Menuju konten utama
Mozaik

Magang, Jejak Panjang Pembelajaran Praktis

Tradisi magang lahir di Eropa pada abad pertengahan. Dalam perjalanannya, sistem ini kerap diwarnai praktik magang gratis dan eksploitasi tenaga kerja muda.

Magang, Jejak Panjang Pembelajaran Praktis
Ilustrasi Pegawai Magang. foto/istockphoto

tirto.id - Pada pertengahan September 2025, Pemerintah Indonesia meluncurkan paket kebijakan stimulus ekonomi untuk menjaga laju pertumbuhan. Salah satu sorotannya adalah program magang berbayar bagi lulusan baru. Bukan sekadar pelatihan, tapi strategi makro untuk menyerap tenaga kerja terdidik dan menekan pengangguran.

Dengan anggaran Rp198 miliar, program ini menargetkan 20.000 lulusan S1 hingga D3 untuk magang selama enam bulan. Setiap peserta mendapat uang saku setara UMP (Upah Minimum Provinsi).

Pemerintah menegaskan bahwa magang tak lagi boleh dianggap sebagai pengalaman gratis. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pun diajak aktif menghubungkan perusahaan dengan para lulusan, dan dunia usaha menyambutnya sebagai peluang saling menguntungkan.

Penempatan magang sebagai pilar stimulus menandai evolusi panjang konsep ini. Dulu, magang lahir dari bengkel pengrajin Eropa abad pertengahan, sistem paternalistik yang perlahan berubah seiring revolusi industri dan pergeseran pendidikan.

Dari Gilda Hingga Revolusi Industri

Jauh sebelum kantor modern dan gedung tinggi mendominasi dunia kerja, pusat pembelajaran keterampilan berada di bengkel-bengkel pengrajin Eropa. Di sanalah, pada abad Pertengahan akhir, sistem magang lahir sebagai cara formal bagi pemuda untuk masuk dunia kerja dan menjadi bagian dari masyarakat produktif.

Magang saat itu bukan sekadar pelatihan, tapi ikatan sosial antara empu atau pengrajin ahli dan pemagang. Pesertanya berusia antara 14-21 tahun, mayoritas laki-laki. Mereka tinggal dan bekerja bersama empu selama bertahun-tahun, biasanya tujuh tahun. Sebagai gantinya, ia mendapat pelatihan, makan, tempat tinggal, dan bimbingan moral. Hubungan ini bersifat personal di mana empu berperan seperti orang tua, membentuk karakter dan etos kerja pemagang.

Ilustrasi Pegawai Magang

Ilustrasi Pegawai Magang. foto/istockphoto

Sistem ini diawasi ketat oleh gilda, perhimpunan pengrajin yang mengatur standar kualitas, harga, dan jumlah tenaga kerja terampil. Sistem ini menciptakan hierarki yang ketat antara pengrajin ahli, pekerja terampil, dan pemagang.

Gilda menetapkan durasi magang, syarat menjadi empu, dan ujian akhir untuk naik status menjadi pekerja harian terampil. Mereka juga menjadi penengah jika terjadi konflik antara empu dan pemagang.

Magang di masa itu bukan hanya soal kerja, tapi proses pembentukan identitas sosial. Seorang pemagang dilatih bukan hanya secara teknis, tapi juga secara etis dan sosial. Jalur menuju status empu adalah tangga kehidupan yang jelas dan terstruktur.

Bahkan menurut Hastings Rashdall dalam bukunya The Universities of Europe in the Middle Ages (1895:150), model gilda ini turut melahirkan universitas-universitas awal di Eropa, seperti Bologna dan Paris, yang meniru sistem perhimpunan mereka.

Saat kolonis Eropa membangun kehidupan baru di Amerika, mereka membawa sistem pemagangan dari tanah asal. Tokoh seperti Benjamin Franklin dan George Washington pun pernah menjadi pemagang. Namun, sistem yang mapan di Eropa tak bisa diterapkan begitu saja di tanah Amerika yang luas dan bebas.

Di Dunia Baru itu, tidak ada gilda yang mengatur perdagangan. Lahan melimpah dan tenaga kerja terbatas membuat kontrol atas keahlian jadi tidak relevan. Semangat kemerdekaan dan ideologi republikan mendorong pemagang melihat diri mereka bukan sebagai anak asuh, tapi sebagai individu merdeka yang terikat kontrak kerja.

