tirto.id - Perang terbesar dalam sejarah Islam wajib diketahui setiap muslim di dunia. Pertempuran ini mencerminkan tonggak penting dalam penyebaran ajaran Islam, pembentukan peradaban, dan peneguhan nilai-nilai keimanan.
Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian, tapi bukan berarti menolak peperangan. Dalam Islam, perang diperbolehkan sebagai bentuk pembelaan diri dan menjadi jalan paling akhir untuk mencapai perdamaian apabila cara lain gagal dilakukan.
Tujuan perang dalam Islam pun bermacam-macam. Dalam surah Al-Baqarah ayat 190 dijelaskan bahwa perang boleh dilakukan untuk membela atau mempertahankan diri dari musuh. Begitu pula dalam surah Al-Hajj ayat 39, perang juga diperbolehkan untuk melawan kezaliman.
Masih banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa umat Islam boleh berperang di jalan Allah. Namun, perlu dicatat bahwa perang dalam Islam bukan untuk mencari musuh, menyebar kebencian, atau untuk memaksa orang lain memeluk agama Islam.
Perang lebih dimaksudkan untuk mempertahankan diri, memerangi kezaliman, menghilangkan penganiayaan, sekaligus mempertahankan ketenangan dalam berdakwah Islam.
Selain itu, perang dalam Islam juga tidak boleh dilakukan sembarangan dan wajib mematuhi beberapa aturan atau adab perang. Misalnya, hanya berperang melawan prajurit yang ikut berperang (bukan warga sipil), tidak membunuh wanita dan anak-anak, serta dilarang menghancurkan fasilitas umum.
8 Perang Terbesar dalam Sejarah Islam

Meski sangat dihindari, perang merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah Islam. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan penindasan, umat Islam terpaksa mengangkat senjata demi mempertahankan akidah, kebebasan beribadah, dan keselamatan muslim seutuhnya.
Beberapa pertempuran pun tercatat sebagai perang terbesar dalam sejarah Islam karena dampaknya yang signifikan, berikut beberapa di antaranya:
1. Perang Badar (624 M)
Perang Badar merupakan salah satu pertempuran paling monumental dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijriah (13 Maret 624 M) ketika kaum muslim berusaha mempertahankan diri dari kaum Quraisy yang selalu menekan Islam.Dalam Al-Qur'an, hari terjadinya perang ini disebut sebagai "Yaumul Furqan" yang dapat diartikan sebagai Hari Pemisah, karena pada hari itulah Allah SWT membedakan dengan jelas antara kebenaran yang diwakili oleh kaum muslimin dan kebatilan yang dibawa oleh kaum kafir.
Secara jumlah, pasukan Muslim saat itu hanya terdiri dari 313 orang, sementara pasukan Quraisy berjumlah sekitar 1.000 orang. Ketimpangan kekuatan ini membuat pertempuran tampak mustahil dimenangkan oleh kaum muslimin secara logika militer.
Namun, Rasulullah SAW tidak gentar. Beliau memohon pertolongan Allah SWT, dan doa beliau pun dijawab oleh Allah dengan mengirimkan bala bantuan dari langit, yakni ribuan malaikat yang turut serta dalam pertempuran untuk memperkuat barisan kaum muslimin.
Perang ini dimenangkan oleh kaum muslimin. Sebanyak 70 orang dari pihak musyrikin tewas dan 70 lainnya ditawan. Di antara yang tewas adalah tokoh penting Quraisy sekaligus musuh bebuyutan Rasulullah, yaitu Amr bin Hisham, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Jahal.
Kemenangan ini bukan hanya kemenangan militer, tapi juga kemenangan spiritual yang memperkuat keyakinan umat Islam akan pertolongan Allah bagi mereka yang sabar dan bertakwa.
2. Perang Uhud (625 M)
Sekitar setahun kemudian, setelah kalah di Perang Badar, kaum Quraisy ingin membalas dendam atas kekalahan tersebut. Mereka mengumpulkan pasukan besar yang dilengkapi dengan peralatan perang, dana, dan perlengkapan yang jauh lebih banyak dibandingkan kaum muslimin.Kaum muslim lagi-lagi kalah dari segi jumlah sumber daya. Saat itu kaum muslim yang dipimpin Rasulullah SAW berjumlah sekitar 700 hingga 1.000 prajurit, sedangkan kaum Quraisy di bawah kepemimpinan Abu Sufyan berjumlah sekitar 3.000 orang.
Dalam strategi awal, Rasulullah menempatkan sejumlah pemanah di atas sebuah bukit untuk menjaga bagian belakang pasukan dan melindungi posisi beliau. Para pemanah ini diberikan perintah tegas untuk tidak meninggalkan pos mereka apapun yang terjadi.
Awal pertempuran menunjukkan kemenangan di pihak kaum muslimin. Namun, beberapa pemanah melanggar perintah Rasulullah dan turun dari bukit. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pasukan Quraisy untuk menyerang sehingga berdampak fatal bagi pihak kaum muslimin.
Dalam perang terbesar dalam sejarah Islam ini, kaum muslimin mengalami kekalahan. Adapun hikmah dari Perang Uhud ini adalah ketaatan terhadap pemimpin dan disiplin dalam strategi adalah kunci kemenangan.
3. Perang Khandaq (627 M)
Perang Khandaq, juga disebut sebagai Perang Parit atau Perang Ahzab, merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Perang ini terjadi pada tahun 627 Masehi Atau tahun kelima Hijriah.Perang ini terjadi ketika sekelompok besar koalisi yang terdiri dari suku-suku musyrik Arab dan beberapa suku Yahudi bersekutu untuk menyerang kota Madinah.
Kota Madinah sendiri telah menjadi pusat komunitas muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan para musuh Islam ingin menghancurkan Islam yang tengah tumbuh pesat tersebut.
Menghadapi ancaman besar dengan jumlah musuh yang jauh lebih banyak, kaum muslimin memutuskan untuk menggunakan strategi bertahan yang belum lazim di wilayah Arab kala itu.
Atas saran Salman al-Farisi, seorang sahabat yang berasal dari Persia, mereka menggali parit besar di sekeliling kota Madinah. Strategi ini terbukti sangat efektif karena membuat pasukan musuh kesulitan untuk menyerang langsung ke dalam kota. Parit tersebut menjadi penghalang kuat yang tidak mereka duga sebelumnya.
Dalam masa pengepungan, seorang pendekar terkenal dari pihak musuh, ‘Amr bin ‘Abd Wudd, menantang kaum Muslimin untuk bertarung satu lawan satu. Tantangan ini akhirnya dijawab oleh Ali bin Abi Thalib.
Dengan keberanian dan keterampilannya, Ali berhasil mengalahkan ‘Amr dalam duel tersebut yang kemudian meningkatkan semangat dan kepercayaan diri pasukan Muslim.
Akhirnya, pasukan musuh tidak mampu menembus pertahanan parit dan harus menghadapi cuaca yang semakin buruk. Setelah beberapa waktu yang menegangkan, mereka mundur tanpa meraih kemenangan.
Kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khandaq menunjukkan bahwa kesatuan, kecerdikan strategi, dan keyakinan kepada pertolongan Allah dapat mengalahkan kekuatan yang secara fisik lebih besar. Perang ini pun akhirnya dikenal sebagai “Khandaq” yang juga berarti parit.

4. Perang Mu’tah (629 M)
Perang Mu'tah terjadi pada bulan Jumadil Awal tahun ke-8 Hijriah di dekat desa Mu'tah yang kini terletak di Yordania. Pertempuran ini termasuk perang terbesar dalam sejarah Islam yang mempertemukan pasukan muslim dengan tentara Kekaisaran Bizantium (Romawi).Latar belakang perang ini bermula ketika Nabi Muhammad SAW mengirim utusan, Al-Harith bin Umair Al-Azdi RA, kepada Busra di Suriah untuk menyeru kepada Islam. Namun, Al-Harith RA dicegat dan dibunuh secara kejam oleh Shurahbil bin Amru al-Ghassani, gubernur Al-Balqa dan wakil Kaisar Bizantium.
Pembunuhan utusan ini dianggap sebagai kejahatan serius dan setara dengan deklarasi perang. Menanggapi pembunuhan tersebut, Nabi Muhammad SAW membentuk pasukan muslimin terbesar pada masanya, yakni berjumlah 3.000 tentara.
Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah RA sebagai panglima, dengan instruksi bahwa jika Zaid gugur, komando akan beralih kepada Ja'far bin Abi Thalib RA, dan jika Ja'far gugur, Abdullah bin Rawahah RA yang akan memimpin.
Nabi SAW juga memberikan perintah yang ketat untuk tidak berkhianat, tidak menyakiti selain prajurit perang (bayi, wanita, orang tua, pertapa), tidak menebang pohon, atau menghancurkan rumah.
Saat perang tiba, pasukan muslimin berhadapan dengan pasukan Bizantium yang jauh lebih banyak, yakni sekitar 200.000 tentara. Meskipun kalah jumlah, kaum muslimin tetap bersemangat dan berjuang dengan gagah berani.
Satu per satu panglima perang muslimin gugur hingga akhirnya komando diambil alih oleh Khalid bin Al-Walid RA yang terkenal dengan julukan Pedang Allah. Beliau, yang dikenal sebagai ahli strategi militer, menerapkan taktik cerdik.
Khalid bin Al-Walid berhasil mengelabui musuh, membuat pasukan muslimin terlihat lebih besar saat matahari terbit, seolah-olah bala bantuan baru telah tiba. Hal ini menimbulkan ketakutan dan kekacauan di barisan musuh.
Khalid RA kemudian memerintahkan serangan cepat, memukul mundur pasukan Bizantium hingga musuh pun berhasil dikalahkan.
5. Fathu Makkah (630 M)
Fathu Makkah atau penaklukan kota Makkah merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam yang terjadi pada 20 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah (1 Januari 630 M). Peristiwa ini bermula dari pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah oleh kaum Quraisy.Sekitar dua tahun sebelumnya, kaum Quraisy awalnya telah menyepakati genjatan senjata selama 10 tahun, tapi kemudian membantu Bani Bakr menyerang sekutu umat Islam, yaitu Bani Khuza’ah.
Melihat perjanjian dilanggar, Nabi Muhammad SAW menyiapkan pasukan sekitar 10.000 orang untuk bergerak ke Mekkah, namun beliau tetap menekankan bahwa penaklukan ini harus dilakukan secara damai.
Dalam perjalanan menuju Mekkah, pasukan sempat berhenti dan menerima utusan dari kaum Quraisy yang memohon agar penyerangan dibatalkan. Nabi menolak karena pelanggaran telah jelas terjadi.
Setibanya di Mekkah, Rasulullah SAW memasuki kota dengan kepala tunduk dan penuh rasa syukur. Beliau langsung menuju Ka'bah dan menghancurkan berhala di sana. Meskipun pasukannya datang dengan kekuatan penuh, tidak ada pertumpahan darah besar terjadi.
Penduduk Quraisy ketakutan dan pasrah jika akan dieksekusi. Yang luar biasa, Nabi Muhammad SAW justru menunjukkan kemurahan hatinya.
Beliau mengumumkan bahwa siapa pun yang masuk Masjidil Haram, rumah Abu Sufyan, atau tinggal di rumahnya sendiri dengan menutup pintu akan mendapat jaminan keamanan.
Nabi Muhammad SAW telah memilih jalan pengampunan dan pembebasan. Peristiwa Fathu Makkah pun mencatat kemenangan besar Islam tanpa peperangan berdarah.
6. Perang Hunain (Tahun 630 M)
Perang terbesar dalam sejarah Islam berikutnya adalah Perang Hunain adalah yang terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah, tepat setelah penaklukan Mekkah. Pertempuran ini melibatkan pasukan Muslimin dan gabungan suku Hawazin dan Tsaqif.Setelah kemenangan di Mekkah, sebagian pasukan muslimin merasakan euforia dan rasa percaya diri yang berlebihan karena jumlah mereka yang mencapai 12.000 orang, angka terbesar yang pernah dikerahkan muslimin saat itu.
Perasaan bangga akan jumlah ini membuat sebagian dari mereka lupa akan pentingnya tawakal (berserah diri sepenuhnya kepada Allah) dan hanya mengandalkan kekuatan materi.
Sementara itu, suku Hawazin dan Tsaqif, yang terkenal dengan keahlian memanah, telah mempersiapkan penyergapan yang cerdik di Lembah Hunain. Mereka membawa serta wanita, anak-anak, dan harta benda mereka, menunjukkan tekad untuk bertempur habis-habisan.
Pada awalnya, pasukan muslimin yang maju lebih dulu terkejut dan kocar-kacir akibat serangan mendadak panah-panah dari musuh yang bersembunyi di lembah. Banyak di antara mereka yang melarikan diri, menyisakan sedikit sahabat yang setia bersama Nabi Muhammad SAW.
Momen kritis ini menjadi ujian berat bagi keimanan dan kesabaran kaum muslimin. Namun, Nabi Muhammad SAW dengan keteguhan hati memanggil kembali pasukannya, yang kemudian berhasil berkumpul kembali berkat seruan dari Abbas bin Abdul Muthalib RA.
Dengan pertolongan Allah, pasukan kaum muslimin yang telah membenahi niat dan kembali bertawakal berhasil membalikkan keadaan dan meraih kemenangan.
Perang ini pun memberikan pelajaran berharga bahwa kemenangan sejati tidak hanya bergantung pada jumlah atau kekuatan fisik, melainkan pada keimanan yang kokoh, kesabaran, dan tawakal kepada Allah SWT.

7. Perang Thaif (630 M)
Perang Thaif terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah, tak lama setelah kekalahan suku Tsaqif dan Hawazin dalam Perang Hunain. Setelah kekalahan tersebut, mereka mencari perlindungan di kota Thaif yang terkenal dengan bentengnya yang kokoh.Nabi Muhammad SAW kemudian memutuskan untuk berbaris menuju Thaif untuk menghadapi mereka, dengan Khalid bin Walid memimpin pasukan Muslimin.
