Menuju konten utama

PMDN Melesat, Bisakah Ekonomi Terdongkrak?

Penanaman modal dalam negeri mendominasi investasi di awal 2025. Pemerintah diminta waspadai risiko jangka panjang dan dampaknya ke perekonomian.

PMDN Melesat, Bisakah Ekonomi Terdongkrak?
Foto udara suasana rumah susun di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (4/12/2024). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/aww.

tirto.id - Minat investor dalam negeri mulai menunjukan tren positif di tengah capaian realisasi investasi pada kuartal I-2025. Dari total investasi sebesar Rp465,2 triliun di tiga bulan pertama (Januari-Maret) 2025, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi hingga mencapai 50,7 persen atau setara Rp234,8 triliun. Sementara 49,5 persen sisanya atau Rp230,4 triliun berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA).

Komposisi ini menjadi menarik karena seolah menunjukkan bangkitnya gairah investor domestik. Terlebih, selama beberapa tahun terakhir, PMA selalu memberi porsi terbesar dalam struktur investasi Indonesia. Pada 2024 misalnya, dari total realisasi investasi sebesar Rp1.714,2 triliun, PMA mendominasi dengan capaian sebesar Rp900,2 triliun atau naik 21 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara PMDN hanya mampu di bawahnya sebesar Rp814 triliun atau naik 20,6 persen yoy.

"Memang ini ada hal menarik kalau biasanya PMA lebih tinggi, tapi di kuartal pertama PMDN kontribusinya lebih tinggi dari PMA," ujar Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Rosan mengungkapkan, salah satu yang membuat PMDN meningkat pada kuartal I-2025 ini karena keberlanjutan konektivitas infrastruktur jalan tol. Terutama di daerah Sumatera dan Riau. "Kemudian juga disebabkan oleh adanya peningkatan investasi di bidang real estate dan properti. Jadi, itu yang membuat PMDN kita meningkat lebih tajam," imbuh Rosan.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, melihat dominasi PMDN pada kuartal pertama ini sebagai berkah dari realisasi investasi yang dipublikasikan pemerintah. Ini menunjukan bahwa gairah investasi para pemodal dalam negeri sudah menunjukan capaian positif.

“Seperti diumumkan oleh Menteri Rosan Roeslani, pada tiga bulan pertama tahun 2025, pertumbuhan PMDN mencapai 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy), lebih tinggi dari kinerja PMA yang naik 12,7 persen,” ujar Christiantoko dalam keterangannya, Jumat (2/5/2025).

Dengan pencapaian itu, kontribusi investor domestik menjadi lebih dari separuh atau sekitar 50,5 persen terhadap total realisasi investasi periode kuartal I-2025. Jika kondisi ini bertahan hingga satu tahun penuh, realisasi investasi berpotensi mencatatkan pencapaian baru yang sangat penting, yakni dominasi investor domestik dalam penanaman modal di Indonesia.

“Tampaknya ada gairah baru bagi pengusaha lokal untuk menanamkan modalnya. Perkembangan ini harus dirawat dengan baik oleh pemerintah, mengingat Presiden Prabowo selalu mendengungkan pentingnya kemandirian ekonomi nasional” kata Christiantoko.

Meski begitu, kemandirian tersebut, kata dia, bukan berarti melupakan peran penanam modal asing yang juga sangat penting untuk menambah kapasitas dalam menggerakkan investasi. Pun apabila yang dominan adalah PMDN, maka perputaran uangnya juga akan ada di dalam negeri, sehingga ikut memperkuat ketahanan dan kemandirian ekonomi nasional. “Peluangnya masih terbuka untuk terus ditingkatkan (PMDN),” imbuhnya.

Bila dilihat dari sebaran wilayahnya, realisasi PDMN pada Januari-Maret 2025 terbanyak terjadi di Jakarta dengan nilai Rp42,2 triliun. Kemudian diikuti oleh Jawa Barat Rp33,8 triliun, Jawa Timur Rp22,1 triliun, Riau Rp18 triliun dan Banten Rp15,1 triliun.

