tirto.id - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengakui bahwa ribuan warga Iran telah tewas terbunuh dalam unjuk rasa sejak dua minggu terakhir. Khamenei secara terbuka menyalahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait jatuhnya korban ini.
Dikutip dari CNN World, pengakuan tersebut diutarakan Khamenei pada Sabtu (17/1/2026) lalu. Ia mengatakan bahwa kerusuhan dalam unjuk rasa yang meluas di Iran secara nasional dipicu oleh tiga "kelompok perusuh".
Kelompok pertama, jelas Khamenei, adalah orang-orang yang didukung, didanai, serta dilatih oleh AS dan Israel. Kelompok kedua seperti dijelaskan pemimpin Revolusi Iran 1978-1979 itu adalah generasi muda yang terpengaruh olehnya.
Sedangkan, kelompok terakhir disebutnya sebagai "individu naif yang dimanipulasi oleh pemimpin kelompok".
"Dengan merugikan rakyat, mereka membunuh beberapa ribu dari mereka. Beberapa terbunuh dengan kekuatan tak manusiawi ... Tindakan ini adalah bagian dari cetak biru penghasutan yang telah disiapkan sebelumnya," tuturnya.
Dalam pidatonya, Khamenei juga menyalahkan Trump dan menyebutnya sebagai kriminal yang bertanggung jawab atas korban jiwa dan kerusakan. Oleh Khamenei, Trump dinilai telah secara terbuka mendorong pengunjuk rasa dan menjanjikan dukungan militer kepada mereka.
Trump Sebut Ali Khamenei "Orang Sakit"
Trump merespons pernyataan Khamenei pada Sabtu lalu. Dalam wawancaranya dengan Politico, Trump menyebut Ali Khamenei sebagai "orang sakit".
Trump menolak dituduh bertanggung jawab atas jatuhnya ribuan korban jiwa di Iran. Menurutnya, Khamenei adalah pihak yang bersalah karena memimpin negara menggunakan kekerasan eksesif kepada rakyatnya sendiri.
"Untuk menjaga negara tetap berfungsi—meskipun fungsinya rendah—kepemimpinan harus fokus menjalankan negaranya dengan benar, seperti yang saya lakukan dengan Amerika Serikat, dan tidak membunuh ribuan orang untuk tetap memegang kendali," ucapnya.
Situasi di Iran hingga kini masih diliputi kabut. Khamenei menyebut korban jiwa berjumlah ribuan, tapi tak mengungkap angka pasti.
Menurut Kantor Berita Aktivis HAM Iran (HRANA) yang berbasis di AS, jumlah korban jiwa dalam protes masyarakat sipil sejak Desember 2025 lalu kini telah mencapai 3.600 pengunjuk rasa. Namun, jumlah ini belum bisa dikonfirmasi secara independen di tengah pembatasan arus informasi di Iran.
Saksi mata yang dihimpun CNN World mengungkapkan bahwa aparat keamanan Iran melakukan tindakan brutal ketika menghadapi pengunjuk rasa. Dalam kesaksian pengunjuk rasa yang tak disebutkan identitasnya itu, pasukan pemerintah menembak jatuh para demonstran di jalanan.
"Mereka membidik dengan laser dan menembak wajah orang. Mereka membantai orang ... Mereka membunuh anak-anak kita yang paling cantik, paling cantik dan paling berani," katanya.
Kesaksian pengunjuk rasa tersebut sesuai dengan pernyataan saksi mata yang dihimpun BBC pada pekan lalu. Menurut pria yang tak disebutkan identitasnya itu, unjuk rasa di kota kecil Iran bagian selatan juga ditanggapi aparat dengan peluru tajam.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, mereka menembak langsung ke barusan pengunjuk rasa. Orang-orang jatuh di tempat mereka berdiri," katanya menjelaskan tembakan aparat yang disebut berasal dari senapan serbu model AK.
Ketidaktentuan juga dilaporkan tengah membayangi para pengunjuk rasa yang ditangkap. HRANA menyebut ada lebih dari 24.000 orang ditangkap dalam unjuk rasa ini, meskipun jumlah ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Sejumlah pengunjuk rasa yang ditangkap ini sempat diisukan akan dihukum gantung, sebelum isu ini urung dilakukan pasca tekanan dunia internasional. Namun, Khamenei menyatakan pada Sabtu bahwa pihaknya akan memproses pengunjuk rasa yang ditangkap "dengan metode kami sendiri dan pendekatan yang benar".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































