tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim berhasil meyakinkan lembaga internasional terkait kredibilitas kebijakan fiskal Indonesia, setelah serangkaian pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat.
Dalam agenda tersebut, Purbaya bertemu dengan pejabat tinggi World Bank serta perwakilan lembaga pemeringkat global seperti S&P Global Ratings, guna memaparkan strategi pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“World Bank dan rating agency amat puas dengan penjelasan kita tentang strategi kita, jadi keraguan tentang apakah kita bisa menjalankan kebijakan fiskal yang baik dan kita menciptakan pertumbuhan yang baik, pada saat bersamaan, sepertinya sudah hilang,” ujar Purbaya dalam keterangannya kepada media, dikutip Kamis (16/4/2026).
Kunjungan ke Washington DC merupakan kelanjutan dari rangkaian agenda internasional yang sebelumnya digelar di New York, termasuk pertemuan dengan investor global seperti BlackRock.
Di ibu kota Amerika Serikat itu, Purbaya juga menggelar sejumlah pertemuan strategis, mulai dari bilateral meeting hingga courtesy meeting dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF), Kristalina Georgieva.
Dalam pertemuan dengan IMF, Purbaya mengaku sempat menanyakan kemungkinan kebijakan yang akan dikeluarkan lembaga tersebut untuk meredakan tekanan ekonomi global. Tekanan itu, menurutnya, dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Namun, Kristalina menegaskan bahwa lembaganya tidak memiliki kapasitas maupun otoritas untuk mengeluarkan kebijakan yang harus diikuti oleh negara-negara lain.
“Yang jelas, saya tanya ke dia. Apakah ada kebijakan khusus dari IMF untuk membantu mengurangi ketidakpastian? Dia bilang, IMF tidak punya otoritas untuk melakukan itu, tapi mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan,” jelasnya.
Purbaya kemudian menegaskan bahwa Indonesia tidak memerlukan bantuan pendanaan dari IMF untuk menghadapi ketidakpastian global. Ia menilai, kondisi ini ditopang oleh bantalan ekonomi yang masih kuat, salah satunya melalui Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun.
“Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan (bantuan pendanaan dari IMF), karena negara kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar, yaitu Rp420 triliun yang saya bilang sebelumnya,” ujarnya.
Selain memiliki SAL sebagai penopang di tengah ketidakpastian, Purbaya juga menjelaskan kepada IMF bahwa pemerintah telah mengubah arah kebijakan fiskal sejak akhir tahun lalu. Perubahan tersebut, menurutnya, mulai menunjukkan hasil, di mana ekonomi Indonesia justru mengalami percepatan ketika banyak negara menghadapi tekanan akibat keterbatasan pasokan energi.
“Jadi ekonomi kita sedang mengalami percepatan ketika ada tambahan shock dari ketidakpastian global dari harga minyak yang tinggi, sehingga kita bisa menyerap shock yang terjadi. Dan dia (Kristalina) kelihatannya senang dengan keadaan yang seperti ini, tapi mereka tidak akan melakukan kebijakan khusus untuk negara-negara,” tukas Purbaya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































