Menuju konten utama

Pemerintah Iran: 3.117 Orang Tewas Selama Demo Besar & Kerusuhan

Pemerintah Iran menyatakan 3.117 orang tewas selama demo besar dan kerusuhan. Lembaga HAM menilai jumlah tewas lebih dari angka resmi yang dirilis.

Pemerintah Iran: 3.117 Orang Tewas Selama Demo Besar & Kerusuhan
Asap mengepul saat para pengunjuk rasa berkumpul di tengah kerusuhan anti-pemerintah yang berkembang di Mashhad, Provinsi Razavi Khorasan, Iran, dalam tangkapan layar yang diperoleh dari video media sosial yang dirilis pada 10 Januari 2026. (SOCIAL MEDIA/via REUTERS)

tirto.id - Pemerintah Iran merilis secara resmi jumlah korban tewas selama aksi demo besar-besaran. Media resmi Iran menyebut, sebanyak 3.117 orang tewas sejak gelombang aksi protes pada 28 Desember 2025.

Jumlah korban tewas itu disampaikan oleh Yayasan Veteran dan Martir Iran, sebuah lembaga resmi negara, dan dikutip oleh televisi pemerintah yang mengatakan korban sebagai “martir”, termasuk anggota aparat keamanan, dan menyebut mereka sebagai korban yang tidak bersalah menurut pandangan Islam.

Jumlah Korban Tewas Diduga Lebih Besar dari Angka Resmi

Data yang disampaikan Organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia memverifikasi kematian 3.428 demonstran akibat tembakan langsung aparat keamanan.

IHR juga memperingatkan bahwa angka tersebut kemungkinan hanya sebagian kecil dari jumlah korban sebenarnya.

Beberapa perkiraan bahkan menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai antara 5.000 hingga 20.000 orang.

Upaya untuk memastikan jumlah korban secara akurat dinilai sangat sulit karena Pemerintah Iran memberlakukan pemadaman internet yang berkepanjangan, yang menurut lembaga pemantau Netblocks telah berlangsung lebih dari 300 jam.

Netblocks menyebut pemutusan internet ini sebagai upaya untuk menutupi skala penindasan terhadap para pengunjuk rasa. Mereka menegaskan bahwa dunia internasional tetap memantau situasi tersebut meski akses informasi sangat dibatasi.

"Upaya untuk mengaburkan kebenaran akan didokumentasikan secara langsung. Dunia sedang mengawasi," kata Netblocks dikutip CNA.

Saksi Mata Ungkap Penembakan Demonstran Iran oleh Aparat

Iran Human Rights di laman resminya mengungkap kesaksian dari salah satu saksi mata yang merupakan salah seorang peserta aksi protes di kawasan Tehranpars, Teheran.

Pada 8 Januari 202, terjadi penembakan terhadap Alireza Rahimi, seorang pemuda berusia 26 tahun, yang ditembak dari atap gedung milik Garda Revolusi Iran (IRGC).

Meski menggunakan peluru jenis birdshot, tembakan tersebut mengenai bagian belakang kepala Alireza dan menyebabkan kematian karena pecah di dalam kepala. Alireza dibawa ke rumah sakit oleh paman dan saudara kembarnya, namun nyawanya tidak tertolong.

Saksi mata tersebut kemudian menceritakan bahwa pada malam itu, sekitar 100.000 orang bergerak menuju Kantor Polisi 126 di Lapangan Sevom di Tehranpars, di Jalan Rashid.

Aparat kepolisian awalnya menembakkan peluru kosong dari atap kantor polisi, namun kemudian beralih ke peluru tajam yang diarahkan ke kepala para demonstran.

Dalam waktu singkat, saksi mengaku melihat hampir 40 orang tewas di satu lokasi saja, sebagian besar masih muda dan termasuk perempuan.

“Di persimpangan Tirandaz, petugas mulai menembak para demonstran dari atas gedung Kantor Polisi 126. Awalnya mereka menggunakan peluru kosong, tetapi kemudian mereka mulai menembakkan peluru tajam. Mereka membidik kepala para demonstran,” ujar saksi mata tersebut.

Situasi semakin memburuk ketika pasukan khusus antiteror (NOPO) dan Divisi Fatemiyoun tiba. Menurut kesaksian, pasukan ini menembaki massa secara membabi buta dengan senjata otomatis seperti AK-47 dan Uzi, tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin, serta disertai tembakan gas air mata.

“Mereka menghujani para demonstran dengan tembakan. Mereka memiliki senjata Uzi dan AK47. Sebagian besar laki-laki menjadi sasaran di kepala dan perempuan di jantung. Itu adalah pemandangan yang mengerikan,” kenangnya.

Pemerintah Iran menggambarkan aksi protes tersebut bukan sebagai gerakan rakyat, melainkan sebagai aksi teror dan kerusuhan yang disebut-sebut didorong oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga artikel terkait IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra