Menuju konten utama

Dolar AS Dekati Rp17.000, Gubernur BI Ungkap Rupiah Undervalued

Perry menjelaskan, pelemahan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Dolar AS Dekati Rp17.000, Gubernur BI Ungkap Rupiah Undervalued
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo berjalan untuk mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/7/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terus merosot mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menilai bahwa mata uang Indonesia saat ini sedang berada dalam posisi yang undervalue.

Berdasarkan data BI per 18 Februari 2026, rupiah ditutup di level Rp16.880 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,56 persen dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2026.

“Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi dengan pengendalian inflasi 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Perry menjelaskan, pelemahan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurutnya, tekanan yang terjadi saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal dan sentimen pasar jangka pendek.

"Faktor fundamental menunjukkan rupiah mestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat," ucapnya.

Ia memaparkan, indikator fundamental seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi, serta imbal hasil investasi di dalam negeri masih sangat menarik. Dengan kondisi tersebut, BI menilai posisi rupiah saat ini tidak mencerminkan nilai yang seharusnya.

"Pertanyaannya, faktor-faktor teknikal dan premi risiko yang terjadi di global memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar," ucapnya.

Untuk merespons gejolak tersebut, Perry memastikan BI terus mengerahkan intervensi di berbagai lini guna menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan baik di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF) maupun di pasar domestik melalui transaksi spot dan DNDF.

"Kami terus akan memastikan menjaga stabilitas nilai tukar untuk mendukung stabilitas perekonomian kita," katanya.

Selain intervensi langsung, BI juga mengandalkan aliran modal asing untuk menopang rupiah. Instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) terus dioptimalkan untuk menarik investasi portofolio asing.

Upaya tersebut disebut mulai membuahkan hasil. Perry mengungkapkan bahwa selama dua bulan terakhir, investasi portofolio asing terus mencatatkan aliran masuk bersih (net inflow).

"Alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portofolio asing terus masuk, sudah ada net inflow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," ungkapnya.

Dengan berbagai langkah stabilisasi tersebut, Bank Indonesia optimistis ke depan rupiah akan kembali menguat mendekati nilai fundamentalnya.

"Kami dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental," tutur Perry.

Baca juga artikel terkait NILAI TUKAR RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher