tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) marak terjadi di Indonesia saat musim kemarau tahun 2026. Situasi yang sama terjadi di beberapa provinsi hingga berpotensi mengganggu kesehatan anak.
Menurut catatan Kementerian Kehutanan (17/7/2026), sepanjang Januari–Juni 2026, luas karhutla mencapai 107.465,47 hektare. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan area terbakar terbesar: 28.680,47 hektare.
Disusul Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare).
Kemudian, karhutla semakin kerap terjadi di beberapa provinsi di Indonesia sepanjang Agustus 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes), per 21 Agustus 2026 mencatat, lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terpapar langsung kabut asap. Data berlaku hingga 25 Agustus 2026.
Tujuh provinsi terdampak mencakup Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Enam dari tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana.

Mengiringi masalah kabut asap, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan melonjak di sejumlah wilayah. Sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026, penderita ISPA menembus angka 165.747 kasus di Kalimantan Barat. Kalimantan Tengah juga turut melaporkan lebih dari 3.000 kasus selama periode 10-16 Agustus 2026.
Kemenkes menginstruksikan agar seluruh fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memprioritaskan perlindungan ekstra bagi kelompok rentan. Salah satunya terkait keselamatan dan kesehatan anak dalam situasi karhutla.
Mengapa Kabut Asap Karhutla Berbahaya bagi Tubuh Anak?
Ancaman terbesar dari situasi karhutla, dilansir dari laman Kemenkes (26/8/2026), adalah paparan partikel halus berbahaya atau PM2,5. Lalu gas karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Zat ini mampu menembus sistem pernapasan dan peredaran darah tanpa batasan ruang.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menegaskan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko. Pasalnya, paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan.
"Anak-anak adalah kelompok yang paling berisiko karena paru-paru dan sistem kognitif mereka masih dalam tahap perkembangan. Sementara pada kelompok lansia, paparan polutan ekstrem dapat memperberat Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), memicu gangguan kardiovaskular, peningkatan tekanan darah, gangguan gastrointestinal, hingga iritasi mata dan kulit. Kita harus memberikan pelindungan ekstra kepada kelompok rentan di sekitar kita," ucapnya.
Menurut jurnal "Health effects of wildfire smoke in children and public health tools: a narrative review" karya Stephanie M Holm, Mark D Miller, dan John R Balmes, anak-anak juga berpotensi mengalami efek kesehatan jangka panjang dari paparan tinggi berulang. Sistem tubuh anak masih tumbuh dan berkembang, sehingga sangat rentan terhadap efek kesehatan dari polutan udara.
Paparan asap kebakaran hutan pada anak-anak yang paling kuat dampaknya adalah efek pernapasan. Ketika mengontrol karakteristik individu, dalam kohort Medicaid untuk kebakaran hutan San Diego tahun 2007, balita juga mengalami peningkatan kunjungan perawatan kesehatan untuk infeksi saluran pernapasan atas, pneumonia, dan bronkitis selama periode kebakaran hutan, meskipun hal ini tidak terjadi pada anak-anak yang lebih tua.

Namun, perbedaan pengamatan terjadi pada berbagai studi dengan tingkat usia anak. Hal ini turut dipengaruhi berbagai faktor risiko, terutama lokasi tempat tinggal; apakah berada dekat dengan kebakaran dan di arah angin dari kebakaran.
Kondisi ini bisa lebih parah, mengingat anak-anak cenderung lebih aktif secara fisik daripada orang dewasa sehingga mereka mungkin menghirup udara berasap lebih dalam ke paru-paru.
Selain itu, anak-anak juga cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan. Ini dapat meningkatkan paparan mereka terhadap polusi udara, termasuk asap karhutla.
Melansir laman Unicef, berikut ini risiko asap karhutla terhadap anak-anak kecil dan bayi adalah berat badan lahir rendah (dikaitkan dengan masalah pernapasan di kemudian hari dan tinggi badan yang lebih pendek dari usia sebenarnya), cacat lahir, diabetes, dan kematian.
Anak-anak kecil juga beresiko terkena asma dan penyakit pernapasan, sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, hingga fungsi otak bagian bawah.
Sementara itu, laman Harvard T.H. Chan menyebut, menurut Akademi Pediatri Amerika, dampak kesehatan kebakaran hutan pada anak-anak dapat meliputi sesak atau nyeri di dada dan sesak napas atau kesulitan bernapas, yang bisa lebih sulit bagi anak-anak dengan alergi, asma, atau masalah kesehatan lainnya
Belum lagi masalah batuk, sensasi terbakar atau perih pada hidung, tenggorokan, dan mata, serta merasa pusing atau kepala terasa ringan. Masalah kesehatan mental juga turut terkena dampak, mulai dari kecemasan terkait perubahan iklim hingga trauma akut, sampai ketakutan atau pengalaman akan penggusuran, khususnya bagi anak-anak tunawisma dan yang tempat tinggalnya tidak stabil.

