tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 8.235,808 pada perdagangan Rabu (18/2/2026). Mengutip RTI Business pukul 09.08 WIB, indeks naik 40,34 poin atau sebesar 0,49 persen.
Laju IHSG didorong oleh 315 saham yang dibuka menguat, 222 saham dibuka melemah, dan 173 saham stagnan atau belum mengalami perubahan.
Gerak IHSG pada awal perdagangan sesi pertama terpantau berada pada rentang 8.227,450 hingga 8.269,232, sementara kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp14.990,64 triliun.
Aktivitas perdagangan di bursa pada pagi ini tercatat cukup aktif dengan 5,45 miliar saham berpindah tangan melalui 333.270 kali transaksi. Sementara itu, nilai jual-beli saham tersebut tercatat mencapai Rp2,54 triliun.
Di sisi lain, berdasarkan analisis tim riset Phintraco Sekuritas, pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang bervariasi serta katalis positif dari agenda domestik yang dinanti pasar.
Dari dalam negeri, fokus utama pasar tertuju pada agenda Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan menandatangani Perjanjian Perdagangan Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade) dengan Presiden AS, Donald Trump, pada 19 Februari 2026 di Amerika Serikat.
Kesepakatan ini menjadi katalis positif yang dinantikan pelaku pasar, mengingat poin-poin strategis yang terkandung di dalamnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kesepakatan tersebut memuat tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap sejumlah produk Indonesia, dengan pengecualian untuk komoditas utama seperti CPO, kopi, dan kakao.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia juga berencana melakukan impor migas dari AS senilai 15 miliar dolar AS. Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus mengamankan akses pasar bagi produk-produk unggulan Indonesia.
Dari eksternal, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Indeks-indeks di Wall Street ditutup menguat terbatas pada Selasa (17/2/2026), di tengah berlanjutnya kekhawatiran investor mengenai potensi gangguan sektor kecerdasan buatan (AI) di industri teknologi.
Kekhawatiran ini berpusat pada dampak model AI baru terhadap berbagai industri serta seberapa besar keuntungan yang dapat dihasilkan dari pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI bagi saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Menariknya, investor melakukan rotasi sektor dari saham-saham software menuju saham-saham perbankan, sebagai respons terhadap dinamika tersebut. Rotasi ini mencerminkan upaya pelaku pasar untuk mencari sektor yang lebih defensif di tengah ketidakpastian.
Dari sisi data makroekonomi, pelaku pasar akan mencermati dua agenda penting. Pertama, risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) yang dijadwalkan rilis pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat.
Kedua, indeks PCE Prices yang akan dirilis pada Jumat (20/2/2026) juga menjadi perhatian karena merupakan ukuran inflasi favorit The Fed.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id







































