Menuju konten utama

RKAB Belum Disetujui, Vale Indonesia Setop Operasional Tambang

Perusahaan mengatakan bahwa kondisi keuangan perseroan tidak terdampak secara langsung.

RKAB Belum Disetujui, Vale Indonesia Setop Operasional Tambang
Pekerja melintas di dekat tumpukkan karung yang berisi biji nikel matte di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Selasa (21/10/2025). Produksi nikel matte PT Vale Indonedia Tbk pada Semester I-2025 sebesar dua persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu 34.774 ton meningkat menjadi 35.584 ton dan menargetkan produksi nikel matte hingga akhir tahun 2025 mencapai 71.234 ton. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

tirto.id - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghentikan sementara seluruh kegiatan operasional tambang di wilayah izin usaha pertambangan khusus (IUPK) miliknya. Penghentian ini terjadi disebabkan perusahaan belum memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

“Keterlambatan persetujuan RKAB berdampak pada penundaan sementara kegiatan operasional perseroan di seluruh wilayah IUPK perseroan,” ujar Corporate Secretary INCO, Anggun Kara Nataya, dalam keterbukaan informasi, Jumat (2/1/2026).

Meski operasional dihentikan, perusahaan mengatakan bahwa kondisi keuangan perseroan tidak terdampak secara langsung. Vale Indonesia pun tetap optimistis operasional perusahaan secara keseluruhan tidak akan terganggu dalam jangka panjang.

“Perseroan meyakini keterlambatan ini tidak akan mengganggu keberlanjutan operasional secara keseluruhan dan berharap persetujuan RKAB 2026 dapat diterbitkan dalam waktu dekat,” kata Anggun.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mengindikasikan akan menurunkan target produksi bijih nikel dalam RKAB 2026. Target produksi diproyeksikan disesuaikan dengan kapasitas produksi smelter nikel yang saat ini tercatat sekitar 290 juta ton per tahun.

Tak hanya nikel, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga akan memangkas produksi batu bara. Dia menjelaskan kebijakan ini bertujuan mengatur pasokan untuk menjaga keseimbangan pasar dan mendongkrak harga komoditas tersebut di pasar global.

Dalam penjelasannya, Bahlil menyoroti kontribusi pasokan Indonesia yang besar sebagai salah satu penyebab pelemahan harga.

"Hari ini, harga batu bara anjlok semua. Kenapa? Jumlah batu bara yang diperjualbelikan itu kan hanya kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Di Indonesia sendiri menyuplai sekitar 500-600 juta ton. Hampir 50 persen. Gimana harganya enggak jatuh?" ujar Bahlil di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah intervensi dengan mengatur pasokan melalui revisi RKAB.

"Jadi, kami akan mengatur. Tujuannya apa? Pengusahanya harus mendapatkan harga yang baik. Negara juga mendapatkan pendapatan yang baik," jelasnya.

Baca juga artikel terkait PERTAMBANGAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi