Menuju konten utama

Konflik Iran-AS Dinilai Jadi Momentum RI untuk Transisi Energi

Indri menilai ketergantungan Indonesia pada gas juga menyimpan risiko tinggi terhadap kedaulatan energi nasional dan meninggalkan energi fossil.

Konflik Iran-AS Dinilai Jadi Momentum RI untuk Transisi Energi
Ilustrasi energi terbarukan. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi mengganggu ketahanan energi Indonesia (Republik Indonesia atau RI). Situasi perang seharusnya menjadi momentum Indonesia melakukan transisi energi.

Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, menilai dinamika geopolitik global seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat agenda transisi energi.

Menurut Putra, ketergantungan terhadap energi fosil impor membuat ketahanan energi nasional mudah terpengaruh oleh konflik internasional.

“Transisi energi bukan hanya soal agenda lingkungan, tetapi juga strategi untuk memperkuat keamanan energi nasional,” jelas Putra dalam keterangan, Jumat (13/3/2026).

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menekankan, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah hampir selalu berdampak pada pergerakan harga minyak dunia. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, situasi tersebut dinilai membuat posisi energi nasional cukup rentan terhadap guncangan eksternal.

“Ketika konflik meningkat, harga minyak cenderung melonjak dan pada akhirnya akan menekan fiskal negara, terutama melalui peningkatan beban subsidi energi,” ujar Bhima.

Dari perspektif geopolitik, akademisi Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, menjelaskan bahwa konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut dinilai berisiko mengganggu jalur distribusi energi global.

Salah satu jalur strategis yang dapat terdampak adalah Selat Hormuz, yang selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas di pasar global yang pada akhirnya turut berdampak pada stabilitas ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sementara itu, Fossil Fuels Portfolio Manager Trend Asia, Novita Indri, menilai ketergantungan Indonesia pada gas juga menyimpan risiko tinggi terhadap kedaulatan energi nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, rencana pemerintah membangun pembangkit listrik berbasis gas dinilai perlu dikaji ulang.

“Seharusnya kondisi geopolitik saat ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk tidak menambah pembangkit listrik dari gas,” ujar Novi.

Ia menilai Indonesia dapat belajar dari pengalaman Pakistan yang mulai melakukan percepatan adopsi energi surya atau solar photovoltaic (PV). Pakistan, kata dia, mendorong penggunaan energi surya dengan berbagai insentif, seperti pembebasan pajak impor dan pengurangan beban fiskal.

Climate and Energy Manager Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga menilai konflik geopolitik global menunjukkan rapuhnya sistem energi yang terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.

Menurutnya, ketergantungan pada energi fosil tidak hanya berkontribusi terhadap krisis iklim, tetapi juga membuat banyak negara rentan terhadap konflik geopolitik dan fluktuasi harga energi global.

“Situasi ini seharusnya menjadi pengingat bahwa ketahanan energi yang sejati hanya bisa dicapai dengan mempercepat transisi menuju energi terbarukan yang bersih, aman, dan tersedia secara domestik,” ujar Iqbal.

Ia menambahkan Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Namun, pengembangannya masih memerlukan komitmen kebijakan yang kuat dari pemerintah.

Di sisi lain, Peneliti Indonesian Parliamentary Center (IPC), Arif Adiputro, menekankan bahwa dinamika geopolitik global juga harus menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan di Indonesia, khususnya di parlemen.

Menurut Arif, DPR memiliki peran penting untuk memastikan kebijakan energi nasional tidak hanya responsif terhadap krisis jangka pendek, tetapi juga mendorong transformasi sistem energi yang lebih berkelanjutan.

“Ketahanan energi Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada stabilitas geopolitik global. Parlemen perlu mendorong kebijakan yang mempercepat diversifikasi energi dan pengembangan energi terbarukan agar Indonesia tidak terus rentan terhadap gejolak pasar energi dunia,” ujar Arif.

Para pembicara dalam diskusi tersebut menilai dinamika geopolitik global semakin menegaskan pentingnya strategi ketahanan energi nasional yang lebih kuat. Diversifikasi sumber energi, percepatan pengembangan energi terbarukan, serta kebijakan yang konsisten dinilai menjadi langkah penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada energi fosil impor.

Baca juga artikel terkait TRANSISI ENERGI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher