tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan saham Selasa (13/1/2026) siang. Pada penutupan sesi I turun 0,102 poin ke 8.884,621.
Setelah sepanjang hari bergerak flat, IHSG tiba-tiba turun dan kemudian melemah padahal sempat menguat pada awal sesi. Pada Selasa pagi, IHSG dibuka menguat 46,52 poin atau 0,52 persen ke 8.931,24.
Seturut statistik RTI Business, pada sesi I pembukaan IHSG, sebanyak 39,44 miliar saham diperdagangkan. Terdapat 2,36 juta perpindahan tangan dengan total nilai transaksi mencapai Rp19,31 triliun.
BCA Sekuritas mencatat, terdapat 558 saham mengalami kenaikan harga, 468 saham mengalami penurunan harga, dan 207 saham tak mengalami perubahan.
Saham-saham dengan kenaikan harga di antaranya SINI yang bergerak naik ke Rp14.500 per lembar, MPLT naik Rp1.825 menjadi Rp64.025 per lembar, dan SOT yang mengalami kenaikan Rp800 jadi Rp4.020 per lembar.
Sementara itu, saham yang terkoreksi di antaranya adalah POLU yang turun Rp3.575 ke Rp23.125 per lembar; GGRM turun Rp550 menjadi Rp15.450; dan RAJA yang ditutup menjadi Rp6.600 per lembar setelah alami penurunan sebesar Rp550.
BUMI menjadi emiten dengan saham teraktif. Emiten bidang pertambangan ini diperdagangkan sebanyak 188.402 kali dengan total nilai Rp2,02 triliun.
Setelah BUMI, saham BKSL menjadi yang teraktif kedua dengan 93.143 kali diperdagangkan dan total nilainya mencapai Rp541 miliar. Terdapat pula DEWA yang diperdagangkan 88.265 kali dengan nilai Rp821,1 miliar.
Sebelumnya, pada Senin (12/1), IHSG ditutup dengan kondisi anjlok. Penyebab IHSG anjlok diperkirakan karena murungnya sentimen global akibat pernyataan-pernyataan Presiden AS, Donald Trump, terkait potensi operasi militer di banyak negara.
Selain melemahnya pasar saham, kondisi tersebut juga memengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pada Selasa siang, rupiah tergerus sebesar 0,27 persen, membuat 1 dolar AS bernilai Rp16.879.
Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut jadi imbas dari penguatan indeks dolar AS yang menguat 0,17 persen pada Selasa siang. Hal ini menekan hampir semua mata uang Asia, kecuali ringgit Malaysia.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






































