Menuju konten utama

Sampah Tangsel Menumpuk: Air Tercemar, Kesehatan Warga Terancam

Dicky menyebut lindi mengandung bakteri fekal seperti E. coli dan coliform, logam berat, serta zat toksik lainnya.

Sampah Tangsel Menumpuk: Air Tercemar, Kesehatan Warga Terancam
Header Decode Darurat Sampah Tangerang Selatan. tirto.id/Fuad

tirto.id - Baru sekitar satu jam ibadah salat Jumat rampung dilaksanakan, sebuah motor membawa dua galon air minum isi ulang telah terparkir di depan rumah Agus (50). Warga asli Curug, RT/RW 006/004, Serpong, Tangerang Selatan, tersebut sudah sekitar dua tahun belakangan mesti merogoh kocek Rp80-100 ribu per hari hanya untuk minum dan masak.

Pasalnya, air sumur yang dulu bening dan diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci hingga memasak–kini berubah hitam pekat dan berbau busuk.

Sumur air tanah milik keluarga Agus, yang sudah puluhan tahun digunakan, kini musnah akibat cemaran air lindi dari gunungan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang. Jumat siang (12/12/2025), ketika Tirto berkunjung ke kediaman Agus, sumur yang berada tepat di sebelah kiri rumah itu, lebih seperti kubangan comberan. Sumur itu terendam air hujan yang terperangkap sampah.

“Untuk mandi ada baru dikasih toren air sekitar lima bulan lalu, ini pun setelah ditagih berapa kali. Air pipa PAM masih kadang suka bau, mungkin masih bocor sampah,” kata Agus ketika ditemui Tirto di rumahnya.

Agus

Agus (50), warga Curug, Serpong, Tangsel, yang rumahnya terdampak aktifitas TPA Cipeucang. tirto.id/Fajar

Air lindi membuat genangan menjadi berbau tak sedap dan berwarna pekat seperti oli. Maka tentu, Agus tak lagi dapat menggunakan sumurnya sejak rembesan air lindi TPA Cipeucang mengontaminasi air sumurnya.

Kondisi diperparah gunungan sampah TPA Cipeucang yang sepelemparan batu dari rumah Agus. Longsoran sampah terus merangsek lahan dan pekarangan Agus. Bau sampah tidak mampu terelak begitu Tirto mengobrol di depan teras rumah Agus.

“Awalnya masih bisa pakai air sumur, terus bocor lindi jadi agak hitam dan bau. Lama-lama jadi kayak oli nggak bisa buat minum dan nyuci, harus beli galon,” terang Agus.

Agus bertetangga dengan TPA Cipeucang sejak tempat pembuangan akhir ini beroperasi 2012 silam. Mulanya, gunungan sampah tak sampai ke areal dekat lahan dan pekarangan Agus serta tetangganya. Namun dua atau tiga tahun lalu, kata Agus, aktivitas pengerukan sampah semakin bergeser ke belakang rumahnya dan area lahan milik warga.

Bau busuk gunungan sampah yang sedari awal menusuk hidung Agus dan warga, semakin parah karena berguguran ke dekat rumah warga. Situasi ini menjadi-jadi ketika musim hujan datang, selain bau menyengat, longsoran sampah menyebabkan banjir setinggi lutut.

Jarak antara rumah Agus dan TPA Cipeucang yang dulu sekitar 10-12 meter, saat ini tersisa 3 meter saja. Agus merasa dongkol aktivitas TPA Cipeucang mengambil sekitar 7 meter tanahnya. Mulanya, UPTD Cipeucang selaku pengelola berjanji kepada Agus bahwa kondisi tersebut akan segera dibenahi. Dalihnya, kondisi terjadi darurat karena lahan pembuangan sampah Cipeucang semakin kurus.

Agus

Agus (50), warga Curug, Serpong, Tangsel, yang rumahnya terdampak aktifitas TPA Cipeucang. tirto.id/Fajar

Tak disangka Agus, kondisi itu malah terus terjadi selama bertahun-tahun, hingga membuat sumur dan pepohonan miliknya mati imbas pencemaran limbah. Hingga saat ini, keluhan warga sekitar yang menjadi korban aktivitas TPA Cipeucang seperti Agus selalu tidak digubris.

