tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan penguatan. Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), indeks saham dibuka menguat di harga 9.007,05, dengan penguatan sebesar 58,75 poin atau 0,66 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Meski pada sekitar pukul 09.28 indeks saham sempat turun ke level 8.991,83, IHSG sempat menyentuh level tertingginya di harga 9.021,14 pada perdagangan sesi I. Hal ini lantas membuat IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).
Sementara itu, total volume perdagangan di seluruh pasar pada perdagangan pagi hari ini mencapai sekitar 103,95 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,88 triliun dari 626 ribu transaksi. Dari sisi investor, di pasar reguler tercatat terjadi 102,99 juta lot saham yang diperdagangkan, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,86 triliun.
Di sisi lain, investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih mencapai Rp10,43 triliun. Sebaliknya, aksi jual beli bersih oleh investor asing tercatat sebesar Rp8,44 triliun.
Dengan kondisi ini, Tim Riset PT Reliance Sekuritas Tbk memperkirakan, IHSG akan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Mereka memproyeksikan indeks saham akan bergerak di kisaran 8.885-9.003.
“Kami memproyeksikan, IHSG akan bergerak di kisaran support pada level 8.885 dan resistance pada level 9.003, dengan kecenderungan menguat,” tulis Tim Riset dalam kajian resminya, dikutip Rabu (14/1/2026).
Penguatan pasar saham ini dinilai terjadi karena para pelaku pasar cenderung menantikan laporan makroekonomi Amerika Serikat (AS), seperti tingkat inflasi untuk mendapatkan petunjuk tentang arah kebijakan Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) selanjutnya, setelah sebelumnya para pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) akan turun sebanyak dua kali hingga Juni 2026.
Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari rencana Presiden Prabowo Subianto yang akan melanjutkan sejumlah kebijakan stimulus pada 2026. Adapun, insentif yang akan dilanjutkan antara lain, program pemagangan, insentif PPh Final UMKM, PPh Ditanggung Pemerintah (DTP), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) DTP, PPN DTP di sektor perumahan, hingga diskon iuran JKK/JKM.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id






