Kota Thaif sendiri memiliki tembok dan benteng yang sangat kuat, dan penduduknya telah menyimpan persediaan yang cukup untuk bertahan selama setahun penuh, menunjukkan kesiapan mereka untuk bertahan dari pengepungan.
Selama pengepungan, pasukan Tsaqif melancarkan serangan panah dan tombak dari dalam benteng, menyebabkan banyak korban di pihak muslimin, termasuk Abdullah bin Abi Bakar ash-Shiddiq.
Menyadari bahaya tersebut, Nabi Muhammad SAW kemudian memindahkan kemah muslimin menjauh dari garis pertahanan langsung. Untuk mencoba menembus benteng, mesin-mesin pengepungan (mangonel) dibuat untuk melemparkan batu, dan perisai kayu dibuat untuk perlindungan.
Meskipun sebagian benteng berhasil ditembus, pasukan Tsaqif membalas dengan melontarkan pasak besi yang terbakar, memaksa kaum muslimin untuk mundur.
Setelah kegagalan menembus benteng, Nabi SAW memerintahkan pembakaran kebun dan pepohonan di sekitarnya. Tindakan ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memaksa kaum Tsaqif keluar dan bertempur secara terbuka.
Namun, Tsaqif memohon agar tanaman mereka tidak dibakar, dan Nabi SAW menunjukkan belas kasihan sehingga membiarkannya utuh. Pada akhirnya, Nabi SAW memutuskan untuk menghentikan pengepungan.
8. Perang Yarmuk (636 M)
Perang Yarmuk juga termasuk salah satu perang terbesar dalam sejarah Islam yang terjadi sekitar tahun 636 M setelah Rasulullah SAW wafat. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang diangkat menjadi khalifah kemudian melakukan ekspansi, salah satunya ke negeri Syam (Yordania, Palestina, Suriah).Perang Yarmuk ini melibatkan pasukan muslimin yang berjumlah sekitar 36.000 orang melawan Kekaisaran Bizantium dengan kekuatan fantastis mencapai 240.000 tentara.
Pasukan muslimin, meskipun kalah jauh dalam jumlah, memiliki keunggulan dalam semangat juang yang tinggi dan kepemimpinan militer yang brilian. Khalid bin Walid, sang ahli strategi ulung yang dijuluki "Pedang Allah" memainkan peran krusial dalam mengatur taktik perang.
Dalam Perang Yarmuk, Khalid merancang strategi brilian dengan membagi 36.000 pasukan menjadi beberapa kelompok sayap dan unit-unit kecil. Tujuannya adalah untuk mengecoh dan memecah formasi Romawi yang terdiri dari pasukan infanteri dan kavaleri.
Awalnya, pasukan muslim hanya bertahan dan berpura-pura lemah agar Romawi lengah, lalu menyerang habis-habisan saat musuh dalam kondisi tidak siap. Strategi ini terbukti efektif dan membuat pasukan Romawi kewalahan.
Menariknya, di tengah pertempuran, jenderal Romawi bernama Mahan sempat mendatangi Khalid. Mahan mencoba menyogok pasukan muslim agar berhenti bertempur, tapi Khalid menolak dengan tegas dan menunjukkan bahwa tujuan mereka bukan dunia, tapi jihad dan keimanan.
Sementara itu, panglima Romawi bernama Georgia justru penasaran dengan keyakinan Khalid. Setelah terjadi dialog dengan Khalid, Georgia akhirnya masuk Islam, ikut dalam barisan kaum muslimin, dan syahid dalam perang keesokan harinya. Perang Yarmuk berakhir dengan kemenangan besar bagi kaum muslimin.
Perang ini menewaskan lebih dari 120.000 pasukan Romawi dengan kehilangan hanya sekitar 3.000 pasukan muslim. Perang ini menjadi bukti bahwa kemenangan Islam bukan karena jumlah, tetapi karena keimanan, strategi, dan persatuan para sahabat Nabi.
Itulah beberapa perang terbesar dalam sejarah Islam. Perang ini tidak hanya mencerminkan kekuatan militer, tapi juga menunjukkan keteguhan iman, kebijaksanaan, strategi, dan akhlak mulia para pemimpinnya.
Setiap pertempuran menyimpan pelajaran penting, terutama tentang sikap tawakal kepada Allah SWT dalam menghadapi tantangan besar. Dengan memahami sejarah ini, umat Islam masa kini diharapkan bisa mendapatkan inspirasi untuk terus memperjuangkan kebenaran dan menjaga nilai-nilai luhur Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id




































