tirto.id - Televisi Pemerintah Iran dibajak oleh orang yang tak dikenal pada Minggu (18/1/2026). Saat pembajakan terjadi, Pangeran Reza Pahlavi tampil dengan pesan yang ditujukan untuk tentara Iran.
Konflik internal yang terjadi di Iran masih terjadi hingga sekarang. Pada awal pekan ini, publik Iran dikejutkan dengan adanya pembajakan terhadap stasiun televisi Iran.
Peretas berhasil mengganggu siaran televisi satelit milik pemerintah Iran, sehingga beberapa saluran televisi negara menayangkan rekaman yang mendukung Pangeran Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi.
TV Pemerintah Iran Dibajak, Tampilkan Reza Pahlavi dan Pesan untuk Tentara
Rekaman ini muncul secara tidak biasa pada Minggu malam di sejumlah saluran televisi milik negara Iran yang disiarkan melalui satelit oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).
Tayangan tersebut diduga merupakan hasil peretasan siaran. Dalam video itu, terlihat dua klip Pangeran Mahkota Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, seorang tokoh oposisi yang selama ini tidak pernah diberi ruang di media negara.

Setelah menampilkan Pahlavi, video tersebut juga memperlihatkan rekaman pasukan keamanan dan sejumlah orang yang tampak mengenakan seragam polisi Iran.
Tayangan itu menyampaikan klaim bahwa sebagian dari mereka telah meletakkan senjata dan menyatakan kesetiaan kepada rakyat, seolah-olah aparat keamanan mulai membelot dari pemerintah.
Namun, klaim tersebut tidak disertai bukti apa pun dan belum dapat diverifikasi kebenarannya.
"Ini adalah pesan kepada tentara dan pasukan keamanan. Jangan arahkan senjata Anda ke rakyat. Bergabunglah dengan bangsa untuk kebebasan Iran," pesan video tersebut dikutip AP News.
Gangguan siaran ini cukup mengejutkan publik Iran karena berhasil menembus media resmi pemerintah yang biasanya dikontrol sangat ketat. Televisi pemerintah mengakui adanya gangguan sinyal oleh pihak tak dikenal, meski tidak menjelaskan isi tayangan yang muncul.
Aksi peretasan ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan besar akibat penumpasan demonstrasi oleh aparat keamanan.
Update Konflik Iran: 4.029 Tewas, 26.000 Ditangkap
Kelompok aktivis hak asasi manusia menyebut jumlah korban tewas telah mencapai 4.029 orang yang terdiri dari 3.786 adalah demonstran, 180 adalah pasukan keamanan, 28 adalah anak-anak, dan 35 adalah orang-orang yang tidak ikut berdemonstrasi.
Selain korban tewas, lebih dari 26.000 orang dilaporkan ditangkap, memicu kekhawatiran akan adanya eksekusi massal, mengingat Iran dikenal sebagai salah satu negara dengan angka hukuman mati tertinggi di dunia.
Angka ini dikhawatirkan akan terus bertambah karena pemerintah memutus akses internet, sehingga informasi sulit keluar dari dalam negeri.
Penindakan ini menjadi yang paling berdarah dalam beberapa dekade terakhir di Iran dan mengingatkan pada kekacauan menjelang Revolusi 1979.
Hubungan Iran dengan Amerika Serikat juga semakin memanas, setelah Presiden Donald Trump menyerukan larangan pembunuhan demonstran damai dan eksekusi massal.
Ketegangan ini diperkuat oleh pergerakan kapal induk AS USS Abraham Lincoln yang terlihat menuju jalur yang bisa membawanya ke Timur Tengah, memicu spekulasi tentang kemungkinan peningkatan tekanan militer terhadap Iran.
Konflik di Iran ini dipicu karena kondisi ekonomi yang semakin sulit. Inflasi yang tinggi membuat harga kebutuhan pokok semakin melangit, angka pengangguran yang juga tinggi membuat daya beli masyarakat melemah.
Adanya sanksi internasional juga semakin memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut. Nilai mata uang Iran, rial pun semakin anjlok. Per hari ini, nilainya mencapai 1.072.500 per 1 dolar AS.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































