tirto.id - Pemerintah mengalokasikan dana sebesar 24 miliar dolar AS atau setara dengan Rp424 triliun untuk mendukung transisi energi hijau dan ketahanan energi nasional. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan komitmen ini menegaskan posisi transisi hijau sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional.
"Pemerintah sudah mengalokasikan untuk ketahanan energi sebesar 24 miliar dollar AS,” katanya dalam acara South China Morning Post (SCMP) di Jakarta, (Selasa (10/2/2026).
Selain alokasi anggaran, Indonesia disebut memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar mencapai 3.686 gigawatt.
Potensi ini akan dikembangkan melalui berbagai strategi, termasuk pembangunan infrastruktur seperti green super grid sepanjang 70.000 km dan pengembangan industri hilir bernilai tinggi, seperti baterai kendaraan listrik (EV) dan panel surya fotovoltaik.
"Dan program hijau ini tentu mendukung program bioethanol E5 yang sedang dipersiapkan oleh Indonesia. Kemudian, B40 dan juga sustainable aviation fuel yang juga sedang disiapkan dengan berbagai investasi yang ada. Indonesia terus mendorong EV ekosistem dan juga mendorong investasi CCS, CCUS," jelas Airlangga.
Dampak positif dari gerakan transisi hijau ini tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga diperkirakan akan memberikan efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja. Airlangga memproyeksikan akan tercipta 4,4 juta lapangan kerja baru hingga pertengahan tahun 2029.
"Dan transisi hijau ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja sebesar 4,4 juta tenaga kerja baru, lapangan kerja sampai tengah tahun 2029," ujarnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































