Menuju konten utama
Horizon

Mengenang John Tobing, Pencipta Lagu "Darah Juang"

Lagu "Darah Juang" dikenal luas, sering dinyanyikan di berbagai demonstrasi. Namun, mungkin tak banyak yang mengetahui penciptanya. Ia baru saja berpulang. 

Mengenang John Tobing, Pencipta Lagu
HEADER HORIZON John Tobing. tirto.id/Tino

tirto.id - "Di sini negeri kami, tempat padi terhampar...

Samudranya kaya raya

Tanah kami subur tuan...

Di negeri permai ini

Berjuta Rakyat bersimbah ruah

Anak kurus tak sekolah

Pemuda desa tak kerja...

Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami tuk membebaskan rakyat..."

"Darah Juang", lagu itu kerap dinyanyikan saat gelombang demonstrasi mahasiswa, setidaknya dari tahun 1991 hingga hari ini. Saat barisan mulai goyah, lagu itu dinyanyikan untuk menguatkan. Dengan kepalan tangan kiri terangkat, kemarahan dan harapan menyala.

Sejumlah versi bertebaran, mulai dari musik balada, slow rock, hingga himne yang menyentuh. Di balik liriknya, tersembunyi sosok Johnsony Marhasak Lumbantobing atau biasa disapa John Tobing.

Rabu malam, 25 Februari 2026, lelaki kelahiran Binjai itu mengembuskan napas terakhirnya. Ia pergi di usia 60 tahun setelah lama bergulat dengan komplikasi stroke dan serangan jantung mendadak.

Duka pun menjalar dari lorong kampus Yogyakarta hingga pusat-pusat gerakan di Jakarta. Raganya berhenti, namun "Darah Juang"-nya yang lahir di sekretariat mahasiswa 1990-an itu tetap abadi.

Binjai, Gundala, dan Tabuhan Drum Minyak Tanah

John adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Lahir pada 1 Desember 1965—ada juga yang menyebut tahun 1966— dari pasangan Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga. Ayahnya seorang hakim yang hidupnya berpindah-pindah tugas.

Masa kecil John di Bandar Lampung diwarnai musik dan komik lokal seperti Godam dan Gundala Putra Petir, yang menanamkan imajinasi tentang perlawanan dan keberpihakan pada yang lemah.

"Komik itu mempengaruhi aku tentang imajinasi pahlawan dan tentang perlawanan. Itu yang bikin aku melawan,” tutur John kepada Lilik HS dari Indoprogress.com.

Bakat musiknya muncul sejak balita. Ayahnya kerap mengenang John kecil yang naik ke drum minyak tanah di warung tetangga, menyanyikan "Guantanamera" di usia tiga tahun. Lagu rakyat Kuba itu seolah nubuat, kelak ia menyuarakan kegelisahan rakyat lewat bait puitis.

Beranjak remaja, John belajar gitar dan keyboard secara otodidak, melahap Queen, Led Zeppelin, hingga Deep Purple. Musik jadi ruang pelarian sekaligus kontemplasi, tempat ia menyalurkan ketidaksukaan pada sistem sekolah yang kaku, hingga membuatnya tak lulus SMA karena memilih gitar daripada buku teks.

Namun, saat ayahnya bertugas di Kalimantan, John dititipkan pada kerabatnya, pasangan dokter, agar rajin belajar, sehingga John akhirnya lulus SMA di tahun berikutnya.

Warsa 1986, John diterima di Fakultas Filsafat UGM. Yogyakarta saat itu kawah candradimuka pemikiran kritis di tengah represi Orde Baru. Di kampus, ia menemukan teori filsafat sekaligus kawan seperjuangan seperti Webby Warouw, Rudy Gunawan, dan Andi Munadjat.

Bersama mereka, ia membentuk band bernama Yo Ben yang membawakan heavy metal di acara kampus. Di balik distorsi gitar, benih kesadaran politik John tumbuh lewat diskusi dan tulisan di majalah fakultas.

Tahun 1989 ia terpilih sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa UGM (KM-UGM). Gerakan mahasiswa mulai bangkit dari tidur panjang akibat Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

"Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba-serbi yang diakuinya tidak penting," kenang Nezar Patria, yang sempat satu atap di kos-kosan Karangjati, Yogyakarta.

Dia mulai berteriak lantang menentang kebijakan rezim Orde Baru. John memimpin aksi menolak Porkas (lotere nasional), membela warga Kedungombo yang rumahnya ditenggelamkan demi proyek waduk, hingga berhadapan langsung dengan aparat bersenjata. Ia orator sekaligus organisator piawai yang mampu melobi massa dan merangkul banyak kalangan.

Peristiwa Kusumanegaran Berdarah, Oktober 1989, jadi kegelisahan traumatisnya. Saat memimpin aksi memperingati Sumpah Pemuda, massa diadang militer. John menyaksikan hidung rekannya, Webby Warouw, patah dihantam popor senapan.

Kekejaman itu membekas, memicu kemarahan sekaligus kecemasan. Meski takut darah dan rumah sakit, rasa setia kawan selalu mengalahkan ketakutannya. Dari pengalaman pahit di jalanan itulah lahir energi kreatif yang kemudian ia tuangkan dalam lagu-lagu perlawanan.

Dapur Perlawanan di Gejayan

Lahirnya "Darah Juang" di awal 1990-an merupakan ledakan spontan dari kegelisahan-kegelisahannya. Suatu siang di teras sekretariat KM-UGM, Gejayan, John memetik gitar dan menemukan melodi yang terasa kuat.

Ia lalu meminta Dadang Juliantara merangkai lirik, yang kemudian mendapat masukan penting dari Budiman Sudjatmiko. Budiman menyarankan agar kata "Tuhan" diganti menjadi "Bunda" agar memberi nuansa lebih humanis dan menyentuh sisi emosional pejuang.

Perubahan itu melahirkan baris: "Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berbakti, padamu kami mengabdi."

Lagu ini semula tanpa judul dan pertama kali dinyanyikan massal pada Kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) 1991, membakar nyali siapa pun yang mendengarnya. Seturut R. Toto Sugiharto dalam Tradisi Akademik Mengakomodasi Kearifan Lokal (2026:70), judul "Darah Juang" muncul dari celetukan peserta forum saat lagu dibawakan. John lalu mengiyakan celetukan tersebut.

Sejak itu, lagu menyebar dari mulut ke mulut, melintasi kota, hingga menjadi himne wajib dalam aksi penggulingan Soeharto pada Mei 1998. Ia sempat ketakutan setelah itu karena kerap diawasi intel-intel Orde Baru. John lalu kembali ke Pekanbaru dan menikah di sana.

Selain "Darah Juang", John juga menciptakan ratusan lagu lain yang lahir dari peristiwa penindasan. Lagu "Doa" yang ditulis pada April 1992 adalah duka atas tewasnya Kamal Bamadhaj dalam Tragedi Santa Cruz, Dili. John menangis saat menulis lirik yang memuat kemuakan pada negara yang menembaki rakyatnya sendiri. Ia juga menggubah "O Rai Timor" setelah terkesima dengan puisi tentang bumi Lorosae. Baginya, siapa pun yang ditindas adalah saudara seperjuangan.

"Nada-nada dan chord yang ia mainkan terdengar unik di telinga saya, terutama ketika ia tidak menyanyikan lagu-lagu yang sudah dikenal," tutur Yayan Sopyan, rekan satu fakultasnya di UGM.

Yayan menilai John terlihat sangat merdeka mengeksplorasi kreativitasnya dalam bermusik. Kemerdekaan macam itu, lanjut Yayan, merupakan modal bagus untuk menghasilkan karya seni yang menarik.

Keterlibatan John tak berhenti di panggung musik atau barisan aksi. Usai peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 (Kudatuli), ia ikut berperan dalam menyelamatkan pata aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang diburu rezim.

Meski sudah bekerja mapan di perusahaan keluarga di Sumatra, ia kembali ke Jakarta membantu rekan-rekannya. John mengusulkan agar mereka bersembunyi di Kalijodo, kawasan lokalisasi yang dianggap tak mungkin dicurigai aparat. Di kamar sempit yang panas, ia menjaga moral kawan-kawan dengan humor dan optimisme khasnya.

