tirto.id - Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai penurunan kinerja ekspor jadi penyebab surplus neraca perdagangan turun hingga ke titik terendah sejak 20 Mei 2020. Penurunan tersebut, menurutnya, disebabkan oleh kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
“Jadi setelah kami cek juga, di beberapa negara seperti di Malaysia, Filipina, Vietnam, nah kita analisa yang pertama kemarin, kan, awal April itu masih libur lebaran, ya, sehingga ekspor juga berkurang. Yang kedua ini banyak terkait kebijakan Trump,” ucap Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (4/6/2025).
Dampak dari kebijakan tarif Trump itu juga menjadi pembahasan dalam KTT ASEAN. Pasalnya, penurunan volume ekspor juga dialami oleh sejumlah negara di Asia Tenggara.
“Kita juga ngobrol ternyata pengaruhnya bagi masing-masing sangat besar bahkan banyak eksportir yang cenderung masih menunggu. Jadi tidak hanya sekedar ekspor ke Amerikanya, tetapi ekspor ke negara lain pun juga saling menunggu,” kata Budi.
Meski demikian, belum ada indikasi bahwa kebijakan tarif resiprokal itu dapat berdampak pada peningkatan impor, terutama dari Cina. Sebab, Cina tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai ekspor Indonesia yang tinggi.
“Jadi memang perdagangan kita dengan Cina itu kan cukup besar ya. Ekspor kita terbesar juga ke Cina. Ya misalnya tahun lalu, tahun lalu itu ekspor kita 60 miliar dolar AS tapi impor kita 70 miliar dolar AS. Memang terjadi defisit, tapi sebelumnya kita sempat surplus 2 miliar dolar AS,” sebutnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 mengalami surplus sebesar 0,16 miliar dolar AS. Angka tersebut merosot tajam dibandingkan surplus bulan sebelumnya yang mencapai 4,33 miliar dolar AS.
Ini lantaran nilai ekspor April hanya mencapai 20,74 miliar dolar AS, tumbuh 5,76 persen dibandingkan April 2024 (year-on-year/yoy). Sementara nilai impor tercatat sebesar 20,59 miliar dolar AS, melonjak 21,84 persen yoy
Surplus pada April 2025 ditopang oleh neraca perdagangan nonmigas yang mencatatkan nilai positif sebesar 1,51 miliar dolar AS. Namun, tekanan datang dari neraca perdagangan migas yang mengalami defisit cukup dalam, yakni sebesar 1,35 miliar dolar AS.
Sementara itu, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia hingga April 2025 tercatat sebesar 86,36 miliar dolar AS. Nilai ini tumbuh 6,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