“Dari dulu juga sudah sering ngeluhin. Bilang sama kepala UPT-nya tapi nggak direspons. Diabaikan lah dalam laporan sering ngadu itu sama dia,” ucap Agus.

Di lokasi juga tidak dibangun turap atau buffer zone, sehingga sampah leluasa berjatuhan ke areal milik warga. Bahkan, sampah menahan laju sebuah aliran kali kecil yang semestinya mampu mengantarkan air hujan menuju Sungai Cisadane.

Imbasnya, pada awal Desember, terjadi banjir yang membuat salah satu tetangga Agus terpaksa mengosongkan rumahnya. Banjir berbau busuk naik hingga sepinggang di kediaman warga tersebut.

Pantauan Tirto, selain rumah milik Agus, ada empat rumah lain yang bertetangga langsung dengan TPA Cipeucang di wilayah RT/RW 006/004. Namun, ungkap Agus, ada sebanyak 12 kartu keluarga (KK) yang terdampak langsung aktivitas TPA Cipeucang. Misalnya lahan milik pribadi terkena longsoran sampah, sumur tanah tercemar air lindi, terdampak banjir karena sampah memerangkap aliran air, pepohonan hingga ternak mati, sampai terganggu kondisi kesehatannya.

TPA Cipeucang

Tumpukan sampah TPA Cipeucang yang sudah merangsek menuju pekarangan rumah warga Curug, Serpong, Tangerang Selatan. tirto.id/Fajar

Gangguan kesehatan juga dialami Agus sejak bertetangga dengan TPA Cipeucang. Ia sering pusing karena paparan bau sampah yang intens. Setiap malam, Agus sulit tertidur pulas karena lalat berkerumun. Semua anggota keluarganya pernah mengalami gatal-gatal. Agus juga mengaku mengalami sesak napas.

“Dulu nggak pernah kayak gini, normal-normal aja. Ya, pusing, banyak lah, keluhan nyamuk. Ini kan genangan kantong nyamuk, diare juga, banyak lah,” cerita Agus.

Kekesalan Agus menjadi-jadi ketika pemerintah daerah Kota Tangsel menyatakan solusi dari persoalan ini adalah pembebasan lahan warga. Menurut Agus, isu pembebasan itu tak lewat kesepakatan warga. UPTD Cipeucang sebelumnya berjanji kepada warga bahwa mereka dapat menawar harga sesuai dengan kondisi tanah mereka.

Namun, sampai sekarang, warga tak pernah dilibatkan berembuk. Padahal, orang-orang dari Pemda sudah sempat mengukur tanah mereka. Agus yakin, harga jual tanah sudah dipatok oleh pemerintah sehingga akan merugikan warga yang terimbas perluasan TPA Cipeucang.

“Sudah hafal lah cara mainnya, karena tanah keluarga di jalan Nambo juga udah dibeli buat TPA. Awalnya tawar-menawar dijamin, taunya cuma dibeli Rp1 juta per meter, sekarang beli tanah buat bangun rumah aja mana cukup harga segitu,” gusar Agus.

Agus menegaskan warga tidak memperdulikan soal pembebasan lahan selama daya tawar yang dilakukan masih timpang. Prioritas warga saat ini adalah pembenahan sampah TPA Cipeucang yang merangsek lahan mereka. Selain itu, warga mendesak TPA ditutup karena sudah tak layak menampung sampah.

Menurut Agus, warga sekitar TPA Cipeucang, sebanyak 1.444 KK, memang sudah mendapat kompensasi Rp250 ribu per tahun. Bagi Agus, angka tersebut tidak adil karena kompensasi dipukul rata kepada setiap warga, tanpa mempedulikan jarak rumah mereka dengan TPA.

“Saya, sejak nenek moyang saya tinggal di sini, warga sini. Sumur, pohon nangka, pisang, rambutan, sukun pada mati. Ini kok saya yang tinggal di sebelah sampah disamain dengan yang jauh kena baunya doang, keadilannya aja mana ini,” tegas Agus.

Warga Sakit Dampak Cemaran Sampah

Kemarahan warga memuncak di kepala ketika puluhan warga Curug, Serpong, Tangsel, melakukan unjuk rasa damai di halaman UPTD Cipeucang, Senin (8/12/2025). Diberitakan sebelumnya, aksi ini berlangsung panas. Warga menilai pemerintah tidak memberikan solusi nyata disaat genangan lindi merendam rumah warga dan mengganggu aktivitas ekonomi.

Enam tuntutan disampaikan warga dalam aksi unjuk rasa, di antaranya desakan penutupan TPA Cipeucang, normalisasi saluran air, pengaturan sampah yang masuk permukiman, kesiapan alat berat, penanganan lindi dan bau sampah, serta kompensasi kesehatan juga ekonomi bagi warga terdampak.

Di tengah desakan warga supaya TPA Cipeucang ditutup, Pemkot Tangerang Selatan justru menyiapkan anggaran Rp50 miliar untuk pembebasan lahan guna rencana perluasan landfill dalam APBD 2026. Namun, mayoritas warga menilai kebijakan itu tak menjawab kedaruratan yang dihadapi mereka saat ini.

Menurut data, sepanjang periode 2020–2024, tren timbulan sampah tahunan di kota Tangsel terus meningkat hingga mencapai lebih dari 414 ribu ton. Kondisi ini selaras dengan situasi terkini TPA Cipeucang yang sudah penuh dan pengangkutan sampah warga ikut terdampak.

TPA Cipeucang memang sudah tidak lagi mampu menampung produksi sampah harian 1,4 juta warga Tangsel. Setiap harinya, diperkirakan Tangsel menghasilkan sampah hampir 804 ton, namun hanya 400 ton sampah per hari yang mampu ditampung TPA Cipeucang.

Wacana pemkot Tangsel melakukan pembebasan lahan warga demi menambah area landfill keempat, juga bukan solusi bijak. Sejak awal, TPA Cipeucang dikelola amatiran karena memakai konsep open dumping yang sudah dilarang dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Bahkan, Oktober 2025 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyegel TPA Cipeucang imbas praktik open dumping dan memberikan waktu 180 hari bagi Pemkot Tangsel melakukan pembenahan.

Namun, warga sekitar TPA Cipeucang menerangkan bahwa pengiriman truk-truk sampah itu masih terjadi di bulan November bahkan sampai awal Desember 2025. Baru ketika mereka menggeruduk kantor UPTD Cipeucang pada Senin (8/12) lalu, pengiriman sampah ke TPA dihentikan sementara untuk dilakukan pembenahan.

Data pengurangan timbulan sampah kota Tangsel sepanjang 2019–2023 mencerminkan adanya persoalan di hulu. Pengurangan meningkat hingga 2022, lalu anjlok pada 2023. Ini menandakan program pemilahan, daur ulang, dan pengurangan sumber sampah tak bekerja konsisten. Akibatnya, hampir seluruh beban sampah mengalir ke sistem pengangkutan dan pembuangan akhir yang kewalahan.

Pemberhentian pengiriman sampah ke TPA Cipeucang akhirnya berbuntut panjang. Hingga awal pekan ini, tumpukan sampah menghiasi ruas jalan pada sejumlah titik di Kota Tangsel. Ini terbukti ketika Tirto melakukan reportase di daerah Pasar Ciputat, Kota Tangsel, Senin (15/12/2025). Tumpukan sampah menggunung di depan area pasar dan menimbulkan bau menyengat.

Pemerintah Kota Tangsel menutup tumpukan sampah menggunakan terpal sebagai bentuk penanganan sementara mengurangi dampak bau selama masa penataan TPA Cipeucang. Diamati Tirto, upaya ini salah satunya tampak di area bawah flyover Ciputat. Pemkot juga menyemprotkan cairan anti bau untuk mengurangi efek tumpukan sampah tercecer di jalan. Namun, bau sampah tetap saja mengganggu penciuman.