Langkah Strategis Lindungi Anak di Dalam dan di Luar Rumah
Anak-anak termasuk kelompok rentan dalam bencana kebakaran hutan. Mereka belum sepenuhnya mengetahui situasi dan bahaya asap yang dihirup sehari-hari.
Maka, orang dewasa bertugas melindungi anak-anak, baik saat beraktivitas di dalam rumah maupun ketika harus ke luar rumah. Jika kebakaran hutan tengah berlangsung di wilayah tempat tinggal, beberapa hal perlu diperhatikan orang tua/pengasuh.

Melansir laman Unicef dan Harvard T.H. Chan, langkah-langkah strategis untuk melindungi anak dan menjaga kesehatan serta keselamatannya dari paparan asap karhutla adalah segera evakuasi jika pihak berwenang menyarankan untuk melakukannya atau jika rumah dinilai berisiko terkena asap hingga api kebakaran hutan.
Sebagai bagian dari rencana penanggulangan kebakaran hutan, siapkan rencana tanggap darurat keluarga, termasuk perlengkapan darurat yang siap dibawa saat meninggalkan rumah jika diperlukan.
Andai saja memungkinkan, pindah secara fisik untuk mengurangi paparan asap kebakaran hutan. Jaga anak-anak di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Apabila menggunakan AC di dalam rumah, operasikan AC dengan saluran masuk udara segar tertutup jika memungkinkan, untuk mencegah asap dari luar masuk ke dalam rumah
Tak lupa untuk menggunakan pembersih udara portabel jika tersedia. Selalu pantau kualitas udara dan jaga anak-anak di dalam rumah jika kualitas udara mencapai 200, atau jika anak menderita asma atau masalah medis kronis lainnya.
Jika anak memiliki gangguan pernapasan, pastikan di rumah ada inhaler atau resep obat lainnya yang sudah diisi ulang dan siap digunakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Selain itu, buat “ruangan bersih” di rumah dengan sedikit jendela dan pintu.
Saran lain adalah pertimbangkan filter High-Efficiency Particulate Air/Udara Partikulat Efisiensi Tinggi (HEPA) atau sistem penyaringan udara ruangan lainnya. Jauhkan anak-anak dari abu dan lokasi pembersihan. Terakhir, ikuti rekomendasi dari institusi kesehatan tentang cara melindungi anak-anak sebelum, selama, dan setelah kebakaran hutan.

Kenali Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter?
Anak-anak yang terlalu banyak terpapar asap kebakaran hutan akan menunjukkan berbagai macam gejala. Gejala ini tampak karena merupakan gejala fisik sehingga mudah dikenali.
Orang tua atau pengasuh perlu mengetahui tanda-tanda tersebut agar anak segera mendapat penanganan dari dokter. Dilansir dari laman Unicef, gejala fisik yang ditunjukkan jika menghirup atau terpapar asap kebakaran hutan adalah rasa nyeri dan sesak di dada.
Gejala lain berupa kesulitan bernapas, mengi atau semacam sesak napas (bengek), dan batuk. Lantas sensasi terbakar atau iritasi di hidung, tengorokan, dan mata. Pusing juga termasuk yang dirasakan anak.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas, tidak bisa tidur, atau mengalami masalah kesehatan yang terlihat jelas, segera bawa anak ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.

Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id


