Sedangkan jika melihat dari subsektornya, transportasi, gudang, dan telekomunikasi mendominasi sebesar Rp48,4 triliun. Diikuti sektor pertambangan Rp29.5 triliun; perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp25,3 triliun; jasa lainnya Rp23,7 triliun; dan perdagangan dan reparasi Rp18,9 triliun.

Dampaknya Terhadap Ekonomi

Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, melihat investor domestik sejauh ini memang sudah bergerak cepat. Mereka bahkan memilih sektor padat modal seperti transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, pertambangan, serta perumahan dan kawasan industri sebagai tujuan utama investasi.

Sektor-sektor ini, menurutnya, bukan hanya menjanjikan keuntungan finansial, tetapi juga memiliki efek pengganda yang kuat bagi perekonomian. Sebab, perbaikan infrastruktur logistik akan mempercepat arus barang dan menurunkan biaya distribusi. Sementara pertambangan mendorong ekspor komoditas strategis, sementara pengembangan kawasan industri memacu penciptaan ekosistem manufaktur dan urbanisasi terencana.

“Ketiga sektor ini menciptakan permintaan baru bagi sektor jasa, konstruksi, dan tenaga kerja. Pemerintah seharusnya memfasilitasi perluasan investasi ini dengan deregulasi yang konsisten, serta koordinasi kebijakan pusat dan daerah yang lebih sinkron,” jelas dia kepada Tirto, Jumat (2/5/2025).

Investasi pada sektor padat modal, lanjut dia, memberikan dampak berantai yang luas terhadap ekonomi nasional. Ketika modal masuk ke transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, maka efisiensi logistik meningkat, waktu distribusi barang berkurang, dan daya saing usaha kecil hingga besar mengalami lonjakan. Hal ini menciptakan rantai pasok yang lebih terintegrasi dan produktif.

Sektor pertambangan dinilai turut mendukung peningkatan ekspor dan penerimaan negara. Di sisi lain pengembangan tambang juga menciptakan permintaan terhadap tenaga kerja, peralatan berat, logistik lokal, dan jasa pendukung lainnya. Hilirisasi mineral pun dapat mendorong tumbuhnya industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah tinggi.

Sektor perumahan dan kawasan industri diyakini juga turut mendorong pertumbuhan wilayah. Ketika kawasan industri dibangun, maka aktivitas ekonomi sekitar meningkat—mulai dari makanan, transportasi, hingga layanan pendidikan. Perumahan menjadi pendukung ekosistem kerja dan mendorong konsumsi domestik yang berkelanjutan.

Efek gabungan dari ketiga sektor ini, kata Syafruddin, otomatis mendorong pertumbuhan ekonomi secara langsung dan tidak langsung. Karena tanpa disadari mereka menciptakan lapangan kerja, memperluas pasar domestik, dan menarik investasi lanjutan dari dalam dan luar negeri.

“Ketika investasi diarahkan dengan tepat, maka dampaknya bukan hanya terasa hari ini, tetapi akan membentuk struktur ekonomi yang lebih tangguh di masa depan,” jelas dia.

Tapi sebaliknya, menurut Peneliti ekonomi makro dan keuangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa, dampak berganda pada ekonominya akan lebih rendah dibandingkan dengan sektor padat karya yang dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak. Sebab, PMDN saat ini cenderung hanya mengarah ke sektor jasa.

“Selain itu sebenarnya dapat menciptakan ketimpangan pendapatan yang lebih lebar karena pendapatan yang berbeda. Hal ini dikarenakan perbedaan karakter dari keahlian dan keterampilan dari tenaga kerja yang terserap,” jelas dia kepada Tirto, Jumat (2/5/2025).

