tirto.id - Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak lagi menjadi panggung eksklusif bagi institusi kakap atau manajer investasi asing. Pasalnya, pada 2025 tonggak sejarah baru telah terpancang: jumlah investor pasar modal Indonesia resmi menembus angka psikologis 20 juta SID (Single Investor Identification), dengan mayoritas transaksi harian digerakkan oleh jemari investor ritel.
Rian Pratama salah satunya. Ia menjadi salah satu investor ritel yang menceburkan diri ke pasar saham tahun 2025. Laki-laki berusia 29 tahun itu mengaku baru berani menanamkan modalnya di pasar saham pada September 2025, setelah berulang kali urung sejak masa COVID-19 tahun 2020-2021.
Katanya, niat untuk terjun di pasar saham semakin kuat setelah ia menonton banyak konten tentang saham di berbagai platform media sosial, mulai dari YouTube, Instagram, hingga X (sebelumnya Twitter), serta membaca berbagai artikel terkait isu itu di media massa.
“Saham kan agak berat dalam benakku waktu itu. Aku baru benar-benar mau investasi ketika mengenal cara kerja saham. Baru benar-benar main saham tahun lalu, Agustus atau September sambil baring nonton YouTube, scroll medsos tuh, banyak pembahasan mengenai saham. Cari tahu gitu kan, baca-baca berita ekonomi mengenai rekomendasi saham, terus ngecek juga indeks harga saham,” kisahnya, kepada Tirto, Senin (19/1/2026).
Selain pengetahuan tentang pasar saham, niat investasi di pasar saham juga terpacu oleh perbaikan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang 2025.
Diketahui bahwa pada 2025, IHSG dibuka pada level 7.092,43. Meski sempat terjun bebas ke posisi 5.996 di awal kuartal II 2025, namun indeks komposit Jakarta berhasil bangkit pada paruh kedua tahun lalu, dan berhasil menutup perdagangan 2025 di posisi 8.646,94.
Selain IHSG, kapitalisasi pasar bursa juga turut mengalami peningkatan signifikan di akhir 2025, yaitu mencapai Rp16.000 triliun. Nilai kapitalisasi pasar tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya yang masih sebesar Rp13.475 triliun. Bahkan, jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang sebesar Rp7.265 triliun, nilai kapitalisasi pasar BEI naik lebih dari dua kali lipat.
“Sekarang itu, volume transaksinya hari ini tuh miliaran, miliaran lah kalau nggak salah. Itu tadi yang prospek tuh. Ya, lumayan untung sih dikit. Cuma kan baru ya, (ini) baru awal Januari 2026. Kan banyak yang memprediksi saham ini bakalan terbang,” tuturnya.

Meski begitu, pada awal berinvestasi, Rian mengaku baru berani menanamkan modalnya di satu emiten. Kala itu, saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), perusahaan investasi yang berfokus pada sektor energi, air, layanan pelabuhan, dan logistik, menjadi pilihannya.
“Cuma waktu itu belum kepikiran sampai jangka panjang gitu kan. Kalau naik dikit sampai Rp100-Rp200 ribu, itu aku jual lagi. Sebetulnya, kalau mau investasi saham kan harus jangka panjang gitu. Jangan jangka pendek. Nah, pas rugi gitu kan, karena beli di harga tinggi, kan belum terlalu ngerti waktu itu, Rp1.000an lah kalau nggak salah. Terus, akhirnya coba beralih ke emiten lain,” jelas pekerja swasta tersebut.
Saham emiten yang kini dikendalikan bersama oleh Grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resource Tbk (BUMI) lantas menjadi pilihan investasi selanjutnya setelah ia melego sejumlah lot saham CDIA.
Kendati kondisi pasar saham di 2025 diproyeksikan cerah, Rian tidak ingin berspekulasi dan hanya memilih untuk menjaga BUMI di tangannya, setidaknya hingga semester I 2026. Namun, sejalan dengan itu, ia juga akan terus belajar soal saham dari emiten sektor-sektor pendukung BUMI.
“Ini sekarang aku lagi pelajari tuh, bisnis apa aja yang menunjang prospek bisnisnya BUMI ini ke depan. Nggak menutup kemungkinan ya (untuk mengoleksi saham dari emiten lainnya), cuma kan lihat juga isi saldo (rekening),” tuturnya sambil terkekeh.

