Menuju konten utama

Tak Langsung Tinggalkan Fosil, Transisi Energi RI Andalkan Gas

Meski berkomitmen mempertahankan energi fosil, pemerintah juga menargetkan peningkatan kontribusi Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Tak Langsung Tinggalkan Fosil, Transisi Energi RI Andalkan Gas
Rapat Pimpinan Nasional 2025 Kadin Indonesia di acara Kadin, Jakarta, Selasa (2/12/2025). tirto.id/Nanda Aria Putra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Indonesia menegaskan takbakan serta merta menghapus penggunaan energi fosil dalam transisi energi nasional. Hal itu disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 30) yang berlangsung di Belem, Brasil, November lalu.

Adik kandung Presiden Prabowo Subianto ini menyatakan bahwa industri dan pembangkit listrik di Indonesia akan tetap menggunakan batubara dan gas alam.

“Yang penting waktu itu, ada ketegasan dari pemerintah kita bahwa tidak ada Phase Out dari fossil fuels kita. Pemakaian ekonomi Indonesia, terutama industri dan energi listrik Indonesia, tetap akan memakai fossil fuels, yaitu batu bara, gas alam, dan lain-lain," ujar Hashim di acara Kadin, Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Meski berkomitmen mempertahankan energi fosil, pemerintah juga menargetkan peningkatan kontribusi Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Hashim menjelaskan bahwa dalam 15 tahun ke depan, 75 persen dari kapasitas pembangkit listrik baru yang dibangun akan berasal dari sumber EBT.

"Tapi yang penting, komitmen pemerintah kita dalam 15 tahun ke depan, bahwa 75 persen dari daya listrik yang akan dibangun di Indonesia itu berasal dari energi baru dan terbarukan. Itu komitmen Indonesia," jelasnya.

Hashim menekankan bahwa pendekatan Indonesia bukan penghapusan total (phase out), melainkan pengurangan bertahap alias phase down.

Ia mengakui adanya tekanan dari komunitas internasional untuk melakukan phase out. "Ini penting sekali, karena pemerintah kita ditekan, ditekan, dan saya pun juga ditekan untuk commit kita phase out fossil fuels, kita phase out batu bara, minyak, dan gas alam. Ini kita tolak. Kita tetap commit, tapi namanya phase down," tegasnya.

Sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi, pemerintah juga akan mengembangkan energi nuklir. Hashim menyebutkan komitmen awal sebesar 500 Megawatt yang akan ditingkatkan menjadi 6,5 Gigawatt di masa depan.

“Salah satu ciri khas yang baru adalah nanti penggunaan tenaga nuklir. Ini sudah commit 500 Megawatt, tapi nanti akan ditambah lagi dengan 6,5 Gigawatt tenaga nuklir," paparnya.

Baca juga artikel terkait HASHIM DJOJOHADIKUSUMO atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana