tirto.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 28 Februari telah mencapai Rp135,7 triliun atau 0,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, defisit APBN akhir Februari 2026 melonjak hingga 342,4 persen.
Dari paparan yang ditampilkan, defisit anggaran Februari 2025 tercatat sebesar Rp30,7 triliun atau 0,13 persen dari PDB.
Jika ditilik lebih jauh, defisit APBN akhir bulan kemarin disebabkan oleh pendapatan negara yang hanya tercapai 11,4 persen dari target APBN 2026 yang senilai Rp3.153,6 triliun, menjadi Rp358 triliun. Posisi tersebut lebih tinggi 12,58 persen dibandingkan realisasi penerimaan negara pada Februari 2025 yang sebesar Rp317,4 triliun.
"Pengumpulan pajak di dua bulan pertama 2026 ini tumbuh 30%. Kita akan pastikan itu akan stabil terus ke depan," kata Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, dalam Buka Puasa Bersama, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).
Secara rinci, penerimaan perpajakan hingga akhir Februari mencapai Rp290 triliun atau terealisasi 10,8 persen dari target Rp2.693,7 triliun. Naik dari realisasi penerimaan perpajakan periode Februari 2025 senilai Rp240,6 triliun.
Kemudian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp68 triliun, terealisasi 14,8 persen dari target Rp459,2 triliun.
Di sisi lain, belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari target sebesar Rp3.842,7 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 41,9 persen dari capaian belanja negara per Februari 2025 sebesar Rp348,1 triliun.
Kendati belanja negara lebih tinggi dari pendapatan yang dikantongi negara, Purbaya menegaskan bahwa pihaknya masih akan mendorong faktor-faktor yang dapat membuat ekonomi tumbuh lebih tinggi.
"Kita pastikan semua faktor-faktor pendukung pertumbuhan ekonomi itu berjalan dengan baik," tutup Purbaya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id






































