tirto.id - PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney memperkirakan akan ada 9 juta pemudik yang memilih pesawat sebagai modal transportasi, angka ini meningkat 2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pergerakan pesawat juga diperkirakan akan mencapai 63.553 penerbangan, naik 3,24 persen pada periode Lebaran 2026.
Karenanya, untuk memitigasi pergerakan penumpang InJourney menyiagakan 37 bandar udara (bandara).
"Jumlah pergerakan penumpang pesawat secara kumulatif di seluruh bandara InJourney Airports pada angkutan Lebaran 2026 diproyeksikan mencapai 9,03 juta penumpang atau naik sekitar 2 persen dibandingkan dengan angkutan Lebaran 2025," kata Direktur Utama InJourney Airports, Maya Watono dalam keterangannya, dikutip Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, meskipun setiap bandara memiliki jam operasional masing-masing, selama periode Lebaran 2026, InJourney berkomitmen untuk menyiagakan bandara-bandara yang dikelolanya selama 24 jam jika maskapai membutuhkan.
"Jadi 37 bandara ini pasti jam-jam operasionalnya berbeda-beda. Tetapi khusus untuk periode angkutan Lebaran, kalau ada kebutuhan di luar jam operasional, InJourney Airports berkomitmen untuk membuka layanan sehingga tidak ada alasan bahwa kami tidak melayani," tambahnya.
Kemudian, untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, InJourney menambah sekitar 3.000 personel sehingga total petugas yang disiagakan selama masa posko Lebaran mencapai hampir 16.000 orang. Personel tersebut terdiri dari petugas operasional bandara hingga tenaga engineering yang mendukung layanan penerbangan.
“Kami menambah sekitar 3.000 personel yang akan bersiaga 24 jam di seluruh bandara selama periode posko Lebaran. Secara total ada hampir 16.000 personel dari airport dan aviation service yang siap melayani penumpang," tutur Maya.
Namun, selain antisipasi lonjakan penumpang, InJourney juga sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi gangguan yang mungkin terjadi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kata Maya, langkah antisipasi ini disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kemungkinan seperti delay alias penundaan maupun pembatalan penerbangan.
"Dengan kondisi geopolitik yang terjadi saat ini, tentu kami juga harus mengantisipasi berbagai kemungkinan seperti delay atau pembatalan penerbangan. Namun kami berkomitmen untuk tetap memberikan layanan terbaik kepada penumpang," jelas dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id


































