Menuju konten utama

Sejarah Asal-usul Kata Puasa: dari Bahasa Arab atau Sanskerta?

Dari mana sejarah asal kata puasa yang menjadi ibadah wajib umat Islam? Berikut penjelasan tentang apakah puasa berasal dari bahasa Arab atau Sanskerta.

Sejarah Asal-usul Kata Puasa: dari Bahasa Arab atau Sanskerta?
Pengunjung mengamati koleksi naskah kuno saat pameran yang bertajuk "Merangkai Jejak Peradaban Negari Ngayogyakarta Hadiningrat" di Bangsal Pagelaran, Kompleks Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Jumat (8/3/2019). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/nz.

tirto.id - Umat Islam menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan atau hari-hari tertentu. Lantas, dari mana asal kata puasa? Apakah berasal dari bahasa Arab atau dari bahasa Sanskerta?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan istilah puasa berdasarkan dua makna. Pertama, meniadakan makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan keagamaan).

Sedangkan makna kedua istilah puasa menurut KBBI adalah salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri (saum) atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari.

Asal-usul Istilah Puasa

Dikutip dari NU Online, Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta, M. Jadul Maula, mengatakan bahwa asal kata puasa berawal dari bahasa Sanskerta. Ia menjelaskan tentang kata upawasa yang bermakna "ritual untuk 'masuk' ke Yang Ilahi".

Sanskerta adalah bahasa kesusastraan Hindu Kuno yang berasal dari Asia Selatan (India). Daerah Jawa dan wilayah Nusantara lain pada masa kerajaan bercorak Hindu-Buddha atau sebelum masuknya agama Islam ke Indonesia kerap menggunakan bahasa ini.

Istilah upawasa dalam bahasa Sanskerta mengalami adaptasi dengan bahasa lokal (Jawa), yakni pasa yang kemudian berkembang menjadi puasa. Pasa memiliki makna “kekangan”, “mengekang”, atau “menahan sesuatu dari”.

Ada juga pendapat mengenai puasa yang sudah menjadi tradisi leluhur bangsa Indonesia dalam konsep ajaran-ajaran terdahulu. Bahkan, kegiatan ini sudah ada sebelum era Hindu-Buddha di Nusantara.

Abu Maryam Kautsar Amru melalui buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadan (2018) mengungkapkan hal serupa. Puasa sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta yakni upa dan vasa (wasa), kemudian mengalami penggabungan menjadi upavasa atau upawasa.

Puasa menurut bahasa Sanskerta tersusun atas upa yang berarti “dekat” atau ”mendekatkan diri”. Sedangkan vasa atau wasa artinya adalah “Yang Maha Kuasa atau Yang Maha Agung”.

Dengan demikian, Abu Maryam Kautsar Amru menjabarkan bahwa puasa adalah "suatu upaya yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung (Tuhan)".

Adapun Budi Handrianto dalam Puasa Ibadah Kaya Makna (2007) menjelaskan bahwa puasa yang berasal dari bahasa Sanskerta memiliki arti berbeda dengan puasa yang dilakukan kaum muslimin.

Lantaran sudah membudaya selama ratusan tahun, puasa menjadi istilah yang seolah-olah dimiliki oleh kaum muslimin. Sementara pengertiannya kurang lebih sama dengan saum atau syiam dalam bahasa Arab.

Ajaran-ajaran agama selain Islam juga mengenal tentang istilah puasa. Menurut Budi Handrianto, puasa dalam Islam merupakan ibadah yang unik meskipun nama atau penyebutannya sama.

Di dalam KBBI, istilah saum, sawm, atau siyam dari bahasa Arab menjadi sebutan lain untuk puasa sebagai salah satu rukun Islam. Berdasarkan kata tersebut, puasa menurut bahasa artinya "menahan diri dari sesuatu".

Sementara itu, ada juga istilah puasa dalam bahasa Persia atau di negara-negara muslim selain Arab. Penduduk di sana menyebutkan aktivitas puasa sebagai rūzeh atau rōzah.

Apa Pengertian dari Puasa Menurut Istilah?

Melansir buku Fikih Islam Lengkap (1978) tulisan Moh. Rifa'i, pengertian dari puasa menurut istilah adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya semenjak terbitnya fajar hingga matahari terbenam karena perintah Allah SWT.

Adapun hal yang bisa membatalkan puasa dapat mencakup makan, minum, nafsu syahwat, dan lain-lain. Dari penjelasan ini, umat muslim yang berpuasa perlu menahan rasa lapar, haus, dan nafsunya.

Dengan begitu, arti puasa berdasarkan istilah adalah menahan diri dari beberapa hal yang membatalkan. Dalam kitab Subul al-Salam, seperti dikutip dari NU Online, puasa juga perlu memenuhi syarat waktu dan berbagai persyaratan yang sudah ditetapkan lainnya.

Adapun bulan Ramadan merupakan periode wajib berpuasa bagi seluruh umat Islam. Oleh karena itu, melihat orang terdekat puasa selama bulan suci merupakan hal yang lumrah.

Pastikan juga untuk terus mengikuti beragam informasi tentang puasa terbaru melalui laman berikut.

Informasi Puasa Terbaru

Baca juga artikel terkait SEJARAH PUASA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Edusains
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Yuda Prinada