Menuju konten utama

Muh Azis Muslim: Tangani Sampah Tangsel dari Hulu

"Terkait dengan produksi sampah, harus diupayakan penanganan yang sistematis dan juga berkelanjutan."

Muh Azis Muslim: Tangani Sampah Tangsel dari Hulu
Header Wansus Dr Muh Azis Muslim. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Fenomena masalah manajemen sampah di Tangerang Selatan jelas tak bisa terus dibiarkan terjadi dan berulang. Kala Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang tak lagi menampung buangan sampah, masyarakat pontang-panting tak punya arah. Sampah yang menumpuk menjadikan kota penyangga ibu kota seolah kehilangan kontrol atas lingkungannya sendiri.

Jelas, bukan estetika semata. Kondisi itu memperlihatkan jelas persoalan laten pengelolaan dan ketergantungan terhadap TPA Cipeucang dan minimnya pengelolaan di hulu. Kondisi ini tak boleh menjadi bom waktu bagi lingkungan dan kesehatan warga setempat.

Meskipun sejumlah langkah darurat telah ditempuh dengan menutup terpal dan menyemprotkan cairan antibau, solusi ini belum menyentuh akar masalah. Setiap harinya, produksi sampah mencapai ratusan ton, sementara kapasitas pengelolaan dan teknologi masih terbatas.

Muh Azis Muslim, Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, menilai kondisi ini sebagai indikator kegagalan pengelolaan sampah di Tangsel. Menurutnya, hal ini bisa dikategorikan sebagai darurat sampah yang tak hanya berdampak pada estetika, tapi berisiko pada kesehatan masyarakat setempat.

Untuk mendiskusikan lebih lanjut terkait masalah sampa di Tangerang Selatan, Tirto berbincang dengan Azis pada Rabu (17/12/2025).

Simak pandangan lengkapnya berikut ini:

Bagaimana melihat kondisi tumpukan sampah di Tangerang Selatan yang tak hanya menumpuk di beberapa titik, tapi mengular juga di separator jalan. Apakah ini bisa disebut darurat sampah?

Masalah tumpukan sampah di jalan-jalan di Tangerang Selatan menunjukkan kegagalan dari pemerintah daerah di dalam melakukan pengelolaan sampah, tentunya. Kalau kita melihat kondisi tumpukan sampah itu kan satu hal yang memprihatinkan, yang menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah itu tidak berjalan dengan baik dan juga tidak berjalan dengan efektif.

Bisa dikatakan kalau memang posisi itu merupakan darurat sampah, karena hal ini akan berdampak kepada kesehatan masyarakat dan juga lingkungan secara signifikan. Dan itu tentu juga akan mengganggu kenyamanan masyarakat ketika memang tumpukan-tumpukan sampah itu sampai di daerah-daerah atau di wilayah yang memang tidak diperuntukkan untuk tempat penampungan sementara. Kalau sampai di posisi di trotoar, di jalan, itu kan tentu sudah sangat mengganggu kenyamanan, keamanan dari para pengguna jalan.

Sampah menumpuk di Tangsel dampak penutupan TPA Cipeucang

Pengendara sepeda motor menutup hidungnya saat melintas di dekat tumpukan sampah di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/12/2025).ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/tom.

Ini tentu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, hal yang sangat lekat dengan keseharian kita, karena sampah itu sesuatu yang memang diproduksi setiap hari. Sehingga kalau tidak bisa diselesaikan di hari itu, tentu akan juga terus menimbulkan permasalahan yang berlanjut pada hari-hari selanjutnya.

Sehingga saya rasa ini menjadi prioritas bagi pemerintah kota yang memperhatikan aspek lingkungan, keamanan, kenyamanan, dan juga keberlanjutan. Kota yang memang berlanjut itu kan harus juga bisa menangani masalah-masalah spesifik yang juga sistemik.

Penumpukan sampah disebabkan karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang ditutup. Apakah ketergantungan ini menunjukkan kegagalan perencanaan kota?

Ini kan kita juga melihat bahwa ketergantungan ini tentu menunjukkan adanya kegagalan dalam sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan. Nah, ini kan tentu menjadi salah satu prioritas yang harusnya diselesaikan oleh pemerintah melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan, gitu kan ya, atau dinas yang memang menjadi leading sector dari situ ya. Sehingga memang perlu menghadirkan berbagai macam upaya terobosan untuk bisa mengelola sampah dengan baik.

Ya, kita bicara masalah edukasi kepada masyarakat terkait dengan masalah sampah ya, meskipun tidak mudah, tapi ya pemerintah tidak boleh menyerah dengan situasi itu. Melakukan sosialisasi secara masif terkait dengan pengelolaan, melakukan penegakan hukum terhadap pelanggar-pelanggar sampah yang memang membuang sampah secara sembarangan. Itu saya rasa juga menjadi salah satu hal yang memang akan bisa sedikit mengurai permasalahan sampah.

Jadi artinya, perbaikan itu harus dilakukan dari hulu, di mana sampah itu dihasilkan, yaitu di rumah tangga, sampah rumah tangga, dan juga sampah-sampah industri. Dari prinsip-prinsip 3R kan ya, Reduce, Reuse, dan Recycle, itu menjadi salah satu alternatif kalau memang mau dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. Memanfaatkan berbagai macam infrastruktur teknologi, teknologi yang memang mampu mengelola sampah dan menghadirkan berbagai macam produk turunan dari sampah-sampah yang dihasilkan.

Tumpukan Sampah di Kota Tangsel

Petugas Menutup tumpukan sampah di Bawah Fly Over Ciputat dengan terpal untuk mengurangi bau dan ceceran air Lindi. (Foto: Jupri Nugroho)

Dari sudut pandang tata kota, apa risiko lingkungan dan kesehatan jika kondisi ini dibiarkan, baik dalam jangka pendek hingga jangka panjang?

Kalau kita bicara masalah risiko, tentu risikonya sangat banyak ya. Kalau kita bicara dalam konteks jangka pendek, akan bisa menyebabkan ragam penyakit karena nanti akan berkumpul, entah itu ada penyakit yang diakibatkan oleh lalat yang memang berterbangan di situ ya, juga seperti tikus, kecoa yang memang semakin masif ada di situ ketika tidak dikelola dengan baik.

Pada sisi yang lain, kita juga bicara masalah aspek pencemaran air dan udara di sekitarnya. Risiko jangka panjangnya, kalau ini tidak diselesaikan dengan baik ya, akan menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan masalah ekosistem, pencemaran tanah dan air tanah secara masif. Dan ini yang juga nanti akan mengganggu pada sisi aspek kenyamanan, kenyamanan bagi penghuni, bagi masyarakat yang terkena dampak di situ.

Serakan sampah meluber ke jalan, Pemkot Tangsel memutuskan untuk melakukan penutupan dengan terpal dan menyemprotkan cairan antibau untuk permulaan. Apakah cara ini tepat?

Ini cara-cara yang sebenarnya tidak tuntas, merusak estetika, dan juga mengganggu kenyamanan para pengguna jalan. Apa yang dilakukan dengan menutup terpal dan juga cairan antibau itu, saya rasa kurang berdampak.

Artinya, kalaupun itu dilakukan dan sifatnya sementara ya mestinya harus segera dicarikan lokasi alternatif. Kenapa? Karena kalau tindakan yang dilakukan itu untuk mengurangi dampak negatif tidak tertampungnya sampah di TPA Cipeucang, itu tidak mengatasi akar masalah ya. Dan malah membuat masalah baru. Bagaimana infrastruktur publik, dalam hal ini jalan, terus juga trotoar, menjadi tumpukan, tumpukan sampah. Tentu itu kan sangat mengganggu kenyamanan para pengguna jalan.

Ketika memang sampah menjadi pemandangan di sepanjang jalan yang ada di Tangerang Selatan, ini menjadi sebuah pemandangan yang dalam tanda kutip menjijikkan ya di situ ya. Bagaimana ada seolah-olah untuk urusan yang sifatnya basic, yang sifatnya dasar seperti ini saja, cara untuk mencari solusinya tidak elegan.

Semestinya segera dicarikan lokasi alternatif yang memang tidak mengganggu pemandangan, tidak mengganggu fasilitas umum, tidak mengganggu kenyamanan juga di situ. Artinya sesegera mungkin ini Pemerintah Kota Tangsel mencari solusi yang permanen dan juga berkelanjutan.

Tumpukan Sampah di Kota Tangsel

Petugas Menutup tumpukan sampah di Bawah Fly Over Ciputat dengan terpal untuk mengurangi bau dan ceceran air Lindi. (Foto: Jupri Nugroho)

Dengan produksi sampai harian bisa mencapai 800 ton dan penduduk sekitar 1,4 juta orang, apa yang perlu dilakukan Pemkot Tangsel saat ini ketika TPA Cipeucang penuh?

Terkait dengan produksi sampah, harus diupayakan penanganan yang sistematis dan juga berkelanjutan. Artinya, dari hulu sampai hilirnya itu benar-benar harus bisa diperhatikan, bagaimana edukasi terhadap masyarakat terkait dengan penanganan sampah mesti selalu disampaikan. Karena sumber sampah itu ada di rumah tangga, ada di industri, maka pemerintah harus senantiasa memberikan edukasi kepada masyarakat di situ.

Tidak kalah pentingnya adalah mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan. Karena kalau tonase sampahnya sudah sampai kurang lebih 800 ton, ini menjadi PR, yang akan terus bertambah kalau memang tidak dicarikan sistem pengelolaan sampah yang sifatnya berkelanjutan.

TPA Cipeucang

Tumpukan sampah TPA Cipeucang yang sudah merangsek menuju pekarangan rumah warga Curug, Serpong, Tangerang Selatan. tirto.id/Fajar

Untuk jangka menengah, mesti dicarikan alternatif tempat pembuangan sampah atau bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah terdekat. Misalnya Kabupaten Tangerang, ada nggak lokasi yang memang bisa diakses. Atau bisa digunakan model kerja sama dengan pemerintah daerah, mungkin dengan Kabupaten Bogor, di daerah pinggiran. Ini kan beberapa alternatif TPA yang bisa dititipkan sementara.

Tentu dengan melakukan koordinasi dan kolaborasi antar daerah, ini saya rasa hal-hal yang sangat penting ya untuk bisa dituntaskan oleh Pemerintah Kota Tangsel. Untuk bisa menuntaskan permasalahan sampah yang masih sangat mengganggu kehidupan masyarakat.

Apa yang harus dilakukan terhadap permasalahan sampah di Tangsel?

Di hulu diperbaiki, bagaimana unit-unit penghasil sampah itu harus diintervensi. Jadi bagaimana mengelola sampah keluarga, sampah industri, harus dipastikan pemilahan sampah itu juga bisa dilakukan, biar nanti tata kelola sampah bagi tukang sampah itu akan lebih mudah untuk mengatur dan memproses lebih lanjut.

Di hilir, memanfaatkan teknologi pengelolaan sampah seperti yang ada di beberapa pemerintah kota, Jakarta juga sudah punya. Artinya menghadirkan teknologi untuk bisa mengolah limbah atau mengolah sampah itu tadi menjadi memiliki nilai lebih, bisa dimanfaatkan. Bisa menjadi pupuk organik untuk sampah-sampah organiknya, untuk yang bisa di-recycle kembali bisa kemarin kita lihat beberapa best practice, bisa menjadi konblok. Nah, ini kan menarik ya untuk bisa dimanfaatkan, untuk bisa diolah, artinya bisa membawa benefit tersendiri ya.

Terus pembangunan fasilitas pengelolaan sampah yang ramah lingkungan itu menjadi sangat penting, dimensi jangka panjangnya, karena memang perlu biaya yang juga tentu cukup mahal ya investasinya, gitu kan ya. Di sisi yang lain juga tidak kalah pentingnya adalah penegakan regulasi atau hukum terkait dengan perilaku buang sampah sembarangan. Kesadaran ini masih sangat perlu didorong ya di masyarakat kita.

Baca juga artikel terkait INDEPTH atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Decode
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Farida Susanty