Berbeda dengan Rian, Dian (34) telah menginvestasikan modalnya di pasar saham sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia di 2020. Berawal dari diskusi bersama sang suami, yang menilai perlu memiliki instrumen investasi dengan risiko lebih tinggi untuk mengejar imbal hasil lebih tinggi dalam jangka panjang, pilihan jatuh pada saham.
Sebagai investor saham pemula, ia membekali dirinya dengan banyak buku tentang investasi saham. Dari situlah kemudian dia mengetahui dasar-dasar tentang saham dan mengetahui jenis saham apa yang relatif aman untuk dikoleksi investor pemula. Selain itu, sesekali Dian juga melihat-lihat konten dari media sosial seperti dari akun @ngertisaham untuk melihat rekomendasi saham yang menarik untuk dikoleksi.
“Saya mulai tertarik dan belajar investasi saham sejak awal pandemi, sekitar tahun 2020. Saat itu aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah sehingga saya memiliki waktu untuk mulai mempelajari saham secara lebih serius,” kata dia, kepada Tirto, Selasa (20/1/2026).
Ledakan Jumlah Investor Ritel
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada 2025 terdapat sebanyak 20,32 juta investor di pasar modal, naik 37 persen dibanding 2024 yang masih sebanyak 14,87 juta SID. Jika dirinci, sebanyak 8,59 juta investor tercatat memiliki saham dan efek lainnya, jumlah itu naik 35 persen dibandingkan jumlah investor di tahun sebelumnya yang sebanyak 6,38 juta investor.
Sementara itu, jumlah investor reksa dana tercatat naik 37 persen di 2025 menjadi 19,17 juta orang dan jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) tercatat naik 18 persen menjadi 1,41 juta investor di sepanjang tahun lalu.
Pada sisi demografi, khususnya usia, jumlah investor berusia di bawah 30 tahun mendominasi dengan porsi sebesar 52,59 persen. Sementara itu, dari total investor di sepanjang 2025, dominasi dipegang oleh investor lokal dengan porsi mencapai 99,78 persen, meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 99,73 persen.Peningkatan investor saham ini sudah mulai terlihat sejak pandemi Covid-19, di mana kala itu jumlahnya hanya sebanyak 1,69 juta. Jika dilihat dari sisi demografi, dari total 3,88 juta investor di pasar modal, 54,90 persen di antaranya merupakan investor berusia di bawah 30 tahun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengamini bahwa jumlah investor di pasar modal terus bertambah pada masa pandemi Covid-19.
"Ini juga menunjukkan optimisme investor untuk berinvestasi di pasar modal," kata Nyoman dalam keterangannya, dikutip Rabu (20/1/2026).
Pada saat pagebluk pula, banyak emiten yang mendiskon harga saham mereka. Hal ini lah yang jadi sebab lain mengapa pertumbuhan investor saham signifikan walau pergerakan masyarakat cenderung dibatasi.

Meski begitu, peningkatan ini juga didorong oleh teknologi. Mengutip jurnal yang diterbitkan oleh Eduvest yang berjudul ‘App-Based Investment Platform and Investment Decision Making: A Study of Retail Investor Behavior In Indonesia’ (2023), peningkatan pesat jumlah investor saham salah satunya dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.
Akses untuk investasi ritel dapat diperoleh dengan mudah melalui berbagai situs web dan aplikasi. Menurut data OJK, terdapat 92 portal transaksi investasi online pada 2022. Sementara, berdasarkan data KSEI, dari 4,8 juta transaksi reksa dana pada April 2022, 92 persen di antaranya dilakukan menggunakan aplikasi, sedangkan 5 persen sisanya dilakukan melalui agen penjualan bank dan 3 persen melalui agen penjualan non-bank.
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai kinerja positif IHSG di paruh kedua 2025 lah yang mendorong jumlah investor ritel bertambah signifikan. Mereka masuk ke pasar modal, dengan harapan bisa memberikan opportunity dalam kaitan upaya meraup untung alias profit taking.
“Belum lagi, juga ada teknologi dan informasi di mana investor retail juga bisa mengakses informasi dengan cepat dan mudah ya,” tuturnya saat dihubungi Tirto, Selasa (20/1/2026).