Berdasarkan data penanganan timbulan sampah 2019–2023, tampak pola yang tidak stabil. Penanganan sempat naik signifikan hingga 2022, namun jatuh tajam pada 2023. Fluktuasi ini menunjukkan sistem pengelolaan sampah Tangsel belum kokoh dan masih bergantung pada kebijakan jangka pendek. Dampaknya terasa saat ini, kendornya capaian penanganan membuat pemerintah kesulitan merespons lonjakan sampah secara konsisten.

Janji Pemkot Tangsel

Pemkot Tangsel sebelumnya menyampaikan pembangunan industri Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) akan dimulai pada Januari 2026. Sambil menunggu, Pemkot berjanji melakukan penataan TPA Cipeucang, mulai penerapan sistem sanitary landfill, pengelolaan air lindi, dan pemanfaatan gas metan untuk mengurangi dampak lingkungan.

Selain itu, Pemkot Tangsel mengaku akan mengintensifkan pengelolaan sampah dari hulu melalui optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPST 3R) serta penguatan bank sampah di setiap wilayah.

Di sisi lain, warga yang bertetangga dengan TPA Cipeucang tak bisa lagi menunggu terlalu lama. Dampak kondisi kesehatan sudah dirasakan warga secara nyata. Jika terus berkutat pada rencana, keselamatan warga sekitar TPA Cipeucang terus dirundung bahaya.

Uum (63), salah satu warga RT/RW 006/004 Curug, Serpong, mengaku saat ini hanya ingin agar pemerintah membenahi sampah yang sudah mulai merangsek ke lahannya. Pasalnya, kondisi ini membuat kesehatannya semakin memburuk belakangan.

“Yang saya rasakan gatel, pusing, sesak napas. Udah sampai berobat, kata dokter si ada pengaruhnya [karena sampah],” ungkap Uum ketika ditemui Tirto di kediamannya di Curug, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat pekan lalu.

UUM

Uum (63), warga Curug, Serpong, Tangerang Selatan, yang lahannya terdampak longsoran sampah TPA Cipeucang. tirto.id/Fajar

Selain kondisi kesehatan fisik, Uum menuturkan bau dan gunungan sampah TPA Cipeucang membuat dirinya diliputi kekhawatiran. Setiap hujan, Uum was-was longsoran sampah bakal menimbun rumahnya. Bau busuk sampah juga membuat Uum sulit tidur nyenyak dan sering terbangun di tengah malam.

Sama seperti Agus, Uum memang sudah mendapatkan bantuan toren dan pipa air PAM dari UPTD Cipeucang untuk keperluan mandi dan mencuci. Namun untuk memasak dan minum harian, Uum tetap harus membeli air minum isi ulang 2-3 galon per hari.

Bau yang menguar dari gunungan sampah TPA Cipeucang membuat pakaian yang selesai dicuci, kembali ditempeli bau busuk. Jarak halaman rumah Uum dengan gunungan sampah TPA Cipeucang hanya sekitar 6 meter. Longsoran sampah berjatuhan ke kebun milik Uum, membuat pepohonan mati merobohkan kandang ayam peliharaannya.

“Kalau nyuci bingung, anak mau pergi kerja tapi bajunya bau lagi pas digantung aduh. Angin ini bau sampahnya masuk ke rumah banyak lalat. Keluarga juga pernah diare,” ucap Uum.

Sedangkan Sofi, seorang warga Kademangan, yang berjarak 200 meter dari TPA Cipeucang juga mengaku bau sampah kerap membuat kepalanya pusing. Warung makan miliknya juga menjadi sepi, karena pelanggan tak betah berlama-lama di tempat usaha Sofi.

“Kalau ada yang datang makan di tempat, baru buka mulut, bau, mual, akhirnya milih untuk bungkus saja gitu,” kata Sofi ketika ditemui Tirto, Jumat pekan lalu.

Data timbulan sampah terkelola 2019–2023 memperlihatkan keberhasilan semu bagi Kota Tangsel. Capaian sempat tinggi pada 2022 yang menunjukkan ada potensi sistem bekerja optimal, tetapi turun drastis pada 2023. Selaras kondisi terkini, penurunan itu menjelaskan mengapa sampah kembali menumpuk meski sebelumnya sempat terkendali.

