tirto.id - Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Sudarto, mengakui tahun ini lembaga yang dipimpinnya diperkirakan akan kembali mengalami defisit. Berdasarkan laporan keuangan yang dipaparkannya, hingga akhir September 2025, belanja LPDP mencapai Rp7,46 triliun, lebih tinggi dari pendapatan yang didapatkan lembaga tersebut yang hanya sebesar Rp6,82 triliun.
Defisit yang mungkin terjadi pada tahun ini tersebut melanjutkan kondisi dua tahun sebelumnya, di mana pada 2024 belanja LPDP mencapai Rp11,86 triliun, dengan pendapatan hanya mencapai Rp10,95 triliun. Sedangkan, pada tahun 2023 LPDP mengalami defisit karena pendapatan lembaga tersebut hanya senilai Rp9,33 triliun saat belanja mencapai Rp9,84 triliun.
“Tahun 2024, 2023 kan pendapatan dan belanja lebih tinggi, tahun 2024 belanja lebih tinggi. Sehingga, saya mungkin bisa sampaikan tahun ini, khusus Dana Abadi Pendidikan, DAP kemungkinan kita akan mengalami defisit,” jelas Sudarto, dalam Media Gathering APBN 2026, di Novotel, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (9/10/2025).
Sementara itu, lonjakan belanja yang menjadi sebab defisit terjadi karena jumlah penerima beasiswa atau awardee LPDP yang sangat tinggi pada 2023-2024. Untuk menca[ai ketertinggalan tingkat Partisipasi pendidikan tinggi, LPDP menerima sebanyak 9.964 orang dari total pendaftar mencapai 33.396 orang pada 2023. Sementara, pada 2024 LPDP menerima sebanyak 8.592 orang dari 52.842 orang pendaftar.
“Karena tadi di tahun 2023-2024, kita untuk mengejar ketertinggalan angka partisipasi pendidikan tinggi kita, ya. Maka waktu itu pemerintah menerima jumlah awardee yang jumlahnya sangat besar tadi, ya. Bukan sangat besar lah, lebih besar lah dari sebelumnya,” jelasnya.
Oleh karenanya, pada tahun ini LPDP memangkas jumlah penerima awardee hanya menjadi 4.000 orang, dipangkas lebih dari setengah dari jumlah penerima awardee tahun lalu. Pengurangan jumlah penerima beasiswa diakui Sudarto masih akan dilakukan hingga tahun 2026 dan baru akan ditingkatkan kembali pada 2027.
“Sehingga, tahun ini karena yang masih ongoing banyak, sehingga kita menerima yang baru itu jumlahnya mungkin lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Mungkin tahun ini dan tahun depan mudah-mudahan 2027 kita kembali,” lanjut dia.
Di sisi lain, kendati tahun ini diprediksi akan kembali mengalami defisit, namun Sudarto mengaku tidak khawatir. Karena kerugian yang ditanggung LPDP masih bisa tertutup oleh surplus yang terjadi di sepanjang 2020-2022.
Selain itu, LPDP juga masih memiliki Dana Abadi yang sampai akhir tahun ini diperkirakan masih akan terjaga di nilai Rp154,11 triliun, stagnan dari tahun sebelumnya.
“Kita sangat beruntung dengan kita membangun Dana Abadi 2013. Sehingga, sampai dengan sekarang totalnya sudah mencapai Rp154,11 triliun, di mana Dana Abadi Pendidikan sendiri totalnya ada Rp126 triliun, Dana Abadi Penelitian Rp12,99 triliun, Dana Abadi Perguruan Tinggi Rp10 triliun, Dana Abadi Kebudayaan Rp5 triliun. Total dari Rp154,11 triliun,” rinci Sudarto.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