“Perusahaan seperti Lokomotif Baldwin di Philadelphia menahan gaji sampai kontrak selesai untuk mempertahankan peserta magang mereka,” tulis Daniel Jacoby dari Universitas Washington Bothell dalam artikelnya di Economic History Association.

Namun, perubahan terbesar datang dari Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19. Mesin uap dan produksi massal menggantikan bengkel pengrajin. Proses kerja yang dulu kompleks dipecah menjadi tugas-tugas sederhana. Pelatihan panjang tak lagi efisien. Pabrik hanya butuh operator, bukan empu. Fokus pelatihan bergeser dari menguasai keahlian menjadi menjalankan pekerjaan spesifik.

Akibatnya, sistem pemagangan lama runtuh. Serikat buruh muncul untuk melindungi pekerja terampil dan mengatur rekrutmen. Magang berubah menjadi alat kontrol jumlah tenaga kerja dan menjaga upah. Hubungan kerja pun menjadi lebih transaksional, berpusat pada gaji dan kondisi kerja, bukan lagi pada pewarisan nilai dan keterampilan.

Revolusi Industri mengakhiri sistem pemagangan tradisional dan membuka jalan bagi bentuk pelatihan kerja yang lebih modern dan pragmatis.

Kemunculan "Intern" di Dunia Medis dan Profesional

Di tengah perubahan besar akibat Revolusi Industri, dunia profesional mengalami pergeseran senyap namun penting, khususnya di bidang kedokteran. Dari perubahan itu lahir sebuah istilah baru yang kelak mendefinisikan magang modern: “intern”.Kata intern berasal dari bahasa Latin internus, yang berarti “di dalam”, lalu masuk ke bahasa Prancis sebagai interne. Di Amerika, istilah ini mulai digunakan sekitar tahun 1879 untuk menyebut dokter muda yang baru lulus dan menjalani pelatihan di rumah sakit.

Mereka tinggal dan bekerja di sana, dikenal juga sebagai house officers. Pada 1899, istilah internship muncul untuk menyebut masa pelatihan tersebut. Berbeda dari sistem pemagangan tradisional yang menggabungkan teori dan praktik sejak awal, internship medis memisahkan keduanya.

Calon dokter belajar teori bertahun-tahun di sekolah, lalu menerapkannya secara langsung di rumah sakit setelah lulus. Internship menjadi jembatan antara ruang kelas dan dunia kerja nyata.

Ilustrasi Pegawai Magang

Ilustrasi Pegawai Magang. foto/istockphoto

Meski gajinya kecil, sekitar 125 dolar per tahun di Universitas Michigan pada 1899, internship menawarkan pengalaman yang sangat berharga. Model ini terbukti efektif dan pada 1922, pemerintah AS mewajibkan semua lulusan kedokteran menjalani internship sebelum mendapat izin praktik.

Keberhasilan internship medis menjadi acuan bagi profesi lain. Sebelum pendidikan hukum diformalisasi, calon pengacara seperti Abraham Lincoln belajar langsung dari mentor. Namun, seiring berkembangnya pendidikan tinggi, profesi lain mulai mengadopsi model internship.

Dimulai dari bidang pengajaran pada 1960-an, konsep ini menyebar ke bisnis, pemerintahan, dan hukum, menggantikan sistem pemagangan lama dan menjadi standar pelatihan profesional masa kini.

Memasuki abad ke-20, fondasi magang modern mulai terbentuk. Namun, pergeserannya dari program medis menjadi praktik lintas industri dipicu oleh perubahan sosial-ekonomi besar, terutama di Amerika Serikat.

Salah satu pemicunya adalah gerakan pendidikan kooperatif (co-op) yang dimulai oleh Herman Schneider di Universitas Cincinnati pada 1906. Mahasiswa, khususnya di bidang teknik, bergantian antara kuliah dan kerja di perusahaan mitra.

Model tersebut menjembatani dunia akademik dan industri, lalu diadopsi oleh kampus lain seperti Universitas Northeastern (1909) dan Universitas Drexel (19190. Co-op memperkuat hubungan antara kampus dan dunia kerja, membuka jalan bagi pertumbuhan magang.

Ledakan jumlah mahasiswa pasca-Perang Dunia II menjadi katalis utama. Pendidikan tinggi makin mudah diakses meskipun menimbulkan dilema. Semakin banyak lulusan, semakin sulit membedakan kualitas mereka.

