Menuju konten utama

Prabowo Ogah Ubah Batas Defisit, Kecuali Darurat Seperti Pandemi

Prabowo menekankan Indonesia harus "hidup sesuai kemampuan" dengan tetap menjaga defisit fiskal.

Prabowo Ogah Ubah Batas Defisit, Kecuali Darurat Seperti Pandemi
Presiden Prabowo Subianto menyapa wartawan saat bersiap menyambut kedatangan mantan presiden untuk bersilahturahmi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Selain silahturahmi, dalam kesempatan tersebut Presiden Prabowo juga berdiskusi isu terkini bersama para mantan presiden dan wapres. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Katanya, pengaturan ini tidak akan diubah kecuali dalam kondisi darurat besar seperti pada saat pandemi COVID-19.

Apalagi, batas defisit merupakan instrumen penting untuk menjaga kedisiplinan pengelolaan keuangan negara.

“Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti COVID-19,” ujarnya, dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg yang terbit dengan judul ‘Prabowo Open to Breach Indonesia Deficit Cap Only During Crisis’, dikutip dari keterangan resmi, Senin (16/3/2026).

“Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya,” tambahnya.

Prabowo menyatakan hanya akan mempertimbangkan untuk melampaui batas tersebut jika Indonesia menghadapi situasi darurat yang luar biasa. Pada saat pandemi Covid-19, Indonesia secara legal diizinkan melampaui batas defisit selama dua tahun untuk membiayai belanja darurat demi menyelamatkan rakyat.

Indonesia telah menetapkan batas defisit anggaran maksimal sebesar 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) sejak awal tahun 2000, setelah krisis keuangan Asia. Ketentuan tersebut selama ini menjadi salah satu pilar disiplin fiskal yang diperhatikan oleh para investor.

Prabowo menjelaskan, aturan terkait batas defisit maksimal 3 persen pada mulanya merupakan pengaturan yang meniru Uni Eropa. Namun, pada praktiknya, banyak negara di kawasan itu tidak lagi mematuhinya.

Meski demikian, Prabowo menolak gagasan sejumlah pemikir ekonomi yang mendorong pertumbuhan dengan menambah utang besar-besaran. Ia mengatakan sejak kecil dididik oleh orang tuanya untuk percaya bahwa pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan.

“Jangan membelanjakan lebih dari yang kita hasilkan,” kata Prabowo. “Itu adalah prinsip dasar kehidupan untuk bisa bertahan,” tambahnya.

Meski begitu, salah satu faktor yang memungkinkan adanya pelonggaran defisit secara jangka pendek adalah jika harga minyak mentah dunia melonjak tinggi dalam waktu lama akibat eskalasi perang di Timur Tengah. Meskipun demikian, Prabowo menekankan bahwa opsi melampaui batas defisit adalah pilihan terakhir.

"Saya harap kita tidak perlu mengubahnya. Sebenarnya saya tidak percaya pada defisit. Mungkin saya orang yang kuno," ujarnya

Baca juga artikel terkait DEFISIT atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana