tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat di level 9.098,70 pada perdagangan Senin (19/1/2026), setelah pada perdagangan Kamis (14/1/2026) ditutup menguat 1,55 persen di harga 9.075. Meski begitu, 20 menit pascapembukaan bursa, indeks sempat melemah 31,527 poin atau turun 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya menuju ke level 9.049,18. Sebelum itu, IHSG sempat menyentuh level tertingginya di 9.109,04.
Aktivitas perdagangan saham pagi ini tergolong cukup aktif. Mengutip RTI Business, volume transaksi tercatat sebesar 12,712 miliar saham dengan nilai transaksi (turnover) mencapai Rp5,502 triliun. Frekuensi transaksi terjadi sebanyak 794.598 kali mencerminkan tingginya aktivitas jual beli di pasar.
Dari aspek pergerakan saham, tercatat 221 saham menguat, 349 saham melemah, dan 145 saham tidak mengalami perubahan atau stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan ini tercatat sebesar Rp16.483,441 triliun.
Sementara itu, dalam sebulan terakhirnya, indeks komposit Jakarta telah mengalami penguatan sebanyak 4,76 persen. Sedangkan dalan enam bulan belakangan, IHSG mengalami penguatan sebesar 29,35 persen dan menguat 21,83 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, IHSG akan bergerak ke fase konsolidasi dalam sepekan ke depan. Utamanya karena dipengaruhi oleh serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan global dan domestik, indeks diperkirakan akan bergerak dengan rentang support di level 9.000 dan resistance di harga 9.200.
"Memasuki pekan 19–23 Januari 2026, fokus pasar akan beralih pada serangkaian rilis data dan keputusan kebijakan global dan domestik sehingga dalam sepekan kedepan IHSG diprediksi cenderung ke fase konsolidasi dengan rentang support di 9000 dan resistance di 9200," kata Imam dalam riset resmi IPOT, dikutip Senin (19/1/2026).
Jika ditilik lebih jauh, dari Cina, perhatian utama pasar akan tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 dengan konsensus memperkirakan pertumbuhan 4,4 persen (yoy). Selain itu, pasar juga akan mencermati data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember. Ini perlu dicermati untuk membaca kekuatan konsumsi domestik dan kondisi pasar tenaga kerja.
Rilis ini akan menjadi indikator penting untuk menilai ketahanan ekonomi di tengah stimulus moneter yang berlanjut.
"Masih dari Cina, keputusan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun dan 5 tahun akan menjadi sorotan, di tengah sinyal PBOC yang membuka ruang pelonggaran lanjutan, meskipun konsensus pasar memperkirakan suku bunga tetap," ujar Imam.
Dari domestik, perhatian investor akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia. Pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 4,75 persen dengan fokus utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
"Sementara itu, dari Amerika Serikat, rilis US Core PCE Price Index dengan konsensus 2,7 persen (yoy) akan menjadi indikator inflasi utama yang dicermati pasar, mengingat perannya sebagai acuan kebijakan moneter Federal Reserve," tutup Imam.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































