathering di Jakarta, dikutip Senin (4/8/2025).
Mirza pun mengungkapkan, dalam pandangannya tidak mungkin Trump memberlakukan tarif yang tinggi kepada negara-negara importir barang-barang seperti sepatu, boneka, dan produk elektronik ke negaranya.
Sebab, beban dari pemberlakuan tarif tersebut akan ditanggung oleh rakyat AS sendiri. Pengenaan tarif tinggi berarti juga akan membuat harga barang yang masuk juga makin mahal.
“Masa iya sih Amerika ini mau rakyatnya disuruh bayar katakan 15 persen tarif,” ujarnya.
Terlebih, produk-produk yang diimpor ini adalah produk yang tidak diproduksi di AS. Industri AS sendiri cenderung bergerak di bidang manufaktur, teknologi, dan otomotif.
“Memang sudah siap Amerika suruh bikin boneka? Sudah siap disuruh bikin sepatu? Sudah siap lagi nyolder-nyolder bikin TV? Itu kan perlu transformasi labour (tenaga kerja) yang luar biasa,” ucapnya.
Dengan asumsi itu, ia meyakini bahwa AS akan melunak dan menurunkan tarifnya ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Apalagi, saat ini kondisi mata uang AS mengalami perlemahan, sehingga barang yang akam diimpor menjadi lebih mahal.
Di samping itu, negara-negara pengimpor barang Tekstil dan Produk Tekstil, garmen, dan alas kaki ini punya cakupan pasar yang cukup besar di AS.
Vietnam misalnya, dengan tarif resiprokal yang dikenakan saat ini sebesar 20 persen memiliki pasar untuk produk mesin listrik dan peralatannya, mencapai 42 miliar dolar AS begitu juga Indonesia dengan 4,8 miliar dolar AS.
Begitu pula dengan produk sepatu. Pangsa pasar Vietnam mencapai 9 miliar dolar AS dan Indonesia 2,6 miliar. Dengan size yang sebesar ini, menurut Mirza cukup sulit bagi AS untuk dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dengan produk industri mereka yang tidak fokus ke industri tersebut.
“Kan memang harapannya supaya berbondong-bondong pada bikin pabrik di Amerika. Apa iya? Terus berbondong-bondong mau bikin pabrik boneka, pabrik sepatu? Vietnam itu berapa tadi? Mereka kena 20 persen. Tapi berapa banyak dia men-supply untuk pakaian dan sepatu?” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