Dengan kemudahan teknologi tersebut, khusus investor saham dan efek lainnya, rata-rata investor yang aktif bertransaksi per 29 Desember 2025 mencapai lebih dari 901 ribu per bulan. Sementara itu, jika dilihat dari tipe investor, porsi transaksi investor ritel masih mendominasi pasar, yakni mencapai 49,9 persen. Sedangkan dari sisi transaksi, investor institusi asing mencatatkan transaksi lebih dari 36,3 persen dari total rata-rata nilai transaksi harian hingga November 2025.
Nafan menambahkan, kendati informasi terkait saham sangat mudah didapatkan melalui platform media sosial, investor ritel juga sebaiknya dibekali ilmu tentang pasar modal. Lebih penting dari itu, investor juga harus punya keputusan investasi sendiri secara mandiri, dengan disertai analisa matang.Dengan ini, diharapkan investor tidak akan terjebak dengan saham-saham gorengan atau menjadi korban dari fenomena pompom saham.
“Edukasi ini juga harus diterapkan secara efektif agar mereka akan terus berinvestasi di pasar saham tanah air. Menjaga portofolio bisa tumbuh dan memperoleh passive return. Dampak COVID-19 kemarin terhadap investor sebenarnya memberikan dampak yang bagus buat investor ritel kita karena di situlah saham-saham diskon banyak sekali tersedia,” ucap Nafan.
Mengapa Investor Ritel Penting?
Pada pembukaan perdagangan saham di BEI, Jumat (2/1/2026) lalu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menjelaskan bahwa keberadaan investor ritel menjadi sangat penting di Indonesia karena berperan sebagai penyeimbang pasar modal. Pada saat yang sama, peningkatan signifikan investor ritel juga membuktikan bahwa Otoritas harus terus memperkuat keberadaan investor institusi domestik.
Dus, setelah keduanya seimbang pendalaman pasar modal dapat dicapai Indonesia secara bertahap.
“Ritel kita sudah mencapai 20 juta lebih. Nah, peran serta daripada investor, institusi domestik itu sangat penting. Sehingga balance antara ritel dan investor, institusi domestik harus kuat,” tutur Inarno.
Sementara itu, dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 secara daring, pada Kamis (15/1/2026), Co-Head of JANA and Asia South Investment Banking Coverage CITI, Kaustubh Kulkarni, menceritakan bagaimana partisipasi investor ritel yang solid mampu membuat harga saham di sebuah negara mengalami peningkatan.
Kondisi ini praktis bakal mendorong likuiditas ke pasar saham menjadi lebih besar, sehingga mampu menopang valuasi saham di negara tersebut, termasuk dalam hal ini Indonesia.
“Perekonomian negara-negara tersebut (Jepang, Korea, India, Indonesia) didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, likuiditas domestik yang besar, serta sentimen dan partisipasi investor ritel yang sangat solid. Kondisi ini mendorong aliran likuiditas ke pasar saham dan menopang valuasi (pasar modal),” kata dia.

Di sisi lain, Presiden Direktur Kiwoom Sekuritas Indonesia, Changkun Shin, percaya keberadaan investor ritel sangat penting bagi pasar saham Indonesia karena merupakan fondasi utama pertumbuhan pasar. Peningkatan investor ritel pada gilirannya dapat meningkatkan aktivitas transaksi dan likuiditas, sekaligus memperkuat basis investor domestik, sehingga pasar tidak terlalu bergantung pada arus dana asing.
Peningkatan jumlah investor ritel ini pun sudah mulai membuat dominasi transaksi bergeser, khususnya di pasar saham secara tahun berjalan hingga saat ini 72 persen di antaranya transaksi digerakkan oleh investor ritel.
"Peningkatan jumlah rekening ini memiliki arti besar bagi ekspansi pasar. Apabila investor ritel juga dibekali kebiasaan investasi yang baik serta pengetahuan yang memadai, pasar akan berkembang menjadi lebih stabil dan berkelanjutan," tutur Shin kepada Tirto, Rabu (21/1/2026).
Pasar Saham Indonesia Masih Volatil?
Meski telah lima tahun bergelut di pasar saham, Dian (34) menilai pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan, meskipun dalam dua minggu belakangan mulai mengalami pemulihan. Ketidakpastian di pasar keuangan, dalam maupun luar negeri, menjadi hal yang paling dikhawatirkan ibu dua anak itu setahun ke depan.
“Kekhawatiran utama saya tentu pada volatilitas pasar dan dampaknya terhadap portofolio, terutama pada saham sektor tambang yang saya miliki. Namun, saya menyadari bahwa risiko merupakan bagian dari investasi, sehingga hal tersebut harus dikelola dengan bijak,” ujar dia.
Dengan masih adanya risiko volatilitas itu, Dian berharap pemerintah dan otoritas pasar modal, baik BEI maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat menghadirkan kebijakan yang lebih konsisten dan pro terhadap penguatan pasar modal. Kepastian regulasi, peningkatan edukasi investor ritel, serta dukungan terhadap likuiditas pasar menjadi hal yang sangat penting.
“Saya melihat BEI dan OJK telah berupaya menjaga stabilitas pasar serta memberikan perlindungan bagi investor ritel. Namun, ke depan masih diperlukan penguatan kebijakan agar kepercayaan investor tetap terjaga, terutama di tengah kondisi pasar yang bergejolak,” tegas dia.
Namun, terlepas dari itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menilai bahwa peningkatan kinerja pasar saham beberapa waktu belakangan, khususnya di 2025, membuktikan bahwa di tengah tekanan domestik dan pasar global, IHSG mampu menjaga stabilitas dan bahkan bangkit lagi, dengan jumlah investor ritel yang jauh lebih banyak.
“Tahun 2025 menjadi tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia, meskipun di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid,” kata dia, dalam Penutupan Perdagangan Bursa 2025, di gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).
Proyeksi Saham 2026 untuk Investor Ritel
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, juga menyebut pada 2026 pasar saham diperkirakan masih akan mengalami penguatan karena ekspektasi pasar terhadap optimisme pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi menuju level 7-8 persen. Namun Nafan menilai bahwa pada saat yang sama pasar saham nasional akan menghadapi tantangan dari realita Indonesia yang masih terjebak dalam jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.
Adapun, middle income trap ini dapat terjadi karena masih banyaknya masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan karena melakukan investasi berisiko. Di sisi lain, masih banyak pula orang yang terjebak oleh utang akibat pinjaman online (pinjol) maupun judi online (judol).
Karena itulah, untuk mendorong pasar saham tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan di tahun 2026 ini, Nafan mengingatkan pemerintah untuk lebih agresif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam hal ini, cara-cara tradisional seperti mengandalkan momentum tertentu seperti hari besar keagamaan, maupun tahun baru saja.
“Pertumbuhan ekonomi berlandaskan keberlanjutan dan teknologi misalnya, ataupun industrialisasi ya tentunya. Di sisi lain juga hilirisasi harus jalan terus. Itu juga demi menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang baru. Inklusi keuangan juga penting,” tegas Nafan.
Dengan kinerja IHSG yang moncer di awal tahun, analis saham, Reydi Octa, menilai saat ini IHSG sudah berada di puncak sehingga kemampuan investor ritel untuk membeli saham dengan fundamental besar cukup dikhawatirkan. Apalagi, saat ini pasar modal indonesia dikuasai oleh saham dari emiten-emiten konglomerasi.
Di sisi lain, untuk mencapai pertumbuhan pasar modal yang berkelanjutan, tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan signifikan investor ritel. Namun, lebih dari itu, investor saham harus berkualitas.
“Jadi, jangan sampai nggak dibarengi dengan edukasi yang merata, dari industrinya, dari sekuritasnya, juga punya kewajiban untuk bisa kasih pandangan ke investor,” tutur dia, Selasa (20/1/2026).
Sementara itu, untuk mencapai target pertumbuhan pasar saham di tahun ini, BEI akan terus berupaya untuk meningkatkan kegiatan edukasi kepada publik, khususnya anak muda agar literasi semakin baik. Dus, pada giliran upaya ini akan meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.
Pada saat yang sama, partisipasi investor institusi domestik dan investor asing juga akan terus kita dorong untuk lebih besar lagi. Dari sisi supply, kita harapkan akan lebih banyak IPO besar untuk menambah pilihan bagi investor.
“Produk lain seperti ETF Emas, penambahan underlying single stock future, implementasi shirt selling, dan inovasi produk lain diharapkan akan membantu investor dalam strategi investasi mereka. Dengan pertumbuhan demand dan supply yang terus meningkat kita harapkan momentum pertumbuhan ini akan terus terjaga,” tutur Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, saat dihubungi Tirto, Selasa (20/1/2026).
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