Ijazah tak lagi cukup sebagai penanda kesiapan kerja. Pengalaman magang pun naik pamor, menjadi bukti nyata kesiapan dan inisiatif. Perusahaan mulai menjadikannya syarat dan mahasiswa merasa wajib mengikutinya.

Pada pertengahan abad ke-20, bisnis menyadari manfaat menggunakan intern untuk melatih karyawan baru. Ini adalah era “Mad Men”, di mana intern berpakaian rapi mengambil kopi, mengajukan dokumen, dan mempelajari seluk-beluk dunia korporat.

Program internship korporat mulai berkembang pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kompleksitas dunia bisnis.

Akibatnya, seperti dilaporkan Time, partisipasi magang melonjak. Universitas yang menawarkan program magang naik dari 200 pada 1970 menjadi 1.000 pada 1983. Mahasiswa yang ikut magang pun meningkat drastis, dari 3 persen di 1980-an menjadi 62 persen pada 2017. Magang berubah dari pilihan menjadi keharusan, bahkan menggantikan posisi entry-level bagi banyak lulusan.

Pertumbuhan ini, terutama magang tanpa bayaran, dimungkinkan karena celah hukum. Putusan Mahkamah Agung AS tahun 1947 dalam kasus Walling v. Portland Terminal Co, sebuah kasus yang memperhadapkan peserta pelatihan kereta api dengan perusahaan kereta api, yang menyatakan bahwa jika pelatihan lebih menguntungkan peserta daripada perusahaan, maka perusahaan tak wajib membayar.

Celah tersebut dimanfaatkan selama puluhan tahun, memicu praktik magang gratis dan perdebatan soal eksploitasi tenaga kerja muda yang masih berlangsung hingga kini.

Adaptasi "Magang" di Indonesia

Konsep pelatihan kerja berbasis praktik akhirnya tiba di Nusantara dan berakulturasi dengan kondisi sosial, pendidikan, dan ekonomi lokal. Meski istilah “magang” dalam bentuk modern tergolong baru, gagasan pendidikan berbasis keterampilan sudah ada sejak era kolonial.

Pada awal abad ke-17, ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) didirikan tahun 1609 dan kemudian membangun pusat operasi di Banten, sistem pelatihan dan pencatatan modern mulai diperkenalkan. VOC membawa sistem pembukuan dan manajemen modern yang memerlukan tenaga kerja terlatih, meskipun pada saat itu masih terbatas pada kepentingan perdagangan kolonial.

Pemerintah Belanda juga mendirikan sekolah kejuruan atau ambachtsschoolen untuk mencetak tenaga teknis dan administratif. Merujuk buku SMK dari Masa ke Masa (2015:13), salah satunya adalah Ambachts School van Soerabaia di Surabaya pada 1853. Sekolah teknik tersebut melakukan pembelajaran pada malam hari, dikhususkan bagi anak-anak Indo dan Belanda yang bekerja siang hari.

Fokusnya bukan pada pendidikan intelektual, melainkan keterampilan praktis yang langsung bisa digunakan di dunia kerja. Secara tak langsung, ini menjadi fondasi awal bagi penerimaan konsep magang di Indonesia.

Perkembangan sistem magang modern di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 22 hingga 26 undang-undang ini mengatur bahwa pelatihan kerja dapat dilaksanakan dengan program magang pada suatu perusahaan. Undang-undang ini juga menjelaskan bahwa pemagangan dapat dijalankan berdasarkan perjanjian pemagangan antara peserta magang dengan perusahaan yang dibuat secara tertulis.

Kini, magang telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan dan dunia kerja. Program seperti Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) menjadikan magang sebagai kegiatan resmi yang bisa dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS).

Pada Agustus 2021 sebanyak 13.371 mahasiswa dari 553 perguruan tinggi mengikuti program Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB). Program ini kemudian berevolusi menjadi program Magang Berdampak yang diluncurkan pada tahun 2025.

Namun, praktik magang juga menyisakan persoalan. Laporan Tempo pada April 2025 lalu menyoroti eksploitasi peserta magang yang bekerja layaknya karyawan tetap namun tanpa upah layak. Isu soal hak dan kewajiban magang terus menjadi perdebatan.

Baca juga artikel terkait MAGANG atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi