tirto.id - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menuding Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bertanggung jawab terhadap gelombang protes besar di Iran dalam dua pekan terakhir.
Ia menyebut sanksi berkepanjangan dari AS dan sekutunya telah memperberat penderitaan rakyat Iran.
“Jika ada kesulitan dan kendala dalam kehidupan rakyat Iran yang terkasih, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan yang berkepanjangan dan sanksi tidak manusiawi yang dikenakan oleh pemerintah AS dan sekutunya,” kata Pezeshkian dikutip The Guardian.
Di sisi lain, Trump secara terbuka mengecam Khamenei dan mendukung para demonstran Iran, bahkan sempat mendorong rakyat Iran untuk terus melakukan perlawanan.
Situasi sempat memanas ketika AS hampir melancarkan serangan militer ke Iran, namun rencana itu akhirnya dibatalkan karena tekanan diplomatik dan kekhawatiran akan dampak balasan Iran terhadap stabilitas kawasan.
Protes besar-besaran di Iran sendiri dimulai sejak akhir Desember, bermula dari kemarahan warga atas kondisi ekonomi, lalu berkembang menjadi tuntutan perubahan pemerintahan.
Pemerintah Iran merespons dengan tindakan keras, termasuk memutus hampir seluruh akses internet dan komunikasi untuk menekan pergerakan massa dan membatasi informasi keluar negeri.
Ribuan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap, berdasarkan data dari The Human Rights Activists.
Ayatollah Khamenei mengakui banyaknya korban jiwa, namun menyalahkan AS dan mengecam para pengunjuk rasa.
Mengutip The Guardian, saat ini, kondisi di Iran relatif lebih tenang, sebagian akses internet mulai dipulihkan, dan aksi protes di jalanan mereda, meski suara perlawanan masih terdengar dari warga yang menyuarakan protes dari dalam rumah mereka.
Ribuan Orang Turun ke Jalan di AS, Protes Kekerasan Terhadap Rakyat Iran
Pada Minggu (18/1/2026) ribuan orang di Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi besar untuk mengecam tindakan keras pemerintah Iran terhadap para demonstran anti pemerintah di negara tersebut.
Aksi terbesar berlangsung di Los Angeles, yang dikenal sebagai tempat tinggal komunitas diaspora Iran terbesar di dunia. Tak hanya di LA, aksi turun ke jalan juga digelar oleh ratusan orang di New York.
Para peserta membawa poster dan spanduk yang mengecam kekerasan Pemerintah Iran, bahkan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk genosida dan teror terhadap rakyatnya sendiri.
Banyak peserta aksi merupakan warga keturunan Iran yang merasakan langsung dampak konflik tersebut, termasuk kehilangan anggota keluarga akibat kekerasan selama protes di Iran.
“Hati saya berat dan jiwa saya hancur, saya kehilangan kata-kata untuk menggambarkan betapa marahnya saya,” kata Perry Faraz, salah seorang demonstran di Los Angeles dikutip Strait Times.
Faraz mengatakan jika salah satu sepupunya yang masih muda telah tewas selama demonstrasi di luar negeri yang diadakan di negara asalnya, Iran.
“Dia bahkan belum berusia 10 tahun. Itu mengerikan,” sesalnya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































