Menuju konten utama

Warga Desak TPA Cipeucang Tutup usai Longsor Sampah-Banjir Lindi

Genangan lindi dari TPA Cipeucang merendam rumah warga hingga mengganggu aktivitas ekonomi.

Warga Desak TPA Cipeucang Tutup usai Longsor Sampah-Banjir Lindi
Sejumlah warga sekitar TPA Cipeucang gelar aksi menuntut TPA ditutup dan dibenahi. (Foto: Jupri Nugroho)

tirto.id - Polemik pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang kembali memanas setelah puluhan warga Kampung Curug Serpong menggeruduk kantor UPTD Cipeucang, Senin (8/12/2025). Warga menuntut TPA ditutup dan percepatan penanganan longsoran sampah yang kini menutup aliran anak Kali Cirompang serta menyebabkan banjir lindi ke permukiman.

Aksi berlangsung panas. Warga merasa pemerintah tidak memberikan solusi nyata, sementara genangan lindi sudah merendam rumah warga hingga mengganggu aktivitas ekonomi.

“Kami menuntut tutup pembuangan sampah. Sudah bertahun-tahun begini saja,” ujar Dulrohman, warga sekitar.

Enam tuntutan disampaikan warga, meliputi penutupan TPA, normalisasi saluran air, merapikan sampah dekat permukiman, kesiapan alat berat, penanganan lindi dan bau, hingga kompensasi kesehatan dan ekonomi warga terdampak.

Ketegangan terjadi ketika warga berdialog dengan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Hadi Widodo. Seorang pegawai DLH bernama Yopi melontarkan komentar yang memancing emosi warga.

“Sudah diam. Saya nanya bapak ini!” bentak Dulrohman sambil menggebrak meja setelah merasa dipelototi pegawai tersebut.

Kericuhan memuncak hingga Kepala UPTD Cipeucang, Desna Gera Andika, meminta pegawai itu keluar ruangan. Situasi baru mereda setelah warga memaksa seluruh pejabat yang hadir menandatangani surat tuntutan.

Longsor Sampah Bikin Perajin Tempe Rugi Puluhan Juta

Polemik Pengelolaan TPA Cipeucang

Tumpahan sampah dan air lindi masuk ke Sungai Cirompang yang berhilir di Sungai Cisadane. (Foto: Jupri Nugroho)

Dampak longsoran sampah bukan hanya menggenangi rumah, tetapi juga melumpuhkan usaha kecil warga. Sejumlah perajin tahu dan tempe menghentikan produksi karena bahan baku dan peralatan rusak terendam lindi.

“Kerugian ya lumayan, puluhan juta. Tempat produksi kami sudah tidak bisa dipakai,” kata Kristianto, perajin tempe yang sudah 11 tahun berproduksi di sekitar TPA.

Kini ia terpaksa menumpang di rumah keluarga, sambil berharap pemerintah memberi kompensasi. Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk kelalaian pengelola. “Ini bukan dinas lingkungan hidup, tapi dinas lingkungan mati,” ujarnya.

Di tengah desakan warga agar TPA ditutup, Pemkot Tangerang Selatan justru menyiapkan anggaran Rp50 miliar untuk pembebasan lahan perluasan landfill pada APBD 2026.

“Dalam waktu dekat empat ribu meter lahan dibebaskan. Sisanya total sekitar tiga hektare tahun depan,” jelas Sekretaris DLH Tangsel, Hadi Widodo, dikutip Rabu (10/12/2025).

Namun mayoritas warga menilai kebijakan itu tidak menjawab kedaruratan yang mereka hadapi saat ini.

“Keruk dulu longsoran sampahnya. Biar aliran air lancar. Rumah kami kebanjiran lindi setiap hujan,” tegas Agus (60), warga terdampak.

Saat meninjau lokasi, warga menunjukkan kondisi terkini TPA Cipeucang kepada pejabat DLH. Gunungan sampah tinggal berjarak beberapa meter dari permukiman. Luberan sampah bahkan menutup total aliran anak Kali Cirompang.

“Tuh Pak, rumah saya sudah dikelilingi air lindi. Ini bahaya buat anak-anak,” kata Utih, warga yang sudah mengosongkan rumahnya.

Genangan lindi setinggi lutut dewasa dilaporkan warga sejak awal Desember.

Sementara kompensasi yang diberikan pemerintah, cuma berupa uang Rp250 ribu per KK per tahun. Kompensasi ini dinilai tidak layak dan tidak manusiawi.

“Buat beli air galon aja nggak cukup, pak,” teriak seorang warga saat dialog dengan DLH.

Warga menyebut dahulu air sumur di wilayah itu jernih dan aman dikonsumsi. Kini kualitas air tanah berubah keruh dan berbau karena kontaminasi lindi.

Akhir pertemuan ditutup dengan penandatanganan enam poin tuntutan antara warga dan pejabat DLH Tangsel. Namun warga memberi ultimatum keras.

Jika solusi tak segera dilakukan, massa akan mendirikan tenda dan berkemah di pusat pemerintahan Kota Tangerang Selatan.

“Kalau tidak ada hasil, kita kamping di Puspemkot,” kata Dulrohman.

Polemik TPA Cipeucang kini memasuki fase krusial, dengan warga menuntut penanganan cepat sementara pemerintah masih berkutat pada rencana jangka panjang.

==============

Tangsel_Update adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.

Baca juga artikel terkait DAMPAK SAMPAH atau tulisan lainnya dari Tangsel_Update

tirto.id - Flash News
Kontributor: Tangsel_Update
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Siti Fatimah