tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan reli pada 2026. Namun, pergerakannya dinilai lebih selektif dibandingkan dengan 2025.
Analis Infovesta Kapital Advisor, Ekky Topan, melihat momentum untuk mencetak rekor baru pada tahun depan akan bergantung pada sentimen global yang membaik dan kebijakan domestik.
Dia menilai, peluang IHSG untuk bergerak positif masih kuat seiring ekspektasi pelonggaran moneter global dan stabilnya arus dana asing. Bahkan, ia menyebut, indeks berpotensi mencetak all-time high (ATH) baru.
“Dalam skenario dasar, level 9.400–9.500 cukup realistis untuk akhir 2026, sementara skenario optimistis dapat membawa indeks menuju 9.800–10.000 selama tekanan eksternal mereda dan earnings growth korporasi menguat,” kata Ekky kepada Tirto, Selasa (16/12/2025).
Ekky memproyeksikan, pergerakan pasar tahun depan akan bertumpu pada rotasi menuju saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) di sektor perbankan, telekomunikasi, consumer staples, energi, dan komoditas pendukung transisi energi.
Secara khusus, emiten komoditas seperti kelapa sawit (CPO) dinilai memiliki momentum positif. Kebijakan mandatori biodiesel dalam negeri menjadi katalis utama yang diprediksi turut mengerek emiten-emiten penghasil minyak nabati ini.
“CPO memiliki momentum positif karena dukungan kebijakan domestik seperti percepatan implementasi B40 dan potensi kajian B50 yang memperkuat permintaan dalam negeri,” ujar Ekky.
Di sisi lain, komoditas nikel juga diprediksi mengalami pemulihan seiring stabilisasi harga global dan meningkatnya produksi kendaraan listrik dunia pada 2026. Katalis ini akan menguntungkan emiten yang telah masuk dalam rantai hilirisasi, seperti produsen nikel pig iron (NPI) dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Secara makro, reli berkelanjutan IHSG juga akan bergantung pada faktor penentu seperti penurunan suku bunga global yang meningkatkan minat investor terhadap pasar berkembang, serta pemulihan kredit dan konsumsi domestik Indonesia.
“Secara keseluruhan, saya melihat 2026 sebagai tahun yang masih kondusif bagi IHSG. Penguatan kemungkinan tetap berlanjut, tetapi lebih selektif,” ucapnya.
Ia pun menyarankan investor fokus pada sektor dengan fundamental kuat, seperti perbankan, telekomunikasi, consumer defensives, energi hijau, serta komoditas yang memasuki fase pemulihan, untuk mengoptimalkan portofolio di tengah tren bullish yang diperkirakan masih terbuka.
“Jika faktor global bergerak sesuai harapan dan aliran dana asing kembali konsisten, peluang IHSG melanjutkan tren bullish-nya di 2026 tetap terbuka lebar,” tuturnya.
Sementara itu, analis pasar modal Satrio Utomo mengatakan, IHSG pada 2026 masih akan didukung fundamental ekonomi dan emiten besar yang solid. Namun, target rasional untuk paruh pertama tahun depan diproyeksikan berada di kisaran level 9.000 hingga 9.150.
"Kalau lihat pertumbuhan ekonomi, kalau lihat fundamental dari old big caps, semuanya aman. IHSG masih akan naik tahun depan," katanya kepada Tirto.
Meski demikian, ia mengingatkan potensi tekanan di awal tahun, terutama terkait sentimen dari pasar global. Target yang lebih optimis, sekitar 9.800 hingga 10.200, dinilai hanya akan tercapai dalam kondisi terbaik dan berdasarkan analisis teknikal.
"Dengan data yang ada hingga saat ini, sepertinya target yang rasional masih hanya sekitar 9.000-9.150," tambahnya.
Ia juga menyoroti dinamika pengawasan pasar, khususnya terkait fenomena saham 'gorengan' atau saham yang harganya dinilai tidak wajar. Menurutnya, terdapat perbedaan sikap antara otoritas pasar modal di bawah OJK dan pemerintah dalam menangani isu ini.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