Sementara itu, Manajer Riset Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Baidul Hadi, melihat meski PMDN terus menunjukkan peningkatan, dominasi investor domestik ini juga memunculkan sejumlah kekhawatiran. Salah satunya meningkatnya konsentrasi investasi pada kelompok usaha besar dalam negeri.

Hal ini dinilai berpotensi mempersempit ruang gerak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional. “Ini berpotensi mempersempit akses UMKM dan pelaku usaha kecil,” ungkap Baidul kepada Tirto, Jumat (2/5/2025).

Tak hanya itu, dominasi PMDN juga dinilai membatasi arus masuk teknologi dan pengetahuan baru, yang selama ini banyak dibawa oleh investor asing atau PMA. Terbatasnya transfer teknologi bisa menghambat peningkatan daya saing industri nasional, khususnya di sektor manufaktur dan teknologi tinggi.

Dari sisi makroekonomi, ketergantungan yang semakin tinggi pada pembiayaan domestik juga dinilai berisiko. Saat terjadi perlambatan ekonomi, pengetatan likuiditas, atau guncangan keuangan global, perekonomian Indonesia bisa terdampak lebih berat karena tidak memiliki cukup bantalan dari investor asing. “Ini dapat mengganggu stabilitas ekonomi dalam negeri saat terjadi goncangan, pertumbuhan ekonomi melambat, atau likuiditas mengetat,” jelas dia.

Penyebab PMA Rendah

Terlepas dari dominasi PMDN yang meningkat, menarik untuk dicermati juga yakni kenapa PMA menurun. Menurut Syafruddin Karimi, investor asing saat ini masih memilih untuk bersikap hati-hati dalam menyikapi kondisi perekonomian Indonesia. Mereka terus mencermati arah kebijakan fiskal dan moneter yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia, termasuk efektivitas upaya menjaga nilai tukar dan inflasi.

“Di tengah ketidakpastian global dan tren suku bunga tinggi, investor memprioritaskan stabilitas jangka pendek sambil menunggu sinyal positif yang lebih kuat dari dalam negeri,” jelas dia.

Mereka para investor, mempertimbangkan dinamika global, seperti penyesuaian tarif antara Amerika Serikat dan Cina, serta ketegangan geopolitik yang dapat memengaruhi arus perdagangan dan modal.

Di tingkat domestik, mereka menilai kesiapan Indonesia dalam menjamin kepastian hukum, mempercepat reformasi struktural, dan menekan defisit fiskal.

Di sisi lainnya, kata Syafruddin, investor asing saat ini lebih memilih menempatkan dananya pada instrumen keuangan berimbal hasil tinggi seperti obligasi dan simpanan valuta asing. Tingkat suku bunga yang masih berada pada level 5,75 persen mendorong mereka untuk mencari imbal hasil yang aman, cepat, dan likuid.

“Mereka belum banyak bergerak ke sektor riil karena investasi jangka panjang seperti pembangunan pabrik membutuhkan kepastian yang lebih kuat terhadap arah kebijakan ekonomi dan biaya produksi,” jelas dia.

Karena menurutnya, sektor riil memerlukan waktu lebih lama untuk memberikan hasil. Ketika suku bunga tinggi, biaya modal ikut naik. Situasi ini, kata dia, membuat banyak investor menunggu penyesuaian yang lebih bersahabat dari sisi kebijakan fiskal dan perizinan. “Mereka ingin melihat reformasi peraturan yang tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga meningkatkan efisiensi investasi di lapangan,” jelas dia.

Oleh karenanya, pemerintah perlu merespons kondisi ini dengan menawarkan insentif investasi yang menarik, mempercepat penyediaan lahan industri, serta memastikan ketersediaan energi dan tenaga kerja yang kompeten. Jika lingkungan usaha mendukung, maka dana yang saat ini tertahan di sektor keuangan bisa beralih ke sektor produksi.

“Langkah konkret akan mendorong perpindahan dana dari pasar uang ke sektor riil yang menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja,” pungkas dia.

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Insider
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Hendra Friana