John memberi perlindungan fisik dan membangun suasana kekeluargaan di tengah ketakutan. Ia mengatur tempat tinggal bagi Bimo Petrus dan Herman Hendrawan, dua aktivis yang kelak hilang diculik pada 1998.

Sikap setia kawan inilah yang membuatnya dihormati lintas generasi aktivis.

Stroke dan Manis-Getirnya Kolak Durian

Pasca-Reformasi, hidup John Tobing memasuki babak baru. Setelah menuntaskan kuliah filsafat yang panjang pada 1995, ia sempat mencoba politik praktis. Pernah menjabat Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Riau dan maju sebagai caleg DPR RI 2009, namun kampanye melelahkan justru membuatnya terserang stroke pertama. Sejak itu, kesehatannya menurun, ekonomi sulit, dan mimpi politik kandas.

Tahun 2010, ia kembali ke Yogyakarta bersama keluarganya, berharap kehidupan lebih tenang. Namun kenyataan tak mudah. Pekerjaan sulit, tubuh belum pulih. Untuk bertahan, John berjualan kolak durian di depan rumahnya di Kalasan. Pemandangan itu membuat kawan-kawannya terenyuh. Seorang pencipta lagu yang mengiringi sejarah bangsa harus berjuang demi nafkah harian.

Api keseniannya tak padam. Berkat inisiatif sahabat, lahirlah album Romantika Revolusi pada 2013. Rekaman dilakukan di ruang tamu rumahnya, melibatkan musisi jalanan demi menjaga semangat orisinal. Saat peluncuran di Jakarta, John tampil dengan sisa tenaga, menyanyi dengan mata berkaca-kaca di hadapan kawan lama dan generasi baru.

Di balik kerasnya hidup, John menyimpan sisi romantis. Ia menikahi Dona pada 1997, yang baru tahu suaminya pencipta "Darah Juang" saat proses rekaman album. Setiap kelahiran anaknya—Tania, Sandio, dan Gopas—disambut dengan lagu khusus. Nama Tania terinspirasi dari perjuangan tanah petani, menegaskan bahwa bagi John, keluarga dan politik tak pernah terpisah.

Pada 1 Februari 2023, John menggelar konser mini di Sanggar Maos Tradisi, Sleman, bertajuk "Politics Requires Love and Empathy". Duduk di kursi rotan, ia membawakan lagu di tengah hujan deras.

"John hari ini berbeda dengan dulu. Hari ini banyak menyanyikan lagu-lagu tentang cinta, lingkungan, dan rohani. John adalah bagian dari kami," ujar teman seangkatannya, Hari Subagyo, dikutip majalah Tempo edisi 19 Februari 2023.

Konser tersebut menunjukkan spektrum dirinya, dari amarah revolusioner hingga kasih paling sederhana. Baginya, politik tanpa cinta adalah kosong, dan lagu adalah jembatan keduanya.

Kepergiannya pada 25 Februari 2026 menjadi duka yang luas. Jenazahnya dimakamkan di TPU Madurejo, Prambanan, dekat Yogyakarta—kota yang membentuk jiwanya.

John meninggalkan ratusan lagu, meski tak semua terdata. Namun satu karya saja, "Darah Juang", cukup menempatkan namanya dalam sejarah musik protes Indonesia.

"Sesuai dengan yang bapak harapkan juga, 'Darah Juang' ini untuk bangsa. Kalau lagu ini dinyanyikan di mana pun, bapak malah senang, tidak perlu hak cipta segala macam, karena dia ingin lagunya dikenal di seluruh penjuru Indonesia dan mancanegara," ucap anak ketiganya, Gopas Kibar Syang Proudy.

Hingga akhir hayat, ia tetap sederhana, tak menuntut royalti atau pengakuan. Sosoknya adalah pengingat bahwa di balik perubahan besar, ada suara lirih yang berani menentang gelap dengan cahaya melodi.

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi