tirto.id - International Energy Agency (IEA) menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya. Langkah ini dilakukan untuk meredam lonjakan harga energi global di tengah perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Melansir Aljazeera, Kamis (12/3/2026), jumlah cadangan yang akan dilepas ini jauh lebih besar dibandingkan pelepasan 182 juta barel minyak oleh negara-negara anggota IEA pada 2022, saat Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan kondisi pasar minyak saat ini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kondisi pasar minyak yang kita hadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala sebesar ini. Karena itu, saya sangat senang negara-negara anggota IEA merespons dengan aksi kolektif darurat yang juga belum pernah terjadi sebelumnya dalam ukuran sebesar ini,” ujar Birol dalam sebuah pernyataan dikutip dari Aljazeera.
Birol menjelaskan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah telah memicu gangguan serius pada rantai pasok energi global.
“Tanpa jalur distribusi yang memadai ke pasar dan tanpa ketersediaan penyimpanan tambahan, para produsen minyak di Timur Tengah mulai mengurangi produksi,” kata Birol.
Dia menambahkan serangan terhadap fasilitas energi juga memperparah kondisi pasar.
“Kami juga melihat serangan lanjutan serta kerusakan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas terkait energi,” ujarnya.
Gangguan tersebut bahkan berdampak langsung pada operasional kilang minyak.
“Operasi kilang juga terganggu, dengan implikasi besar terutama terhadap pasokan bahan bakar pesawat dan solar,” ucap Birol.
Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat. Selain itu, terdapat sekitar 600 juta barel stok minyak milik industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.
Sejak AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari 2026, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz dengan ancaman serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Jalur pelayaran ini merupakan rute vital bagi distribusi minyak dari negara-negara Teluk.
Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel, Iran juga menargetkan ladang minyak dan kilang di negara-negara Arab Teluk. Langkah itu disebut bertujuan menimbulkan tekanan ekonomi global agar Washington dan Tel Aviv menghentikan perang.
Harga minyak mentah acuan internasional Brent Crude Oil tercatat melonjak lebih dari 25 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Awal pekan ini, harga Brent sempat diperdagangkan di level 119 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, ketika harga minyak melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Setelah pengumuman dari IEA, harga Brent turun dan diperdagangkan di kisaran di atas 90 dolar AS per barel. Namun para analis menilai pelepasan cadangan dalam jumlah besar tersebut masih belum cukup untuk meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan lebih lanjut, terutama setelah serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Analis dari Macquarie memperkirakan jumlah minyak yang akan dilepas itu setara dengan sekitar empat hari produksi minyak global dan sekitar 16 hari volume minyak mentah yang biasanya melintas melalui kawasan Teluk.
“Jika itu terdengar tidak banyak, memang tidak banyak,” tulis para analis dalam sebuah catatan yang dikutip kantor berita Reuters.
Sejumlah Negara Siap Lepas Cadangan
Beberapa negara anggota IEA telah menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam pelepasan cadangan tersebut.
Jerman dan Austria lebih dulu menyatakan akan melepas sebagian cadangan minyak mereka setelah adanya permintaan dari IEA. Sementara itu, Jepang juga mengumumkan akan mulai melepas sebagian cadangannya mulai Senin.
Pemerintah Inggris menyatakan akan menyumbang 13,5 juta barel minyak untuk skema pelepasan cadangan tersebut. Korea Selatan berencana melepas 22,46 juta barel minyak dari cadangan strategisnya.
Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, menyambut baik rencana pelepasan cadangan minyak tersebut.
“Ini adalah waktu yang tepat untuk memikirkan pelepasan sebagian cadangan itu guna mengurangi tekanan terhadap harga global,” kata Burgum dalam wawancara dengan Fox News.
Namun Burgum menilai dunia tidak sedang menghadapi kekurangan pasokan energi akibat perang tersebut. “Kita tidak menghadapi kekurangan energi. Yang kita hadapi adalah masalah transit yang bersifat sementara,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa persoalan distribusi tersebut sedang diupayakan penyelesaiannya melalui jalur militer dan diplomasi.
“Anda memiliki masalah transit sementara yang sedang kami selesaikan secara militer dan diplomatik—yang bisa kami selesaikan dan akan kami selesaikan,” kata Burgum.
Para analis menilai bahwa kecepatan pelepasan cadangan minyak setiap hari akan lebih menentukan dampaknya terhadap pasar dibandingkan total volume yang dilepas.
Pengumuman ini juga muncul sehari setelah para menteri energi negara-negara anggota Group of Seven (G7) bertemu di markas IEA di Paris pada Selasa untuk membahas langkah-langkah menurunkan harga energi.
Birol mengatakan pertemuan tersebut membahas berbagai opsi yang tersedia, termasuk kemungkinan penggunaan cadangan minyak darurat IEA untuk menstabilkan pasar.
Cadangan minyak darurat IEA sendiri dibentuk pada 1974, menyusul embargo minyak oleh negara-negara Arab, sebagai mekanisme respons terhadap gangguan pasokan energi global.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































