Menuju konten utama

Purbaya Buka-bukaan Fiskal Menyempit Imbas Harga Minyak

Meski APBN tergolong aman, Purbaya mengakui kenaikan harga minyak akan mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja.

Purbaya Buka-bukaan Fiskal Menyempit Imbas Harga Minyak
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) memberikan tanggapan saat memimpin sidang aduan kanal Debottlenecking Satgas P2SP di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Sidang tersebut beragendakan membahas dan mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah hambatan usaha dari tiga aduan tentang permasalahan PT Samator Indo Gas Tbk, PT Kairos Indah Sejahtera dan PT Galang Bumi Industri. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akan menghitung ulang skenario anggaran menyusul kenaikan harga minyak dunia yang kembali menembus level 100 dolar AS per barel.

Purbaya mengungkapkan, langkah antisipasi ini dilakukan atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta simulasi dengan berbagai skenario harga.

"Kemarin waktu di rapat kabinet, Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda, bukan 100 saja atau lebih, jadi gimana kita anggarannya. Tadi sedang hitung," kata Purbaya di Kompleks Kemenkeu, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak ke level 100 dolar AS per barel bukanlah kondisi asing bagi pemerintah. Dia mengatakan, APBN telah disusun dengan mengacu pada asumsi harga minyak di angka tersebut. Dengan demikian, bendahara negara memastikan kondisi fiskal masih dalam keadaan kuat.

"Masih (kuat). Tapi tadinya kan gini, ketika harga minyak turun saya pikir saya ada ruang untuk, nambah belanja ke daerah dan lain-lain ya, termasuk kementerian lembaga," ujarnya.

Meski APBN tergolong aman, Purbaya mengakui kenaikan harga minyak akan mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk menambah belanja.

Namun, ia menegaskan anggaran stimulus untuk semester II 2026 tidak akan berubah karena sejak awal telah disusun dengan asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel.

"Enggak, enggak, waktu stimulus kemarin dilakukan kan anggaran dengan asumsi harga minyak 100 juga. Jadi nggak ada perubahan yang berarti," ucapnya.

Ia juga tidak menyiapkan tambahan anggaran subsidi dan kompensasi BBM. Purbaya mengatakan, fokus utama adalah memastikan subsidi tepat sasaran agar volume konsumsi BBM bersubsidi dapat terkendali.

Di sisi lain, Purbaya menyoroti masih adanya masyarakat mampu yang menikmati BBM bersubsidi seperti Pertalite. Ia berencana membahas perihal teknologi anyar milik Pertamina dengan Direktur Utama, Simon Aloysius Mantiri.

"Ini kan semua orang yang kaya juga bisa ambil Pertalite misalnya, atau gas juga. Nah dia punya teknologi saya pengen lihat teknologi kayak gimana sih, penerapannya seperti apa," jelasnya.

Adapun harga minyak Brent tercatat di 100,82 dolar AS per barel, melonjak 7 persen dalam satu hari dan menembus 100 dolar AS untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Minyak Brent bahkan menguat sekitar 14 persen sepanjang pekan ini. Sementara WTI berada di level 92,50 dolar AS per barel.

Baca juga artikel terkait LATEST SC atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana