tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.805 pada perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026). Rupiah menguat 71 poin atau 0,42 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.842.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan faktor rupiah menguat lantaran Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan penerimaan pajak 2026 bisa melampaui target yang ditetapkan pada anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) tahun anggaran 2026, yakni Rp2.357,7 triliun.
"Hal ini diperkirakan olehnya kendati basis pertumbuhan penerimaan pajak tahun lalu yang rendah sehingga turut menjadi sorotan lembaga pemeringkat asing," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Senin.
Ia mengingatkan pemerintah memasang target penerimaan pajak tahun ini sebesar Rp2,357 triliun atau tumbuh 7,69 persen secara tahunan (year on year/YOY) dari target APBN 2025, yakni Rp2,189 triliun.
Masalahnya, kata Ibrahim, realisasi penerimaan pajak tahun lalu hanya Rp1,917 triliun, sehingga terjadi shortfall sebesar Rp271,7 triliun. Basis pertumbuhan dari realisasi tahun lalu untuk mengejar target tahun ini disebut menjadi lebih tinggi, yakni 22,9 persen secara tahunan.
Dengan kata lain, pemerintah disebut harus mengejar tambahan setoran Rp440,1 triliun untuk mencapai target 2026 dari basis realisasi 2025.
"Namun demikian, tampaknya Menkeu Purbaya tetap optimistis tahun ini bisa mengumpulkan penerimaan pajak hingga melampaui target. Optimisme itu muncul usai realisasi penerimaan pajak Januari 2026 melonjak 30,8 persen YOY," ucap dia.
Ibrahim mengatakan faktor lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan kenaikan 3,5 poin dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. Level IKK ini disebut menjadi yang tertinggi dalam setahun terakhir atau sejak Januari 2025 (127,2).
Artinya, kata Ibrahim, indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan.
Sementara itu, faktor eksternal penguatan rupiah, Washington dan Teheran mengatakan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung antara kedua negara akan berlanjut setelah diskusi positif.
Pesan tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa konflik militer di Timur Tengah akan segera terjadi, terutama setelah Washington mengerahkan beberapa kapal perang ke wilayah tersebut awal tahun ini.
"Kekhawatiran akan konflik telah membuat para pedagang memberikan premi risiko yang lebih besar pada minyak, dengan Trump juga mengancam tindakan militer terhadap Teheran," tutur Ibrahim.
"Namun, kemungkinan perang habis-habisan di Timur Tengah sekarang tampak lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal bahwa mereka akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya," imbuh dia.
Ibrahim menambahkan di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu (11/2/2026), sementara data indeks CPI akan dirilis pada hari Jumat (13/2/2026).
Data-data itu disebut akan dipantau secara cermat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai suku bunga, sementara pasar juga masih mengukur prospek kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh.
"Di Tiongkok, data CPI untuk Januari akan dirilis pada hari Jumat, memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai importir minyak terbesar di dunia. Data tersebut dirilis tepat sebelum Tiongkok memasuki liburan Tahun Baru Imlek selama seminggu, sebuah peristiwa yang diperkirakan akan mendorong peningkatan permintaan bahan bakar di negara tersebut," urai Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































