tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 3,70 persen dan mencapai titik terendah dalam lebih dari enam bulan pada hari ini, Senin (27/10/2025).
Pergerakan tersebut terjadi usai dokumen konsultasi dari MSCI Inc., yang meminta masukan mengenai cara memperkirakan free float—ukuran saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh publik di pasar terbuka—oleh sekuritas Indonesia dipublikasikan.
Mengutip Bloomberg, perubahan yang diusulkan pada perhitungan free-float ini dapat menurunkan bobot indeks beberapa perusahaan.
Selain itu, perusahaan yang paling mempengaruhi penurunan indeks yakni PT Dian Swastatika Sentosa dan PT Barito Renewables Energy, di mana yang pertama disebut sebagai sekuritas yang akan terdampak oleh perubahan tersebut.
“Usulan tersebut, jika diterapkan, ‘akan membuat saham-saham Indonesia lebih sulit masuk ke dalam Indeks MSCI,’” kata Aldo Perkasa, kepala riset di PT Trimegah Sekuritas Indonesia.
“Pasar tampaknya meragukan apakah saham-saham yang terkait dengan taipan, seperti Barito Renewables Energy, akan bisa masuk ke indeks," tambahnya.
Sebagai informasi, emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) umumnya diwajibkan untuk mengungkapkan pemegang saham yang memiliki kepemilikan 5 persen atau lebih, meskipun metode pengumpulan data dapat berbeda-beda.
Sementara MSCI mengusulkan adanya perluasan definisi free float bagi perusahaan lokal, yang bisa menyebabkan penurunan bobot saham di indeks, karena perusahaan tersebut menggunakan metodologi kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float.
Terlebih, saham Indonesia hanya menyumbang sekitar 1,1 persen dari MSCI Emerging Markets Index per akhir September. Hal ini telah memicu perdebatan di kalangan investor dalam beberapa tahun terakhir, karena banyak saham terbesar di Indonesia memiliki rasio free float yang relatif rendah.
Indonesia juga memiliki proporsi tertinggi saham dalam indeks acuan dengan free float kurang dari 10 persen dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, menurut data yang dikompilasi Bloomberg.
Meski demikian, belum jelas kapan tepatnya laporan tersebut dirilis. Beberapa analis mengatakan catatan itu baru diedarkan ke kalangan investor pada hari ini, yang kemungkinan menjadi alasan bagi sebagian pihak untuk mengambil keuntungan (take profit) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lima hari terbaiknya sejak Agustus pekan lalu.
Bagi sebagian pihak, kejadian ini menyoroti volatilitas pasar Indonesia, salah satu yang paling fluktuatif di kawasan. Awal tahun ini, beberapa saham termasuk Barito dan Petrindo Jaya Kreasi anjlok setelah MSCI menyatakan tidak ada rencana untuk memasukkan saham-saham tersebut ke dalam Indonesia investable market index.
"Kejadian itu masih segar di ingatan para pedagang, jadi peserta pasar menjual terlebih dahulu dan menunggu kejelasan kemudian,” ujar Tareck Horchani, kepala prime brokerage dealing di Maybank Securities Singapura.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