Jika warga yang berjarak ratusan meter saja begitu terdampak bau busuk TPA Cipeucang, bayangkan Agus, Uum, serta belasan warga lain yang tinggal berjarak beberapa meter dari pembuangan sampah tersebut. Hampir 3,5 jam meliput di sekitar area TPA Cipeucang, baju dan jaket yang dikenakan wartawan Tirto langsung ditempeli bau sampah menyengat.

Dampak Kesehatan Imbas Sampah

Meski telah dilakukan penutupan oleh terpal hingga penyemprotan menggunakan cairan anti bau, tidak menampik fakta keberadaan sampah sebagai sarang vektor pembawa penyakit, tetap mengancam kesehatan warga. Risiko kesehatan yang ditimbulkan juga beragam, hal ini tergantung jenis limbah dan media perantaranya.

"Jika limbahnya murni limbah organik dan mengundang penumpukan lalat, penyakit yang penyebarannya via lalat seperti diare, tifus, dan infeksi cacing. Belum lagi tikus, bisa ada leptospirosis, dan lain-lain. Tapi kalau limbah lain seperti logam berbahaya ya banyak lagi bahayanya," ungkap Associate Professor Public Health Monash University Indonesia, Grace Wangge, kepada Tirto, Selasa (16/12/2025).

Penutupan sampah menggunakan terpal dan sejenisnya tak bisa menjadi penghalang risiko penyakit. Bahkan penyemprotan dengan desinfektan tak berpengaruh terhadap datangnya hewan vektor seperti tikus yang menyebarkan penyakit berbahaya bagi manusia.

Grace mengungkap, pemerintah seharusnya memiliki perencanaan soal pengolahan sampah dan mitigasi adanya penumpukan sampah.

Tumpukan Sampah di Kota Tangsel

Petugas Menyemprotkan desinfektan untuk mengurangi bau pada tumpukan sampah di depan Puskesmas Serpong. (Foto: Jupri Nugroho)

"Banyak warga sebenarnya sudah cukup paham sampah dipilah, tapi kemudian kebanyakan setelah dipilah, disatukan lagi oleh pengangkut dan TPA," kata Grace.

Dalam sejumlah studi, warga di sekitar pembuangan sampah memang paling besar berisiko mengalami gangguan kesehatan. Misalnya, dalam penelitian yang terbit di Jurnal Geografi, Lingkungan & Kesehatan pada Juni 2025, keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Malimpung di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, disebut berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya, terutama gangguan pernapasan seperti sesak napas, pusing dan mual, serta penyakit kulit berupa gatal-gatal.

Dalam penelitian yang melibatkan delapan informan warga tersebut, mayoritas responden mengeluhkan bau tidak sedap dari timbunan sampah yang memicu gangguan pernapasan. Peningkatan populasi lalat dan hewan pembawa penyakit memperparah kondisi kesehatan lingkungan di sekitar TPA.

Begitu juga masyarakat yang bermukim dan bekerja di sekitar TPA Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam studi yang dimuat di Jurnal Kesehatan Visikes Vol. 21 No. 2 September 2022, terungkap bahwa masyarakat di sana mengalami gangguan kesehatan akibat paparan sampah yang berlangsung intens. Tumpukan sampah yang terus bertambah menghasilkan gas berbahaya yang berpotensi memicu gangguan pernapasan, iritasi tenggorokan, hingga mual, jika terhirup dalam jangka waktu lama.

Ahli kesehatan masyarakat dan lingkungan, Dicky Budiman, menilai keluhan sesak napas, gatal-gatal, pusing, dan gangguan tidur yang dialami warga sekitar TPA Cipeucang, Kota Tangsel, kemungkinan berkaitan langsung dengan paparan polutan dari timbulan sampah yang berjarak sangat dekat dengan permukiman.

Dicky menjelaskan, secara ilmiah, terdapat tiga mekanisme utama paparan dari timbulan sampah menggunung. Pertama yakni gas dan aerosol hasil dekomposisi sampah, seperti hidrogen sulfida (H2S), amonia, volatile organic compounds (VOC), serta bioaerosol.

Risiko tersebut, menurut Dicky, meningkat signifikan ketika jarak rumah warga sangat dekat dengan sumber sampah. Mekanisme kedua adalah paparan bioaerosol dan mikroorganisme patogen dari sampah yang terbawa angin.

“Paparan hidrogen sulfida dan amonia pada konsentrasi rendah tetapi kronis dan terus-menerus dapat menimbulkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, sesak napas, pusing, sakit kepala, gangguan tidur, dan gangguan konsentrasi,” ujar Dicky kepada wartawan Tirto, Senin (15/12/2025).

Sampah menumpuk di Tangsel dampak penutupan TPA Cipeucang

Pengendara sepeda motor menutup hidungnya saat melintas di dekat tumpukan sampah di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/12/2025).ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.

Mekanisme ketiga kontaminasi air tanah oleh cairan lindi. Dicky menyebut lindi mengandung bakteri fekal seperti E. coli dan coliform, logam berat, serta zat toksik lainnya. “Penggunaan air sumur yang sudah terkontaminasi dapat menyebabkan diare berulang, penyakit kulit, gangguan saraf, atau pusing akibat nitrat, amonia, dan logam,” jelas Dicky.

Menurut Dicky, standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan pedoman KLH mensyaratkan adanya buffer zone minimal 300–500 meter dari permukiman, bahkan idealnya hingga satu kilometer. Dia menilai kondisi TPA Cipeucang menunjukkan kegagalan sistemik pengelolaan sampah perkotaan.

Ia menegaskan, paparan bau sampah setiap hari bukanlah sekadar gangguan kenyamanan bagi warga, namun juga krisis kesehatan publik.

“Secara ilmiah, bau ini adalah indikator adanya polutan toksik dan bioaerosol. Jika pakaian wartawan saja menyerap bau hanya dalam tiga jam, bayangkan warga yang terpapar 24 jam setiap hari,” ucapnya.

Dalam keterangannya kepada Tirto, Pemerintah Kota Tangsel menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh tumpukan sampah yang terjadi di beberapa titik dalam beberapa waktu terakhir. Kepala Dinas Kominfo Tangsel, Tubagus Asep Nurdin menyadari penumpukan sampah berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat.

Menurut Asep, langkah penutupan sampah dan penyemprotan menggunakan cairan antibau memang dilakukan untuk pencegahan sementara sambil pengangkutan bertahap dilakukan. Hanya saja, pengangkutan masih disesuaikan dengan situasi dan kondisi TPA Cipeucang.

“Jadi bukan dalam artian nanti sampah itu akan cuman ditutup disemprot, enggak. Fakta di lapangan kami juga [tetap] melakukan pengangkutan. Hanya memang keterbatasan karena Cipeucang saat ini,” kata Asep dalam keterangan video untuk Tirto, Kamis (17/12/2025).

Asep mengaku, Pemkot sedang melakukan upaya koordinasi dan komunikasi kepada warga di sekitar TPA Cipeucang agar pembuangan bisa beroperasi kembali dengan normal. Untuk TPA Cipeucang, Asep menyatakan saat ini sedang dilakukan pembuatan terasering di area landfill 3 agar gunungan sampah tidak lagi longsor ke area warga.

Lebih jauh terkait kesehatan bagi warga terdampak, Pemkot akan mengoptimalkan program Ngider Sehat menjadi Ngider Premium, dengan melibatkan peran tenaga ahli seperti dokter. Asep menilai program ini bisa dimanfaatkan untuk pemeriksaan kesehatan bagi warga.

“Dokternya yang ikut bersama nih, keliling. Sehingga ini bisa dimanfaatkan, ya, bukan cuma untuk pengecekan, termasuk untuk pengobatan dan sebagainya,” katanya.

Baca juga artikel terkait INDEPTH atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri & Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Decode
Reporter: Rahma Dwi Safitri & Mochammad Fajar Nur
Penulis: Rahma Dwi Safitri & Mochammad Fajar Nur
Editor: Farida Susanty